Tuesday, May 15, 2012

Backpacker Hongkong-Macau-Shenzhen 3

Day 1 : Perjalanan Sby-KL-Shenzhen-HK
Day 2 : Hongkong
Day 3 : Macau - Hongkong
Day 4 : Hongkong - Shenzhen
Day 5 : Shenzhen
Day 6 : Perjalanan Shenzhen - KL - Surabaya

Day 3 (Macau)
Pagi ini kembali kami menyiapkan diri untuk melintasi perbatasan HK - Macau di Hongkong China ferry terminal.
Jika ingin menyeberang ke Macau dari Hongkong ada 2 pelabuhan yg bisa kita lalui.
1. Di sisi Kowloon. Nama pelabuhannya : Hongkong China Ferry Terminal
Biasanya juga di sebut rute Kowloon - Macau
2. Di sisi Hongkong Island. Nama pelabuhannya : Hongkong Macau Ferry Terminal.
Biasanya juga di sebut rute Hongkong - Macau

Guesthouse kami Cosmic berada di Kowloon dan pelabuhan dapat kita tempuh dengan jalan kaki santai sembari menikmati udara pagi Hongkong kira2 10-15 menit. Kami berjalan menyusuri Kowloon Park yg terlihat sangat rindang dan juga kicau burung dpt kami dengar bersahutan di tengah2 megahnya gedung yg mengitarinya. Sesampai di terminal pelabuhan yg bersih dan megah, kami memilih jasa ferry Turbojet (berwarna merah). Kami membeli tiket kelas economy untuk pukul 7a.m. seharga HK$ 151.
 Ferry Turbojet ini melayani pelayaran ke Macau selama 24 jam, tapi jika Anda berlayar pada jam malam (night sailing) mereka harga yang di berikan juga lebih mahal. Untuk layanan Day sailing (pagi - sore) terdapat tiap setengah jam. Jadwal lengkap dan harga Ferry Hongkong-Macau bisa di cek di sini.
Layanan ini dapat di beli online melalui Online Ticketing Service tapi dengan resiko, jika Anda tidak bisa sampai tepat pada waktunya di pelabuhan maka tiket Anda akan hangus. Tidak ada refund atau pergantian jam.
Hati2 jika Anda pergi pada saat peak season atau peak hour (banyak orang Hongkong yg bekerja juga di Macau jadi mereka pulang pergi) Beri jarak waktu kurang lebih 30 menit sebelum keberangkatan Anda sudah memiliki tiket karena masih ada prosedur dan antrian Imigrasi yg harus di lewati.  
Tips : Jika ingin menikmati pemandangan dekat jendela, kita juga bisa meminta pada petugas yg menempelkan stiker nomor tempat duduk kita ketika kita akan memasuki ruang tunggu pemberangkatan. 
Pukul 7 kami meninggalkan pelabuhan dan menuju ke Macau yg dapat di tempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Dari kejauhan kita dapat melihat jembatan megah yg menandakan kita sudah akan merapat dan tiba di Outer Harbour Macau. Yeahh....satu lagi negara yg telah ku tapak. hihihi...

Setelah menyelesaikan prosedur imigrasi masuk ke Macau, kami mencari pusat informasi dan peta. Tapi sayang masih tutup dan tidak ada free map yg bisa ditemui. Ok dah, saya masih punya 1 peta lama jadi no problem deh pikir saya.

Macau Map
source : onlinechinatours
Taipa & Coloane Map (Macau)
source : chinatouristmap
Wilayah Macau terbagi menjadi 4 bagian : Macau, Taipa, Cotai, Coloane. Secara garis besar tourist area banyak terdapat di bagian Macau. Airport Macau, hotel2 besar serta casino dan golf club banyak terdapat di daerah Taipa/Cotai. Kemudian kehidupan dan budaya masyarakat Macau sehari2 banyak ditemukan di Coloane.

Karena keterbatasan waktu kami hanya explore daerah Macau. Tujuan pertama kami sangatlah dekat, tinggal kami ikuti arah volcano buatan yg nampak jelas terlihat dari Macau Outer Harbour ini maka kami akan tiba disebuah theme park bernama Fisherman's Wharf. 

Karena tujuan kami hanya ingin berfoto maka sangat tepat kami tiba sebelum wahana ini di buka. Disini kita bisa mengagumi tiruan keajaiban dunia pertengahan : Colloseum, Italy - Roma. Sejenak kita akan merasa berada di Roma dan di kelilingi oleh arsitektur2 khas Roma.


Salah satu keunikan Macau adalah begitu banyaknya shuttle bus dari hotel2 berbintang yang tersebar di Macau tanpa biaya alias FREE. Perwakilan dari hotel2 ini telah siap di luar terminal untuk menjaring tamu2 menginap di hotel mereka ataupun hanya sekedar bermain di casino2 yg mereka sediakan. Jadi kami kembali berjalan ke Outer Harbour dan mencoba memanfaatkan shuttle bus Hotel Grand Lisboa (berwarna hijau)
Arsitektur luar biasa dari Grand Lisboa Hotel

Keluar dari lobby Grand Lisboa, kami berjalan ke arah kanan sekitar 2-3 blok dan kami menemukan kawasan icon dan bangunan2 bersejarah khas Portuegese yg dikenal sebagai Senado Square. 
Senado Square
Barisan toko2 makanan dan souvenir

Jalanan paving bergelombang di kawasan ini juga di desain oleh seorang ahli dari Portuegese yang pernah menjajah Macau. Akhirnya kami menukar uang dengan mata uang Macau - Patacca blok pertama kawasan ini .
World Heritage : Igereja De S. Domingos
Berdiri sejak tahun 1587 dan masih di gunakan sampai saat ini 

Mengikuti jalanan berpaving ini kami dimanjakan oleh banyaknya jajanan dan tempat berbelanja. Banyak tenant2 ternama seperti Giordano juga membuka toko di jalanan penuh wisatawan ini. Satu hal yg must try di sini : Portuegese Eggtart! Oh..1, 2 or 3 is never enough for me...sayang nya tidak bisa di bawa pulang. :(
Koi Kei Egg Tart! One is never enough!
Terus kami mengikuti arus menuju ke gang2 yg lebih kecil tapi sarat toko souvenir, penjaja dendeng yg menawarkan tester, penjaja almond cookies, baju, dll. Aroma makanan begitu kental di jalanan ini mengundang selera. Ada lagi makanan khas Macau yg harus di coba : Pork Chop burger, salah satu yg terkenal bernama Tai lei loi Kei 

