Showing posts with label East Java. Show all posts
Showing posts with label East Java. Show all posts

Friday, September 14, 2012

Han's Ancestral House / Rumah Abu Han

Rumah Abu Han adalah sebuah rumah tua yang di dirikan sekitar abad ke 18 oleh seorang keturunan ke 6 dari garis keturunan keluarga Han, Han Bwee Koo. Terletak di kawasan kota lama Surabaya, rumah abu Han didirikan dan berfungsi ganda yaitu sebagai rumah sembahyang dan rumah tinggal. Berdiri sebagai saksi sejarah zaman kolonial Belanda, pemiliknya yang bersuku Tionghoa, dan berletak di tanah Jawa membuat perpaduan 3 budaya yang unik pada arsitektur rumah abu ini. 
Area depan sebagai Area Sembahyang, Area belakang sebagai area tinggal
Rumah Abu Han adalah rumah "abu" pertama di Surabaya, walau bernama rumah abu sebenarnya tidak ada abu yang di simpan di rumah ini melainkan Sinci (kayu2 berukir nama mendiang leluhur keluarga Han) saja yg ada di latar sembahyang. Di sebelah rumah abu Han, juga ada rumah abu The (menantu keluarga Han) tapi hanya ada 2 Sinci di dalam nya.


Pembagian ruangan di rumah abu Han adalah sebagai berikut:
1. Teras rumah abu Han
Rumah kuno perpaduan budaya Eropa, China dan Jawa
2. Hall tamu : tempat menerima tamu keluarga dengan 24 kursi bergaya Belanda klasik

3. Hall keluarga : tempat berkumpul dan rapat bagi keluarga Han, atau menunggu giliran untuk bersembahyang.
4. Area Sembahyang

5. Area tinggal : dulunya tempat menampung keluarga Han yg baru datang dari Tiongkok dan belum mempunyai tempat tinggal.

Saat ini rumah abu Han sudah mulai di buka untuk umum sebagai media pendidikan berdasarkan perjanjian dengan pemiliknya pak Robert yg sekarang.
Untuk lebih jelasnya bisa di simak video berikut ini :
Thanks to Kevin Reinaldo for the documentary video

Sunday, July 1, 2012

Berbuka puasa : Middle East food @ Kampoeng Arab Surabaya

Wisata tidak melulu wisata alam, wisata kuliner juga suatu pilihan yang tidak kalah menariknya. Bahkan ketika kita berwisata alam pasti kita juga menyempatkan diri mencicip makanan khas daerah yg kita singgahi.

Kali ini bertepatan dengan akan datangnya bulan suci Ramadhan 2012/1433 H, wisata kuliner Tourist Pass mengulas makanan khas timur tengah yg bisa untuk referensi makanan buka puasa. Tidak perlu jauh2, makanan khas Arab seperti Nasi Kebuli, Nasi Biryani, Hummus,  Martabak Arab, Gulai Arab bisa kita temukan di kawasan tua Surabaya. Tepatnya di kawasan wisata religi Sunan Ampel.

Kawasan religi makam Sunan Ampel (salah satu dari Wali Songo) merupakan kawasan yg terkenal akan masjidnya selain makam sang Sunan sendiri. Masjid bergaya arsitektur Jawa Kuno dan nuansa Arab ini di bangun pada tahun 1421. Di sekitar makam tersebut banyak penjual baju2 muslim,aksesoris, peci, sarung, parfum dan segala perlengkapan umat muslim lainnya. Kawasan wisata religi ini biasanya lebih ramai pengunjung menjelang dan pada bulan Ramadhan walaupun pada hari2 biasapun masih kerap penuh juga.

Banyak tempat makan dengan menu khas Arab tapi favorit saya adalah di Grand Kalimas Hotel. Sejak pertama kalinya berkunjung ke restaurant Jalalabi yg ada di sebelah lobby hotel ini pada tahun 2008, telah banyak perubahan khususnya pada interior dan tampak depan hotel ini yg semakin segar dan modern, sayangnya nuansa Arab yg kental di restaurant tersebut sedikit luntur walau Sisha (rokok Arab) masih tersedia di sini. Saat tulisan ini di tulis, mereka juga sedang membangun teras yg kemungkinan akan menjadi tempat makan outdoor. Nice! Oh iya, Jalalabi restaurant ini buka 24 jam. Kalau bosan dengan menu McDonald atau KFC boleh dah dicoba tempat ini.

Makanan favorit kami disana :
Hummus : Dipping khas Arab

Sebangsa roti Arab,bisa dimakan dengan hummus

Saksoka : Orak arik telor dengan rempah Arab (without tomato)

Arabian Coffee 

Sahi Nena : Mint tea, tapi teh nya berasa khas 

Kebuli Dujad (Ayam) ada juga Kebuli Laham (Kambing)

Martabak  (Menu ini tidak open 24 hours)
Selain makanan - makanan khas Arab, Anda bisa juga membeli kurma yg buanyakk sekali di jajakan di pinggir2 jalan kawasan Kampung Arab ini khususnya pada bulan Ramadhan, untuk cemilan sebelum ber buka puasa di rumah.

Bagi Anda yg berasal dari luar kota Surabaya, Grand Kalimas Hotel bisa menjadi pilihan jika Anda akan berziarah ke makam Sunan Ampel dan jika anda ingin melaksanakan ibadah Tarawih / Taraweh setelah ber buka puasa di Jalalabi Restaurant, anda tinggal berjalan kaki menuju Masjid Ampel sembari menikmati suasana Kampung Arab Surabaya.

Pilihan hotel lainnya di Kampung Arab : Quds Royal Hotel Surabaya. Klik untuk ulasannya karena Tourist Pass juga belum pernah masuk hotel ini, hanya saja tampak luar nya juga lumayan megah dan bersih. Tapi untuk lokasi, saya lebih sarankan Grand Kalimas Hotel 

Selamat menunaikan ibadah puasa dan menyambut bulan suci Ramadhan untuk teman2 muslim....

Berikut link yang berguna bagi teman2 pada bulan Ramadhan 2012 ini :
Panduan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2012 di seluruh Indonesia
Panduan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1433 H di seluruh Indonesia

Thursday, June 28, 2012

Megahnya jembatan nasional Suramadu

Menikmati taburan lampu jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) yg indah di malam hari bisa jadi hiburan tersendiri. Sekalian juga kita bisa mencoba wisata kuliner di pulau lain! :p

Suramadu bridge @ night
How to get there:
Dari arah MERR II C/Galaxy Mall 
Lurus ke arah Kenjeran-Belok kiri masuk jalan raya Kenjeran - Sampai di lampu merah pertama - belok kanan.
Dari arah tengah kota :
Lewati HiTech Mall  belok kanan ke arah Kapas Krampung - Belok kiri di ujung jalan Kapas Krampung.

Tips untuk yg mau mengabadikan foto jembatan Suramadu ini secara keseluruhan (karena peraturannya kita tidak boleh berhenti kecuali keadaan darurat setelah masuk ke gerbang masuknya) :
Setelah kita berada di jalanan akses menuju pintu gerbang tol Suramadu,jangan masuk gerbang dulu, berpindahlah ke jalur paling kiri kemudian susuri jalan belok ke kiri. Anda akan tiba di bawah jembatan ini. 
Waktu yg di tempuh dari sisi Surabaya sampai sisi Madura adalah sekitar 7 menit saja. 

Harga tiket (one way) -  4 wheel       : Rp 30.000,- 
                                     Motorcycle  : Rp 3.000,-

Sejak di resmikannya pada 2009, jembatan yg memakan 6 tahun masa pembangunan ini sepertinya cukup membantu geliat ekonomi di bagian sisi Madura.Keadaan daerah Bangkalan, khususnya daerah Kamal yg paling dekat dengan jembatan ini sudah lumayan berubah sejak terakhir kali saya keliling Madura (disini ceritanya).  