Dibarengi terik matahari yg menyengat kami terus berjalan menuju ke Ruins of St. Paul's (Ruinas de S.Paulo) yg letaknya cukup tinggi sehingga kita bisa melihat sedikit pemandangan kota Macau.
Reruntuhan gereja MaterDei ini di bangun pada tahun 1602-1640 dan kemudian terbakar pada 1835. Sekarang 1 sisi gereja yg tersisa itu menjadi sebuah icon penting Macau.
Ruinas de S.Paulo
Puas menyaksikan pusat kota sarat sejarah ini, kami membeli sedikit oleh2 di Pastelaria Koi Kei. Toko oleh2 cemilan khas Macau yg berada di kanan jalan ke arah St.Paul dan cukup dekat.
Koi Kei, seperti toko2 lain nya, mereka menyediakan berbagai macam tester.
Beruntung sekali hujan tiba ketika kami sudah selesai menikmati Senado Square dan sekitarnya. Karena kondisi yg tidak memungkinkan kami mencari Macau Inner Harbour (tourist information di St Paul jg kurang paham tentang Inner Harbour yg mgkn tidak terlalu banyak di pakai oleh wisatawan), dimana kita juga bisa menemukan free shuttle bus lagi maka kami memutuskan naik taxi kembali ke Outer Harbour. Taxi disana juga tidak mahal ternyata. Dari St Paul sampai outer harbour argo menunjukkan 25 PTC.

Setiba di outer harbour, kami berpindah naik ke The Venetian shuttle bus. Hotel ini dapat di jangkau dalam waktu kurang lbh 15 menit melalui Friendship Bridge. The Venetian adalah sebuah komplek hotel, entertainment, dan casino.
Kami hanya mengekplorasi pusat perbelanjaannya yang di bangun menyerupai kota Venice dengan San Luca Canal di tengah2. Wisatawan yg ingin merasakan naik gondola dengan nahkoda yg di dandani persis dinegara asalnya bisa membeli tiket di port gondola itu. Para nahkoda ini adalah orang2 yg sudah di didik dengan profesional dan mereka juga bertugas menghibur tamunya dengan bernyanyi dalam bahasa Italian.

Ada 1 tempat yg tidak kami lewatkan Lord's Stow Eggtart (unit 2119a, level 3, Marcopolo district, the grand canal). Usaha bakery ini sudah berdiri sejak 1980 dan sekarang terkenal akan 1 jenis eggtartnya yang t.o.p. !
Have I told you that Macau-Portueges Eggtart is  PERFECTO?
Yeah I diiidd!! I'm sorry but I can't help to say it once again hihihi...
Kami tidak begitu mengerti aturan casino dan juga taruhan awal yg di tetapkan juga cukup tinggi bagi kantong kami. Jadi kami hanya lewat dan melihat2 penuhnya casino itu walau ini bukan weekend. Casino ini tidak terlalu ketat peraturan berpakaiannya, tidak seperti casino di Genting yg pernah saya kunjungi.
Puas tengok kiri kanan,kami segera kembali ke outer harbour naik free shuttle bus lagi.
Sebenarnya Macau juga akan sangat hidup dengan lampu2 yg megah di malam hari. Jadi untuk menikmati Macau dengan lengkap saya sarankan setidaknya 2 hari 1 malam di Macau.
Saya membeli tiket kembali ke Hongkong dengan Turbojet lagi, tapi kali ini saya tidak kembali ke Kowloon (TST) melainkan menuju Hongkong Macau Ferry Terminal di Hongkong Island. Untuk kelas economy tiketnya seharga PTC 140 untuk pemberangkatan pukul 5:45 pm dan waktu yg ditempuh juga kurang lebih 1 jam.

(Hongkong Island)
Tujuan kami berikutnya adalah naik ke The Peak. Setiba di Ferry Terminal kami mencari MTR Sheung Wan station dan turun 1 stop berikutnya di Central station. Dari sini kami mencari Star Ferry Terminal (ini adalah terminal ferry yg menghubungkan bbrp tempat lokal di Hongkong). Kami jadikan clock tower di terminal itu sebagai panduan arah kami karena di bawah clock tower itu lah Terminal 8 berada. Di terminal ini kita naik bus nomor 15 C dengan atap terbuka untuk menuju The Peak tram terminus. Perjalanan hanya memakan waktu tidak lebih dari 10 menit.

Karena kami sudah memiliki tiket tram yg di beli di Goldencrown pada hari kedua, maka kami langsung masuk ke antrian naik tram. Perjalanan 7 menit dengan tram yang memakai rel dengan kemiringan sekitar 45 derajat sungguh mendebarkan. Tram ini tempat duduknya hanya tertuju pada 1 arah, kalo tidak 1 arah kita bakal terjun bebas dah :p
Duduklah di sisi kanan jika memungkinkan, sehingga bisa melihat sedikit pemandangan kota Hongkong.
Setiba di atas, kita akan langsung di sambut oleh beberapa toko2 souvenir yg harganya cukup ok lah. Lalu kemudian kami ketemuan dulu dengan artis2 kondang di Madame Tussaud karena sudah mendekati jam tutup museum.
Artis dan tokoh2 terkenal dunia di Madame Tussaud

Madame Tussaud adalah seorang art tutor dari saudara perempuan King Louis XVI dan kemudian merintis berdirinya museum patung lilin (wax) yg pertama kali dibuka pada sekitar 200 tahun lalu!! Di museum ini kita bisa berfoto langsung bersama tokoh2 dan artis dunia. Jadi puas2in aja berfoto dengan idolamu.
Madame Tussaud opening hours : 9.45 am to 10 pm
Harga tiket : Lihat disini
Keluar dari sana, kami menuju Sky Terrace. Sebuah rooftop area yang berada di lantai 5 dan hanya bisa kita raih melalui eskalator. Dan ini lah apa yg dapat kita lihat sesampainya di atas :
Hongkong - City of Lights
Kami tidak berlama2, karena awan hujan sudah bergulung mendekat. Kami segera kembali ke area hotel di Tsim Sa Tsui, karena sudah terlalu capek untuk mencari makanan local di tengah malam akhirnya kami memutuskan makan di Burger King (2 blok dari GH kami) lalu pulang dan beristirahat dan packing karena esok kami meninggalkan Hongkong. 

Menuju Shenzhen di hari ke 4

Monday, May 14, 2012

Backpacker Hongkong-Macau-Shenzhen 2

Day 1 : Perjalanan Sby-KL-Shenzhen-HK
Day 2 : Hongkong
Day 3 : Macau - Hongkong
Day 4 : Hongkong - Shenzhen
Day 5 : Shenzhen
Day 6 : Perjalanan Shenzhen - KL - Surabaya

Note : waktu di Hongkong adalah 1 jam lebih cepat dari WIB jadi sama dengan WITA Hahaha, ada kesalahan teknis pada jam weker kami sehingga kami sedikit terlambat bangun. :p Jadi  kami baru meninggalkan Cosmic Guest House pukul 8.00.

Berjalan sedikit saja ke arah kanan setelah keluar dari Mirrador Mansion, tujuan pertama kita adalah gedung yg persis ada disebelah Standard Chartered Bank. Namanya Golden Crown Court dan langsung saja kita naik ke lantai 5 dimana office Golden Crown Guest House berada. (Office hours :8a.m)
Tujuan kami kesana adalah untuk membeli tiket Ngong Ping cable car, The Peak tram dan juga madame tussaud serta sky terrace karena Cosmic tidak menjual tiket2 tersebut.

Kenapa kok di Golden Crown belinya?

Original price Standard Cabin Ngong Ping round trip : 125 HKD
Discounted price di Golden                                          :    95 HKD



Original price round trip 
The Peak Tram+Madame Tussaud+Sky Terrace   : 235 HKD

Discounted price di Golden                                    : 190 HKD 

Setelah selesai bertransaksi kami segera kembali ke MTR TST pintu D1 dan menuju ke MTR Jordan exit B1.What we're looking for is Hongkong local famous breakfast menu : Congee. One of the best and original taste can be found here : Nathan Congee & Noodle. 11, Saigon St. Kowloon. (right on the opposite of Novotel Hotel)
Delicious Congee 

Tujuan berikutnya adalah MTR Tung Chung yg kami tempuh kurang lebih 40 menit. Keluar dari Tung Chung station exit B kita akan melihat sebuah mall Citygate Outlet dan di belakang mall tersebut kita bisa cable car terminus. Kita juga bisa naik bus nomor 23 yg ada di bus terminus dibelakang Citygate, tapi kami memilih mencoba cara yg lebih menantang, yaitu perjalanan 25 menit dengan cable car. 
Membeli tiket sebelumnya adalah pilihan yg sangat tepat, antri untuk membeli tiket sangat2 panjang walau ini hari Senin.Sungguh beruntung karena kami langsung maju menukarkan voucher yg kami beli dr Goldencrown di loket khusus lalu segera masuk antrian naik cable car yg juga cukup panjang.
Pemandangan menakjubkan dr atas cable car

The Giant Budha di Ngong Ping village dari ketinggian cable car

Opening Hours : 10:00 - 18:00 weekdays
                          09:00 - 18:30 weekends & public holiday
(please check the official site, cable car service is closed for a scheduled maintenance.)
Tips : tempat wisata ini adalah jenis outdoor. Siapkan topi, payung, sunblock dan juga mosquito repellent ( untuk yg mau jalan melewati hutan ke Wisdom Path ). Di bulan Mei ini curah hujan juga mulai banyak. Siapkan payung/ jas hujan.
Ngong Ping village adalah sebuah desa buatan di Lantau Island yg di tata apik dan bersih. Tempat yg bisa kita kunjungi secara free: 

Tian Tan Budha / The giant Budha
The 34 metres high statue cost HKD 60 million forged using bronze and gold. 

Wisdom Path (walk about 15-20 minutes in a forest from Giant Budha)
A series of 38 wooden steles containing verses from the famous Buddhist text the Heart Sutra. Memang sedikit jauh masuk ke hutan tapi tempat ini patut di kunjungi.
Po Lin Monastery, many market n souvenir shop, and also local and international food to enjoy...

Ada juga attraction yg berbayar : Walking with Budha (36 HKD) dan Monkey's Tale Theatre (36 HKD)
Puas mengambil foto dan makan di atas, kami turun kembali ke Citygate Outlet , pusat outlet dari tenant2 ternama. Di sini kita bisa temukan berbagai barang terutama fashion dengan harga miring hingga 70% dari merk2 seperti : Esprit, Giordano, Puma, Adidas, Guess,Polo dst. Harga miring karena biasanya barang2 mrk ini adalah yg sudah atau baru lewat musimnya. Jadi buruan...borong deeh mumpung diskon diskon diskonnn! hahaha...

Belum puas kami melihat barang2 murah tapi kami harus segera menuju Victoria Harbour untuk melihat pertunjukan Symphony of Lights yang dimulai tiap jam 8p.m. setiap harinya selama sekitar 15 menit. Sebuah pertunjukan laser dan permainan lampu dari gedung2 yang berpartisipasi yang disertai narasi dan music dapat kita dengarkan di sepanjang harbour. Jika ingin mendapatkan tempat yg strategis datanglah lebih pagi. Beruntung lah kami bahwa cuaca masih cukup cerah untuk menikmati acara gratis ini. 


Pemandangan di Victoria Harbour dengan lampu2 gedung yg berwarna warni memang menakjubkan, rasanya bisa berlama2 memandanginya. Sayang menurut saya laser show symphony of lights nya kurang "Wah" jadi mungkin jika tidak berkesempatan hadir pukul 8 di sana juga tidak terlalu sayang melewatkannya. 
Jika ingin mengabadikan gemerlapnya pemandangan Victoria Harbour dengan sempurna, bawalah tripod.
 Agenda kami berikutnya adalah bertemu dengan selebritis2 seperti Jackie Chan, Jet Li, Andy Lau, Li Ching Sia, dkk di Avenue of Star. Kita tinggal berjalan saja menyusuri victoria harbour setelah melihat pertunjukan symphony dan kita bisa melihat cetakan telapak tangan dari bintang2 kenamaan Hongkong di sepanjang jalan yg kita lewati.
Tempat ini akan lbh bagus di kunjungi di pagi hingga sore hari ketika masih ada matahari
Malam sudah menjelang, tapi Hongkong masih penuh dengan orang beraktivitas. Kami menuju Ladies Market dengan menggunakan MTR Mongkok dan exit di pintu D2.