Begitu turun di sisi Madura, banyak sekali tenda2 penjual souvenir seperti kaos, cambuk, clurit khas Madura, kain batik Madura, dan beberapa cemilan serta kerajinan dari laut. Mereka buka 24 jam alias tidur disana juga, jadi jangan takut ketutupan ;)
Walau tidak banyak, tawarlah harga disini!
Selanjutnya beberapa meter dari jembatan ini (lurus saja sampai habis jalannya dan belok kiri ke arah kota Bangkalan) banyak sekali tempat makan bermunculan. Menu andalan mereka rata2 adalah bebek khas Madura atau ikan dan seafood.

Tempat makan favorite saya adalah tempat yg terbilang sudah cukup lama ada di jalanan ini. (belok kanan lagi menuju Bangkalan kota) Tempatnya di kanan jalan, namanya Ole Olang. Jangan lewatkan makan ikan bakar disertai sambal pencit khas kota Madura!

Tuesday, May 17, 2011

The capital city of Majapahit Empire - Trowulan

Majapahit was a big and powerful kingdom that reached its peak of glory during the Hayam Wuruk era (1350-1389). In summary, Majapahit was the largest empire ever to form in southeast asia.

Many archaeologist doing a research about this archeological heritage. First research noted was in 1815 and published in a book "History of Java" on 1817 by Wardenaar.

Through many research, its believed that Trowulan is the heart of Majapahit. That's why many researcher doing an excavation in Trowulan-Mojokerto area and they found many temple, statue, and former civilization. Too bad, some of the excavation was stopped due to the restoration cost.

Today, Buddhist will held a Vesak Festival and pray together at Brahu Temple. I'm not wasting this opportunity and hit the road to Trowulan-Mojokerto from Surabaya. It takes about 2 hours and we arrive at a Bejijong village. There are so many temple and excavation site around this village so we decided to visit the Trowulan Museum first. Too bad this museum is closed during a holiday (I think they really need to open the museum because tourist will come in a holiday!)
Click here if you need a cheap and nice hotel in Surabaya.
With a raw map we have from internet and a little suggestion from the museum security, we are trying to exploring the area nearby before attending the Buddhist festival at Brahu Temple.
We need to prepare some money,its all up to you ( small change around Rp 5.000-Rp 10.000,-) and give it to the security in the entry gate then we fill the guest book.
1. Kedaton Temple
This site restoration haven't finish yet and still remain as a mystery. The archeolog haven't find the form of this site. The legend said in this area also has a poisoned well and also underground maze that connect to the royal family of Majapahit Empire's place, to escape from enemy, or something like that. That's why they spread a rumour that the well is poisoned so no one wants to go near the well.



It's great to seen this past legacy and be on it!

2. Bajang Ratu gate
It's an elegant gate to a place where the archaeologist believe this gate actually was a backdoor but then used as an entry gate to a sacred place to commemorate the death of Majapahit king Jayanegara. 

3. Mouse Temple
Not far from Bajang Ratu we can find Mouse Temple, yes local people named it "tikus" /mouse because it was a mouse's nest when its found. The archaeologist do a full restoration in 1984 to 1985 and still  they can't find any detail about the function of this temple or who built it. They estimate this "Candi Tikus" was built around 13 century. And from the form of this temple that similar to Mahameru Mountain in India, some of the archaeologist believe its a place where the royal family of Majapahit take a bath and the water coming from this wellspring is sacred and bring prosperous, healthy and people ageless.


4. The Sleeping Budha Statue
He's not actually sleep, his position is a sign that he already reach heaven. This statue stay at the 3rd place for the biggest sleeping Budha in Asia after Thailand and Nepal. Its length is 22 meters, width 6 meters, and height 4.5meters. Its build inside the Maha Vihara Majapahit monastery. And today many tourist and Buddhist people come to this place to celebrate Vesak Day (celebrate in a full moon).  The committee of this festival has prepare many attraction such as Barongsay(chinese lion dance), reog, Indonesian traditional dance and many more. Then, they will walk for about 1 km from the monastery to the Brahu Temple.