Kawasan ini sangat hidup dan terang walau jam sudah menunjukkan sekitar pukul 10:30 pm. Setelah dinner, kami menyusuri market yg menjual aneka barang dan suvenir di sepanjang jalan. Keahlian menawar di sini sangat di andalkan, jika tidak bisa berbahasa mandarin mereka juga sudah terbiasa dengan bahasa "kalkulator" hahaha.
Menawar biasanya di mulai dari 70 - 50 %. Kita mungkin akan merasa sungkan dan juga akan menuai omelan atau lirikan marah, tapi itu sudah biasa terjadi disana. Jangan di ambil hati dan jangan ikutan marah2 ya ;)
Ternyata pukul 23:00 mereka mulai bersiap2 meringkas barang mereka kembali ke kotak dan membersihkan jalanan dari lapak2 mereka. Kaki kami juga sudah cukup penat, jadi kami mulai bergerak pelan kembali ke MTR station dan pulang ke penginapan kami.

Sampai jumpa di hari ke 3 di Macau !

Sunday, May 13, 2012

Backpacker Hongkong-Macau-Shenzhen 1

Day 1 : Perjalanan Sby-KL-Shenzhen-HK
Day 2 : Hongkong
Day 3 : Macau - Hongkong
Day 4 : Hongkong - Shenzhen
Day 5 : Shenzhen
Day 6 : Perjalanan Shenzhen - KL - Surabaya

Jalan hemat kali ini berawal dari promo tiket murah yang di adakan oleh AirAsia. Setelah berburu tiket murah pada September 2011, akhirnya kami terbang juga pada Mei 2012. Tiket yang saya beli adalah
SBY-KL,KL-SBY seharga Rp 510.000,-  include baggage
KL-SZX, SZX-KL seharga 440 MYR include baggage
Harga tiket cukup berpengaruh pada budget travelling kita, belilah tiket promo jauh2 hari

Penerbangan dari Sby ke KL (lama perjalanan 2:35menit) setelah transit kami berangkat lagi menuju Bao'An International airport Shenzhen (4:05). Setelah tiba di Bao'An yg ternyata cukup kecil International Terminalnya kita harus keluar dulu ke arah kanan Terminal Domestik dan mengikuti tanda arah ke Metro, kita naiki overpass ke arah seberang terminal tersebut. Sayang sekali minim peta di bandara ini, sesampai di Metro Station pun kami tidak menemukan peta Shenzhen maupun peta Metro dalam bahasa Inggris. Walau begitu peta2 besar di station dan di mesin2 penjual token Metro sudah cukup jelas dan menyajikan bahasa Inggris.

Metro di Shenzhen ini menggunakan token yg bisa di beli di mesin2 pada tiap station. Mesin ini hanya menerima uang kertas 5 RMB atau coin 1 RMB (Jika tidak punya bisa tukar duit di Customer Service yg ada pada tiap station) Di ujung kanan bawah pada layar kita bisa memilih versi Inggris (tapi layar hanya akan bertahan selama mungkin 10 detik) jadi lbh baik Anda lihat dulu station tujuan Anda kira2 di mana pada peta besar di dinding2 station.

Langkah 1 : Klik station tujuan kita (mesin ini menggunakan sistem touch screen).
Langkah 2 : Masukkan jumlah orang (1 token untuk 1 orang)
Langkah 3 : Bayar sesuai jumlah total yang tertera pada layar
Langkah 4 : Ambil token dan kembalian pada lubang di bawah mesin tersebut
Langkah 5 : Sentuhkan token pada bagian scanner di mesin gate masuk ke jalur train
Langkah 6 : Masukkan token pada lubang yg tersedia di atas mesin gate keluar


Untuk ke menuju Hongkong, kita gunakan jalur berwarna hijau tujuan Luohu - 9 RMB (station terakhir, pasti ga nyasar deh :p ) Diatas pintu2 Metro juga ada peta jalur yg dilewatinya dengan bahasa Inggris kok.

Shenzhen Metro Map
Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam. Sesampai di Luohu, bersiap2 untuk prosedur Imigrasi keluar dari Shenzhen lagi dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Imigrasi Hongkong dengan melewati pusat perbelanjaan.

Setelah melewati imigrasi Hongkong kita bisa langsung melanjutkan perjalanan dengan MTR dari station LoWu ke berbagai wilayah Hongkong.
Jika akan berada beberapa hari di Hongkong dan memiliki banyak tempat yg ingin dituju lebih baik membeli Octopus Card seharga 150 RMB (50 adalah deposit yg bisa di ambil ktk kita kembalikan kartunya). Octopus card ini bisa di gunakan untuk hampir semua moda transportasi di HK dan beberapa merchant spt 7eleven jg menerimanya.

Kami melanjutkan ke station MTR Tsim Sha Tsui - 34.8 HKD (kurang lebih 1 jam lagi) dimana penginapan kami COSMIC guest house berada. GH ini sangat dekat letaknya dengan exit D1 TST. Begitu keluar, belok kiri beberapa langkah sudah sampai di Mirrador Mansion dan naik ke lantai 12 blok F. (Di Mansion ini banyak sekali GH yg disewakan)
Nice and clean Guest House - Cosmic
Guesthouse ini khas apartment Hongkong yang mini2, tapi kebersihan di Cosmic ini cukup terjaga. Sang reception yg bisa di bilang sudah ibu2 juga cukup ramah, salah satunya juga bisa berbahasa Indonesia. Dari mereka juga kami mendapat bbrp informasi tentang tempat makan di seputaran GH yg masih buka di tengah malam.