5. Brahu Temple
This Buddhist temple was the biggest temple in this area. Based on Mpu Sendok inscription, its said that Brahu Temple was a sacred crematorium for the king of Majapahit : Brawijaya I,II,III,IV. In this place the Buddhist do a meditation and pray for the Vesak ritual.

Mystichal appearance
The raindrops stop and full moon suddenly appears after Buddhist people pray and meditate 
We're very glad that in this era, we can still be a witness to these old century heritage.

Saturday, May 15, 2010

Mangrove forest- Wonorejo,Surabaya

Tak banyak yang tahu kalau Surabaya punya tempat tujuan wisata alam yg terbilang cukup baru. Awalnya kawasan ini sudah rusak dan tak terjamah. Lalu menurut cerita masyarakat setempat ada seseorang yg mulai menggalakkan penanaman dan pemeliharaan kembali bibit mangrove di kawasan ini. Kemudian dia mengajak dan mempekerjakan masyarakat setempat untuk memelihara dan mengembangkannya. Perjuangannya tak sia2, beberapa perusahaan kemudian ikut memberikan sumbangan pembibitan. Selanjutnya Pemkot Surabaya juga akhirnya melirik potensi kawasan ini dan menetapkannya sebagai ekowisata.

How to get there :
Dari MERR II C - lewati pintu masuk STIKOM- terus lurus saja mengikuti jalan sampai ada papan petunjuk   wisata mangrove dan belok ke kanan. Sayangnya jalanan setelah belok ini jauh dari kata rata. Jalanan tanah ini akan susah di lalui ketika musim hujan karena akan menjadi becek.

Setelah sampai di tempat parkir, kita kemudian menunggu perahu boat yang akan membawa kita ke pos pantau di tengah2 lautan. Tiket perahunya seharga rp 25.000,-

Setelah berangkat, kita akan melewati hijaunya mangrove di kiri kanan kita selama kurang lebih 15 menit.

Kemudian perahu akan meninggalkan kita di area pos pantau.Selanjutnya kita akan berjalan kaki sekitar 5 menit melewati jembatan bambu. Sesaat kita akan melupakan bahwa kita hanya terpisah kurang dari 30 menit dari kota metropolitan ketika kita menikmati kicauan burung2, hijaunya mangrove dan birunya langit.

Di pos pantau ini ada penjual gorengan dan minuman juga jika kita ingin melepas dahaga. Jika sudah puas melepas penat kita bisa menunggu perahu selanjutnya yang akan datang mengantar wisatawan lain. Perahu terakhir yg menjemput kita adalah sekitar pukul 15:00 wib.
Tanyakan perahu terakhir yg akan datang, jangan sampai tertinggal 

Friday, March 30, 2007

Kebun Raya Purwodadi & Situs Purbakala Singosari

Penat dengan rutinitas dan kehidupan kota, akhirnya kami memutuskan mencari udara segar, menggerakkan kaki sejenak dan menikmati hijaunya alam.


Perjalanan kali ini kami mulai pagi pagi sekali demi menghindari aksi demo yang akan dilakukan di daerah Raya Porong yang masih saja belum ada pemecahannya. Sampai di Pandaan kami menyempatkan diri mengisi perut di Depot AFF yg mempunyai menu andalan Rawon Empal (mohon maap sementara belum ada dokumentasinya) hehehe. Dengan harga Rp 8.000,- empal yang empuk dan sambal yang lezat menjadi sarapan kami.
Lalu kami langsung menuju Kawasan Peninggalan Purbakala Singosari. Ternyata tidak seperti yang kami bayangkan, kawasan ini sudah cukup berpenghuni, jadi peninggalan2 kerajaan Singosari tersebut sudah dikelilingi rumah2 penduduk dan di batasi pagar. Ketika kita memasuki kawasan ini, ada 2 raksasa yang mengapit jalan. Raksasa yang bertampang seram ini dinamakan Dwarapala yang dibuat dari batu monolitik dengan ketinggian 3,70 m.
Keberadaan dua arca dwarapala itu menunjukkan bahwa lokasi itu pada masa lalu merupakan pintu gerbang dari kerajaan Singosari, sebab fungsi arca dwarapala di masa lalu memang sebagai simbol dari penjaga pintu atau pintu gerbang namun hinga saat ini belum dilakukan rekonstruksi untuk mengetahui dimanakah letak istana Singosari secara tepat apakah disebelah barat atau timur Dwarapala karena situs bangunan istana Singosari sampai sekarang belum diketahui letaknya.

Letak kedua arca tersebut berada disisi kiri dan kanan jalan utama desa Candirenggo yang membujur dari timur ke barat.Arca raksasa yang sebelah kiri (selatan) berada diatas pedestal buatan yang dibuat sekitar tahun 1982 sewaktu arca tersebut diangkat dari kondisinya yang tenggelam sebatas perut menghadap utara. Terdapat cerita unik seputar proses pengangkatan arca yang tersebut, dua buah traktor yang diperkirakan mampu mengangkatnya ternyata "kewalahan" ditandai dengan melengkungnya tuas besi pengangkatnya. Akhirnya dari "wangsit" yang diterima oleh salah seorang pekerja, bahwa arca tersebut baru bisa diangkat bila kedua matanya ditutup dengan kain hitam dan menggunakan tiga batang pohon kelapa sebagai tiang penyangganya. Setelah dilakukan upacara ritual dan sesuai dengan petunjuk wangsit tersebut, barulah arca tersebut bisa diangkat dan dipindahkan. (sumber)


Atas petunjuk dari penjaga situs Dwarapala, kami melanjutkan perjalanan ke situs candi Sumberawan. Stupa ini sering disebut “Candi Rawan” yang berasal dari Sumber + Irawan, karena putra Arjuna konon pernah mandi sore di tempat ini. Candi ini tidak bisa di jangkau dengan kendaraan, jadi kami harus memarkir kendaraan di sebuah warung milik warga dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 400 M. Pemandangan yang kami lalui sungguh menyegarkan mata. Selain hamparan padi yang luas dan hijau, beningnya mata air di sepanjang perjalanan kami benar2 menyejukkan. Banyak kegiatan masyarakat di sepanjang mata air itu termasuk mandi dan mencuci baju, namun airnya tetap jernih dan dingin.


Kita diharapkan mengisi buku tamu di setiap situs di kawasan ini, dan memberikan sumbangan sukarela demi pemeliharaannya.

Puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan menuju Kebun Raya Purwodadi. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3.500,- / orang dan retribusi mobil, kami segera di persilakan menikmati hijaunya kebun ini dengan menggunakan mobil. Mobil bisa kami bawa sampai ke suatu tempat tertentu yang ingin kita gunakan sebagai tempat rekreasi. Suasana berawan dan angin semilir menemani kami disana. Pepohonan yang tinggi menjulang dan entah berusia brapa tahun menaungi jalanan beraspal yang kami lewati.


Jika kita tidak membawa minum ato snack sebagai camilan waktu piknik, jangan khawatir, begitu kita berhenti di suatu tempat, segeralah muncul (entah dari mana) ibu2 penjaja snack dan minuman (dingin).
Seperti wisata alam pada umumnya, nyamuk hutan juga banyak berkeliaran menikmati redupnya suasana pepohonan. Bawalah obat oles anti nyamuk
Sepulang dari Purwodadi, kami menyempatkan mengisi perut di warung penjual Lontong Kupang di Tretes (tepatnya diseberang Ayam Goreng Sri). Kenikmatan lontong kupang ini terletak pada baunya yang harum dan juga kupang yang segar. Apalagi kalau dimakan bersama bumbunya yang pedas. Bumbunya langsung diracik sesuai pesanan, terdiri dari bawang putih,gula pasir,gula merah, dan cabe merah. hummm.... di hari biasa kita masih bisa mendapatkannya di sore hari. Tapi kalau weekend, jangan berharap banyak deh. Warung ini buka sktr jam 11-12 setiap harinya. Dengan harga Rp 4.000,- per porsi kita bisa menikmati kupang yang dipadukan dengan lento dan lontong ini. (foto menyusul ya :p ) Daripada penasaran,lebih baik dibuktikan sendiri deh.