Sehabis meletakkan barang2, kami sedikit berkeliling mencari makan. Di sekitar sana masih ada resto besar yg buka dan ramai, ada juga Mc Donald yg buka 24 jam, serta 7eleven jg tidak jauh. O iya, 1-2 blok ke arah kanan dr Cosmic juga ada Hui Lau San yg katanya spesialis dalam menjual aneka dessert dari mangga. kami mampir tapi mrk sudah mau tutup padahal bau mangga yg keras menyambut begitu kita masuk ke tempat makan ini sangat menggiurkan.

Lumayan menguras tenaga hari pertama ini. Tapi untuk first timer kami sangat senang akhirnya bisa tiba di tujuan kami.
Dari pengalaman kami ini, kami menyimpulkan akan lbh baik jika kita mengambil jalur Surabaya - Hongkong via Kuala Lumpur baru pulangnya dari Shenzhen - Surabaya via Kuala Lumpur jika bersama AirAsia. 
Ijin visa juga akan lbh murah karena hanya 1 kali masuk Shenzhen. Sedang Hongkong dan Macau tidak memerlukan visa.
See you on the 2nd day !

Tuesday, May 17, 2011

The capital city of Majapahit Empire - Trowulan

Majapahit was a big and powerful kingdom that reached its peak of glory during the Hayam Wuruk era (1350-1389). In summary, Majapahit was the largest empire ever to form in southeast asia.

Many archaeologist doing a research about this archeological heritage. First research noted was in 1815 and published in a book "History of Java" on 1817 by Wardenaar.

Through many research, its believed that Trowulan is the heart of Majapahit. That's why many researcher doing an excavation in Trowulan-Mojokerto area and they found many temple, statue, and former civilization. Too bad, some of the excavation was stopped due to the restoration cost.

Today, Buddhist will held a Vesak Festival and pray together at Brahu Temple. I'm not wasting this opportunity and hit the road to Trowulan-Mojokerto from Surabaya. It takes about 2 hours and we arrive at a Bejijong village. There are so many temple and excavation site around this village so we decided to visit the Trowulan Museum first. Too bad this museum is closed during a holiday (I think they really need to open the museum because tourist will come in a holiday!)
Click here if you need a cheap and nice hotel in Surabaya.
With a raw map we have from internet and a little suggestion from the museum security, we are trying to exploring the area nearby before attending the Buddhist festival at Brahu Temple.
We need to prepare some money,its all up to you ( small change around Rp 5.000-Rp 10.000,-) and give it to the security in the entry gate then we fill the guest book.
1. Kedaton Temple
This site restoration haven't finish yet and still remain as a mystery. The archeolog haven't find the form of this site. The legend said in this area also has a poisoned well and also underground maze that connect to the royal family of Majapahit Empire's place, to escape from enemy, or something like that. That's why they spread a rumour that the well is poisoned so no one wants to go near the well.



It's great to seen this past legacy and be on it!

2. Bajang Ratu gate
It's an elegant gate to a place where the archaeologist believe this gate actually was a backdoor but then used as an entry gate to a sacred place to commemorate the death of Majapahit king Jayanegara. 

3. Mouse Temple
Not far from Bajang Ratu we can find Mouse Temple, yes local people named it "tikus" /mouse because it was a mouse's nest when its found. The archaeologist do a full restoration in 1984 to 1985 and still  they can't find any detail about the function of this temple or who built it. They estimate this "Candi Tikus" was built around 13 century. And from the form of this temple that similar to Mahameru Mountain in India, some of the archaeologist believe its a place where the royal family of Majapahit take a bath and the water coming from this wellspring is sacred and bring prosperous, healthy and people ageless.


4. The Sleeping Budha Statue
He's not actually sleep, his position is a sign that he already reach heaven. This statue stay at the 3rd place for the biggest sleeping Budha in Asia after Thailand and Nepal. Its length is 22 meters, width 6 meters, and height 4.5meters. Its build inside the Maha Vihara Majapahit monastery. And today many tourist and Buddhist people come to this place to celebrate Vesak Day (celebrate in a full moon).  The committee of this festival has prepare many attraction such as Barongsay(chinese lion dance), reog, Indonesian traditional dance and many more. Then, they will walk for about 1 km from the monastery to the Brahu Temple.

5. Brahu Temple
This Buddhist temple was the biggest temple in this area. Based on Mpu Sendok inscription, its said that Brahu Temple was a sacred crematorium for the king of Majapahit : Brawijaya I,II,III,IV. In this place the Buddhist do a meditation and pray for the Vesak ritual.

Mystichal appearance
The raindrops stop and full moon suddenly appears after Buddhist people pray and meditate 
We're very glad that in this era, we can still be a witness to these old century heritage.

Saturday, May 15, 2010

Mangrove forest- Wonorejo,Surabaya

Tak banyak yang tahu kalau Surabaya punya tempat tujuan wisata alam yg terbilang cukup baru. Awalnya kawasan ini sudah rusak dan tak terjamah. Lalu menurut cerita masyarakat setempat ada seseorang yg mulai menggalakkan penanaman dan pemeliharaan kembali bibit mangrove di kawasan ini. Kemudian dia mengajak dan mempekerjakan masyarakat setempat untuk memelihara dan mengembangkannya. Perjuangannya tak sia2, beberapa perusahaan kemudian ikut memberikan sumbangan pembibitan. Selanjutnya Pemkot Surabaya juga akhirnya melirik potensi kawasan ini dan menetapkannya sebagai ekowisata.

How to get there :
Dari MERR II C - lewati pintu masuk STIKOM- terus lurus saja mengikuti jalan sampai ada papan petunjuk   wisata mangrove dan belok ke kanan. Sayangnya jalanan setelah belok ini jauh dari kata rata. Jalanan tanah ini akan susah di lalui ketika musim hujan karena akan menjadi becek.

Setelah sampai di tempat parkir, kita kemudian menunggu perahu boat yang akan membawa kita ke pos pantau di tengah2 lautan. Tiket perahunya seharga rp 25.000,-

Setelah berangkat, kita akan melewati hijaunya mangrove di kiri kanan kita selama kurang lebih 15 menit.

Kemudian perahu akan meninggalkan kita di area pos pantau.Selanjutnya kita akan berjalan kaki sekitar 5 menit melewati jembatan bambu. Sesaat kita akan melupakan bahwa kita hanya terpisah kurang dari 30 menit dari kota metropolitan ketika kita menikmati kicauan burung2, hijaunya mangrove dan birunya langit.

Di pos pantau ini ada penjual gorengan dan minuman juga jika kita ingin melepas dahaga. Jika sudah puas melepas penat kita bisa menunggu perahu selanjutnya yang akan datang mengantar wisatawan lain. Perahu terakhir yg menjemput kita adalah sekitar pukul 15:00 wib.
Tanyakan perahu terakhir yg akan datang, jangan sampai tertinggal 

Wednesday, September 23, 2009

Drive to Yogyakarta

Kali ini saya menyusuri jalanan Surabaya - Jogja dengan si mungil Karimun bersama partner petualang saya Lik. Kami memilih tanggal ini karena kami berharap mereka yang mengambil libur lebaran sedang memasuki arus balik. Dan benar saja, kemacetan di arah sebaliknya kami lihat panjang sekali.

Kami berangkat malam hari sekitar pukul 20.00 WIB dan memutuskan untuk menuju Borobudur langsung sebagai tempat tujuan pertama kami. Tiba sekitar pukul 03.00 di Jogja dengan Lik sbg driver, baru lah diriku yang menggantikan ketika kami menuju Borobudur melalui ringroad (sekitar 45 menit) Karena terlalu pagi, kami harus meringkuk di mobil menunggu gerbang di buka pukul 06.00 WIB.

Untuk memasuki lahan parkir Candi simbol kebangkitan ini, kita di kenakan tarip Rp 5.000,- /mobil. Dan kemudian juga harus antri di loket wisatawan Nusantara serta membayar tiket masuk Rp 9.000,- / orang dan Rp 1.000,- / kamera.

Di dalam taman wisata ini pengunjung tidak di perbolehkan untuk membawa makanan di karenakan alasan kebersihan. Jadi jangan tersinggung karena sebelum masuk kita harus membuka tas kita untuk di periksa satu persatu.

Untuk menikmati dan membaca cerita relief Borobudur, kita bisa masuk melalui pintu timur dan bergerak searah jarum jam dan menempatkan candi di sisi kanan kita dari tingkat bawah sampai tingkat tertinggi. Konon sebagai penghormatan kita bisa memutari setiap tingkatan sebanyak 3 kali.Ketika keluar menuju tempat parkir kita akan di lewatkan di pasar souvenir yang menjual berbagai pernak pernik sebagai barang oleh2. Jika ingin membeli sesuatu yang khas dari kota ini pahatan batu berbentuk borobudur bisa di jadikan pilihan karena Magelang terkenal sebagai kota pemahat.

Belum tidur semalam dan perut yang berteriak minta makan bukan lah perpaduan yang menarik. Jadi kami mencoba mencari solusi keduanya sekaligus di Bladok Losmen & Restaurant. Jalan Sosrowijan 76. (0274) 560452. Kenapa Bladok? Karena makanan western food disini emang mantap punya. Dia membuat rotinya sendiri. Nih biar tambah ngiler ...
American Breakfast

Makanannya Popeye :p

Soal harga yah..relatif ya.Nih bocorannya.. ;) Ice tea Rp 5.000,-, American breakfast Rp 21.000,-

Sayangnya, karena masih musim liburan kami tidak mendapat tempat di sekitaran Malioboro. Jadi kami berputar sedikit lebih jauh dan akhirnya menemukan hotel Sala,dan karena kebetulan ini cabang ke 3 dari 5 cabangnya maka di namakan hotel Sala Tiga. Jalan Dagen 48 (0274) 580600. Hotel ini cukup bersih, dengan kamar mandi dalam dan teras sendiri. Karena sudah cukup lelah dan tidak ingin mengadu peruntungan lagi di masa liburan ini. Maka kami ambil 1 kamar ber AC tapi tanpa air panas. Maaf entah kenapa sepertinya bonnya terselip entah dimana, jadi tidak bisa memberikan kisaran harganya. Yang pasti cukup murah.


Banyak hotel dan penginapan murah di Yogyakarta. Di daerah Malioboro juga banyak rumah penduduk yg di sulap menjadi kamar2 yg disewakan. Jika Anda membutuhkan info hotel murah2 lainnya bisa klik di sini.




Setelah tidur pagi :p kami memilih Museum Ullen Sentalu di kawasan Kaliurang sebagai next stop.
Ketika memasuki kawasan Kaliurang akan di kenakan Rp 2.000,- untuk masing2 mobil dan orang.Museum sejarah Jawa dan keraton Jogja serta batik ini buka pada pukul 09.00 - 15.30 WIB. Dan tiket nya seharga Rp 25.000,- untuk wisatawan lokal. Rp 50.000,- for foreigner. Kita akan memasuki museum bersama2 dibatasi sekitar 10 orang /rombongan dan di pandu oleh guide yang akan menceritakan sejarah dari awal kita masuk. Museum ini tutup pada hari Senin. Sebelum memasuki "gua pohon" ini, kita di peringatkan bahwa tidak boleh mengambil foto didalam. Dan jika ada yang mau di titipkan, bisa menggunakan loker yang di sediakan free.
Ullen Sentalu merupakan singkatan dari “ULating blENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala Lampu Blencong sebagai Petunjuk Manusia dalam Melangkah Meniti Kehidupan”.

Museum ini bangunannya tidak tampak dari luar, malah terlihat seperti hutan dan seperti kita akan memasuki pohon beringin tua. Dingin, sejuk menambah suasana oldies dan mistisnya. Setelah masuk, kita akan memasuki ruang bawah tanah yang ternyata di dekorasi dengan wah..dan keren. Pokoknya keren n eksotis deh, dingin dan tidak bau.

Oleh sang guide kita akan di ajak melihat alat2 musik tradisional Jawa di ruang pertama. Dia bercerita dengan luwes dan cepat lalu membawa kami ke ruang berikut melalui lorong2 yang penuh berisi lukisan yang menceritakan sejarah kerajaan Jogja dan Solo serta keturunan Sultan. Tentang putri2 kerajaan yang ternyata tidak lah kuno. Mereka bahkan sudah bersekolah di luar negeri di jaman dahulu itu. Ada lukisan yang juga di buat 3 dimensi seorang putri yang fashionable, ada lukisan Pangeran Charles n Lady Di beserta Sultan. Ada lukisan yang di buat sedemikian rupa sehingga mata mereka yang ada di lukisan itu mengikuti arah gerak kita. (keren..). Lukisan2 ini di lukis oleh pelukis khusus kerajaan yang dirahasiakan namanya.