Wednesday, June 29, 2005

Menakhlukkan Bromo

Weekend ini kami mengunjungi salah satu icon terkenal Jawa Timur yaitu Gunung Bromo.
Aku menyetir sendiri berangkat dari Surabaya jam 23.00 dan sampai disana jan 02.00 WIB. Jadi kami tidak menyewa hotel or penginapan.Lebih hemat,tapi perlu fisik yang siap.

Area Taman Nasional Bromo ini mencakup 50.273.30 hectare dataran tinggi yang dipenuhi dengan pegunungan dan hutan yang subur. Kawasan taman nasional ini terbagi dalam 4 kabupaten yaitu : Malang,Pasuruan,Probolinggo,Lumajang. Jadi akses masuk bisa di temukan dari 4 kabupaten tersebut.
Letaknya di antara 1000-3676 M diatas permukaan laut (asl = above sea level). Temperature berkisar antara 3 - 20 derajat Celcius.

Mt. Penanjakan
Tempat yang paling banyak dikunjungi salah satunya adalah Mt. Penanjakan (2770 M asl).Dari sini kita akan mendapat pemandangan yang sangat menakjubkan berupa Sea of Sand (Lautan Pasir) dan gunung Bromo,Batok serta Semeru. Biasanya sunrise bisa dinikmati antara pukul 4.30 a.m. - 5.30 a.m.

Sunrise

Penanjakan's View

Penanjakan ini masuk ke wilayah Pasuruan jadi kalo memang mau ke Penanjakan dulu baru ke kawah Gunung Bromo kami anjurkan untuk mengambil rute Pasuruan dibanding rute Probolinggo.Jalannya lebih mulus beraspal.Jadi kalo berani kita juga bisa bawa kendaraan kita naik ke puncak Penanjakan. Alternatif lain,sampai di pintu masuk akan banyak tersedia 4-wheel Jeep Hardtop yang siap mengantar Anda tanpa terbatas waktu.Harga sewanya disama ratakan oleh koperasi yaitu Rp 125.000,- (termasuk ke Penanjakan, Bromo, lalu kembali ke tempat parkir kendaraan kita)

Kalo kita lewat wilayah Probolinggo ongkos sewa yaitu Rp 200.000,-. Sesampai di desa wonotoro,kita parkir mobil kita ganti dengan 4-wheel Jeep.Kalo dari Probolinggo ini sangat tidak disarankan membawa kendaraan sendiri yang bukan 4 wheel,apalagi pada musim kemarau,karena bahaya terperosok di lautan pasir.
Ongkos lain:
- Retribusi Jalan Wisata u/ Jepp : Rp 2.000,-
- Retribusi Jalan Desa : Rp 2.000,-
- Asuransi Kecelakaan : Rp 2.000,- / orang
- Karcis masuk pengunjung : Rp 2.000,- / orang

Mt. Bromo
Selepas menanti sunrise di Penanjakan,kita lanjutkan perjalanan turun ke kaki gunung Bromo.Disana ada juga Pura tempat orang Tengger yang beragama Hindu melakukan upacara keagamaan Kasodo dibulan Oktober.Kita akan diturunkan di dekat pura dan kemudian kita harus berjalan kaki atau menyewa kuda Rp 20.000,- sampai di kaki gunung ini.Setelah sampai dikaki gunung,kita harus melewati sekitar 250 - 300 anak tangga dan sampailah kita di puncaknya. Disini bisa kita lihat pemandangan lautan pasir,pura,Gunung Batok dan kawah dengan bau belerang dari gunung Bromo ini.