Tiba kami diruang lain, yang berisikan kumpulan puisi dari seorang putri yang dijodohkan dengan pria yang tidak dicintainya. Puisi2 itu di pajang dalam kotak2 kaca dan bahasanya begitu indah2. Sang putri bertukar surat dengan bibi dan sepupu2nya yang juga membalas dengan puisi balasan.

Di ruang lain adalah koleksi motif batik yang menjadi sejarah kerajaan Solo dan Jogja. Ada yang hanya di pakai untuk acara2 kebesaran dan lain sebagainya.
Berikutnya kami di ajak mengenal seorang putri yang sangat modern pemikirannya. Pandai berkuda, menguasai 4 bahasa dan menentang monogami dalam kerajaan. Beliau pernah menolak lamaran Pak Karno karena sudah ada istri2 sebelumnya. Di kisahkan dia baru menikah pada usia 30 tahun pada masa seorang gadis biasanya di nikahkan umur 10 tahun.

Melewati rimbunnya pohon2 kami sampai di ruangan lain yang tidak kalah dingin dr ruangan sebelum2nya. Lebih berasa dingin lagi ketika nama Nyi Roro Kidul di sebut. Dalam ruangan itu ada lukisan besar tentang tarian yang hanya boleh di tarikan pada saat raja naik tahta. Tarian ini ditarikan oleh 9 penari perawan dan harus dalam keadaan tidak haid serta berpuasa sebelum melakukannya. Bagi orang Jawa 10 adalah angka yg sempurna, sebenarnya ada 1 penari lagi yang diyakini ikut menarikannya yaitu Nyi Roro Kidul yang dalam lukisannya di buat sedikit transparan.

Terakhir kita di suguhi teh ramuan seorang putri keraton secara gratis sembari bisa melihat2 souvenir di toko yang berisi batik2 dengan banyak model. Teh ini konon bisa membuat panjang umur, terbuat dari campuran cengkeh, jahe, daun pandan dan ramuan rahasia dari sang putri.
Dengan pengetahuan baru kami pulang kembali ke Jogja. Kami menyempatkan diri berhenti di Gudeg Mbarek Bu Hj Ahmad yang berada di Kaliurang Km 10. Kami ingin menyantap hidangan khas Jogja tersebut. Enak nih apalagi perut belum terisi lagi. Rumah makan yg luas ini tampak kosong tapi kami jg harus menunggu karena ternyata banyak pesanan mrk terima.

Sejarah sudah, makanan khas sudah, kami kembali ke kawasan Malioboro tepatnya persis di sebelah stasiun kereta api. Kami sedang mencari sebuah minuman yang terdengar aneh bagi kami dan hampir2 susah membayangkan bagaimana meminumnya. Namanya Kopi Joss. Ternyata ini adalah minuman kopi (bisa juga teh) yang di cemplungin arang membara sehingga bunyinya josss.....dan itulah yang kita minum. Tidak higienis memang mengingat arang itu di ambil dari pembakaran air yang di gunakan untuk membuat kopi tersebut tapi cukup unik nan kreatif. Lek Wi sang pemilik angkringan mengatakan khasiatnya bisa buat badan hangat dan tidak gampang masuk angin. Di jalan ini ada beberapa angkringan(warung dan lesehan mgkn ya kalau di sini) dan penuh dengan remaja2 yg jg menikmati nasi bungkus murah dan gorengan. Angkringan2 ini buka sejak pukul 13.00 sampai pukul 04.00 pagi.

Ketika kami melihat jalanan Malioboro yang penuh sesak walau sudah mulai meringkas barang2 mereka, kami memutuskan untuk mencuci mata sejenak di kawasan belanja yang paling ramai di Jogja ini. Tapi kami hanya sekedar lewat karena kami baru akan menelusuri Malioboro dan Pasar Beringhardjo keesokan harinya.

Sehabis sarapan yang di sediakan dari hotel kami tetap beristirahat mengingat akan melakukan perjalanan panjang untuk pulang ke Surabaya lagi. Jadi kami mengumpulkan tenaga sampai waktu check out hotel kemudian menuju ke daerah Malioboro. Kami memilih parkir di sebelah Bank Indonesia karena kami ingin mencoba sebuah resto yg di rekomendasikan oleh seorang pengunjung angkringan di malam sebelumnya. Tidak mau membuang waktu dan tenaga, kami bertanya kepada pak polisi yang kemudian membantu kami memanggil becak dan menjelaskan pada pak becak ttg tujuan kami sekaligus menawarkan harga (baek banget deee pak pol nyaa...)

Kurang lebih 10 menit kami sampai di Bale Raos yang ternyata berada di dalam kawasan Keraton. Harganya termasuk tinggi tapi disini kita bisa menikmati hidangan yang di sajikan untuk Sultan dan tamu2 keraton. Pada menunya kita bisa melihat makanan mana yang di sukai oleh Sultan ke brapa. Misalnya Bestik Djawa atau Es Secang yang merupakan welcome drink untuk tamu2 kerajaan. Tidak terlalu memuaskan perut, tapi lidah cukup puas (alias....kurang banyak makannya hahahaha) Tak apalah, sekali lagi.. tempat yang unik dan tidak akan ditemui di tempat lain.
Es Secang (Minuman tamu kerajaan)
dan Beer Djawa (non-alkohol, minuman favorit Sultan HB VIII)

Bestik Djawa (untuk Sultan HB IX)

Bebek Suwar Suwir (Sajian khas Sultan HB IX)

Sehabis deg2an di jalan gara2 kita salah cegat bapak becak yang uda tua gitu(sampe nga tega deh duduknya) pake nabrak becak lain pula si bapak :( akirnya sampe deh kembali di kawasan Malioboro. Untuk menjawab si perut maka berhentilah kami di depan Pasar Beringhardjo untuk makan fastfood khas Jogja yaitu Pecel Pincuk. Wah makan pecel, tahu dan tempe bacem di sertai lombok sesuka hati. Puas dah....Mengingat saran tips dari teman2 lain, maka proses tawar menawar pun terjadi lah ketika kami memasuki pasar berisikan baju2 batik itu. Baju bayi, ibu hamil, baju tidur, hem kerja, semua ada dari batik. Kelihatannya selain karena musim libur, pasar ini jadi begitu penuh karena batik baru saja di canangkan sebagai warisan asli Indonesia.