Way to the top of Bromo
Bromo Stairs
Sea of Sand from Bromo

Tips : Pakailah Jaket yang tahan dingin,sarung tangan, sarung kaki dan penutup kepala
Jika tidak punya,disana banyak sekali penjual dengan harga terjangkau.
Bawa masker atau saputangan yg bisa dipakai untuk menutup hidung sehingga debu di lautan pasir dan bau belerang tidak menyengat hidung

Sepulang dari Bromo,jika Anda menuju arah Probolinggo or Surabaya,sempatkanlah untuk mengunjungi Madakaripura Waterfall  yang hanya berjarak sekitar 6 km dari Bromo.Segarkanlah diri Anda di sana setelah merasakan serangan panas dan debu di Bromo.

Tuesday, June 7, 2005

Kakek Bodo Waterfall

The background story of this waterfall was that a long time ago,there was an old man who work for Dutch family. This old man has everything and the family so kind to him but then after sometimes,this old man leave this family,he contemplated and did the meditation here on this waterfall area. The Deutch family call him as Kakek Bodo (Dumb old man) because he leaves his money and everything then sacrifice his life to help the poor and the sick.

Nowadays this waterfall become a famous tourism object.You can easily go tho this waterfall that located at Prigen subdistrict Pasuruan Regency.There we can find more or less 40 meters high Kakek Bodo waterfall. You will need to buy a ticket Rp 4.100,-/adult to enter the location.





Thursday, May 26, 2005

Peninggalan kerajaan Singasari - Candi Jawi

Yang kali ini cuman jalan iseng aja. Kita brangkat maunya sih makan lontong kupang di pandaan (diseberang ayam goreng Sri).Tapi trus keliatan bangunan candi yang sudah entah kami lalui brapa puluh kali tapi tidak kami sadari kehadirannya.Jadi ya kami brenti sebentar sekalian mengulas tempat bersejarah ini.

Candi Jawi mempunyai ketinggian 24,50 M dengan ukuran panjang 14,20 M dan lebar 9,5 M.Letaknya di pertengahan jalan raya antara Pandaan - Tretes Prigen,jadi gampang sekali di jangkau.
Candi ini dibangun pada masa akhir kejayaan kerajaan Singasari pada abad ke 13 atas perintah dari raja Kertanegara. Sebagian arkeolog berpendapat ini merupakan makan Kertanegara tapi sebagian lagi mengatakan tidak karena pada saat dibangun Kertanegara masih hidup.

Kalo kita lihat,relief pada candi itu memperlihatkan seorang pria yang akan melakukan Pradaksina (sebuah upacara penghormatan terhadap seorang dewa,Dewayajna jadi bisa disimpulkan bahwa candi ini adalah candi pemujaan.

Nah kalo sempat mampir ke tempat bersejarah ini, bersiaplah merogoh saku untuk memberikan sumbangan ala kadarnya demi pelestarian candi ini.Kita akan diminta untuk mengisi buku administrasi beserta sedikit sumbangan.

Candi Jawi

Saturday, May 21, 2005

Tempat meditasi patih Gajah Mada - Madakaripura Waterfall

Hari ini aku drive ke Madakaripura Waterfall di kawasan Probolinggo bersama 6 teman kantor. Madakaripura berada dekat desa Sapeh kecamatan Lumbang. Dari Surabaya kita lewat jalan tol keluar di Gempol trus ambil belokan ke kiri menuju Bangil - Pasuruan -Probolinggo. Setelah masuk Probolinggo kita tinggal mengikuti jalan besar itu sampai kita lihat papan di kanan jalan yang menunjukkan ke arah Bromo. Sebagai patokan papan itu terletak beberapa meter setelah Rumah Makan Nguling yang terkenal dengan rawonnya.
Biasanya Madakaripura menjadi 1 paket tujuan wisata dengan Bromo
Setelah belok kanan sudah lurus saja ikut jalan lagi sampai di lokasi wisata Madakaripura. Dikanan kiri jalan bisa kita lihat banyak penjual dan peternak madu yang menjual madu asli disana.Lalu ada juga persimpangan yang jalan ke kiri menuju Bromo kita ambil jalan satunya terus aja.Madakaripura ini hanya terletak 6 km dari Bromo.