Belanja di pasar ini lebih bisa di tawar daripada di luarannya alias jalan Malioboro. Kebanyakan barang di Malioboro hampir seragam harganya dari penjual satu ke lainnya. Jika ingin membeli oleh2 bisa juga membeli bakpia pathuk konon yang terkenal enak nomor 25 dan 75. Tapi ada pula toko di tengah2 malioboro itu yang menyajikan bakpia fresh from the oven (bak breadtalk gitu tmptnya). Bisa di cicip dulu sebelum membeli.

Kami menyusuri Malioboro sampai kaki berasa mau patah dan sepertinya mobil kami menjadi yang terakhir meninggalkan tmpt parkir. Segera kami menuju ke arah jalanan pulang Surabaya dan mampir di Mc D sebagai santapan akhir kami di Jogja dan untuk berganti baju dan menyegarkan diri menempuh malam, kali ini diriku sebagai driver sampai di Surabaya. (masuk rumah terus keluar lagi menuju Batu...hancur dah... tapi bahagia akhirnya sempat berlibur) :p

Sekian laporan dari Jogjakarta, doakan semoga punya waktu lagi dan jumpa di tempat yang lain ya.

Saturday, August 15, 2009

Old Town Batavia

Salam wisata,
Berkenaan dengan semangat kemerdekaan aku coba ulas tentang old batavia ya :p

Lama banget kaki ini tak melangkah. Kali ini aku ada berkesempatan ke Jakarta walau cuma 2 hari. Inipun tidak bisa di bilang berlibur, namun aku menyempatkan mencuri waktu melihat Tugu Monas. Iya, hahaha baru kali ini diriku melihat tugu monas.


Jadi begini ceritanya, aku ingin membagi info hotel yang murah meriah yang letaknya cukup strategis dan yang penting bersih. Namanya Hotel Kana. Letaknya di Jalan Antara 39. Pasar Baru. Tidak mewah memang malah kesan hangat dan kekeluargaan lebih terpancar dari para staf hotel ini. Harga kamar tergantung di tingkat brapa kamar yang kita pilih karena tidak ada lift untuk tamu. (bagi yang merasa muda, nga susah2 amat kok olahraga naik tangga hihihi). Lantai 1-2 mempunyai harga sekitar 250rb dan 275rb kalau tidak salah. Lantai 3-5 berharga 200ribu rupiah. Harga ini sudah termasuk breakfast berupa roti tawar, kopi / teh yang bisa kita ambil sebanyak kita mau. Self service ye.. :p
Info hotel murah lainnya di Jakarta
Jika kita berjalan ke arah kiri, kita akan segera menemui Gedung Antara konon di gedung yang di bangun sejak sekitar tahun 1920 inilah naskah proklamasi di kumandangkan ke seluruh dunia. Gedung ini sekarang berubah fungsi menjadi tempat galeri foto para wartawan Antara. Semacam gedung untuk pameran fotografi dengan tema yang berganti2 setiap waktu tertentu.

Tak jauh, kita langsung akan bertemu dengan gerbang utama PASAR BARU. Kawasan ini di bangun sejak tahun 1820, dan merupakan kawasan elit yg di bangun oleh pemerintah Belanda dulu. Semacam kawasan Menteng kalau jaman sekarang. Tidak ada kendaraan boleh melewati kawasan ini. Kita bisa berjalan kaki menyusuri sekian banyak toko yang berjajar di kiri kanan. Ada toko sepatu, kain dan tailor, baju, minuman, makanan, alat2 keperluan fotografi, alat olahraga, bahkan ada 1 toko serba ada lengkap dari A-Z. Ada retail seperti Rimo. Ada fastfood seperti A&W. Pokoknya semua ada deh disini. Termasuk beberapa orang yang memperdagangkan uang asing dan kuno di kaki lima.Bagi penggemar filateli, persis di depan hotel ada Gedung Filateli Indonesia. Sayang saya belum sempat mampir melihat2. Di seberang juga ada banyak pelukis sketsa, karikatur dan lukisan cat berjajar.

Dari kejauhan di arah kanan hotel, kita bisa melihat puncak Monas. Dengan tekad bulat melawan kantuk aku coba berjalan pagi2 menuju ke arah itu. Dan sekitar 15 menit jalan santai, aku bisa berfoto dengan monumen nasional yang menjadi monumen peringatan semangat perjuangan revolusi kemerdekaan 1945.

Minggu pagi itu banyak sekali orang disana, sebagian besar adalah rombongan yang berwisata, sebagian lain adalah warga Jakarta yang berolahraga, bersantai piknik dengan kluarga atau bersepeda santai. Di depan gerbang kita jumpai banyak sekali bajai dan andong yang siap mengantar kemana kita mau pergi. Di tengah2 lapangan yang sangat luas dan hijau ini ada sekumpulan pedagang yang tergabung dalam 1 asosiasi yang menjual souvenir dgn berbagai macam benda bergambar Tugu Monas.

Malam harinya seorang teman yang tinggal di Jakarta mengajakku mencicip makanan di kawasan Pangeran Jayakarta (Daerah mangga dua, JAKpus). Kami makan di Bakmi Kepiting A HOK yang konon terkenal di kalangan penggemar kuliner. Lalu di tempat ini juga ada makanan yang menarik namanya Sekoteng. Bagi orang Surabaya mungkin begitu mendengar kata Sekoteng = minuman jahe dengan labu dan jelly kering. Namun ada yang beda dengan sekoteng ala jakarta ini. Coba di simak gambar dibawah. Ini semacam makanan sehat ala keturunan Chinese Indonesia. :p Tanpa jahe sama sekali ... hehe..

Sekian dulu liputan TouristpasS dari old batavia...