Setelah beberapa saat tibalah kita di kawasan wisata itu.Kita bayar tiket masuk(maap lupa berapa) yang tdk terlalu mahal,lalu kita melanjutkan dengan jalan kaki dan juga diharuskan menyewa jasa pemandu lokal sana,kurang lebih Rp 30.000/person tergantung kita dan baik tidaknya pemandu tersebut.Dengan jumlah 7 orang kami diikuti oleh 2 pemandu untuk membantu kita.Alasannya karena walaupun hampir 3/4 perjalanan menuju air terjun utama sudah di bangun jalan dan tangga,tapi 1/4 perjalanan sisanya kita harus rela berbasah - basah jalan di sungai yang berbatuan namun jernih dan sejuk serta yang paling asyik ......kita jalan melewati beberapa air terjun kecil sebelum menuju yang utama. Sebelum jalan di bawah air terjun kecil itu ada disediakan pos yang menyewakan payung (Rp 1.500,-/payung)dan tempat menitipkan barang.
Note: Lebih baik tinggalkan semua brg tidak berguna di kendaraan,mungkin hanya camera dengan pelindungnya yg dibawa.Pakailah alas kaki yang nyaman untuk jalan bebatuan yg sdkt licin


Jalan yang dilewati


Di bawah air

Air terjun ini dikenal sebagai tempat meditasi Patih terkenal kerajaan Majapahit, Gajah Mada dan tempatnya menghabiskan sisa hidupnya. Lokasi wisata ini terletak pada ketinggian 620 M diatas permukaan laut dan air yang jatuh dari ketinggian 200 meter itu menciptakan perasaan yang luar biasa saat melihatnya. Kami cukup kesulitan mengabadikannya karena kerasnya tiupan air ke camera(menurut pengalaman lebih baik membawa juga tissue camera ;p ) Saat yang paling tepat untuk mengunjungi air terjun ini adalah sekitar pukul 10.00 - 14.00 dimana kadangkala bisa kita lihat pelangi dari perpaduan matahari dan air disana. Jika kita mandi dengan air dari air terjun ini juga dipercaya dapat menghilangkan penyakit rematik dan juga membuat awet muda.


Air Terjun Utama

Air Terjun Kecil
Perlu di perhatikan pada waktu musim penghujan sangatlah disarankan untuk tidak memasuki kawasan ini dikarenakan tata letaknya yang cukup membahayakan jika terjadi banjir.

Sunday, May 8, 2005

Menyusuri Lamongan-Tuban-Bojonegoro

Tim expedisi kali ini berangkat dari Surabaya melewati jalan tol Surabaya - Gresik dan keluar di pintu tol Manyar. Seharusnya bisa juga lewat pintu Kebomas tapi kita akan melewati kota.Kluar dari Manyar kita langsung belok kiri dan jalan saja lurus mengikuti Jalur Pantai Utara yang jalannya ternyata banyak gelombangnya.Tidak sampai 2 jam perjalanan kita sudah akan sampai di obyek wisata Lamongan yaitu Goa Maharani dan Wisata Bahari Lamongan yang berseberangan.

Setelah membayar karcis masuk sebesar Rp 3.000,-/person kita masuk ke Goa Maharani dulu. Goa ini tidak terlalu besar tapi cukup menarik. Aksesnya juga tidak sulit karena telah dibangun jalan dengan pagar di kiri kanannya. Kita dilarang melompati pagar itu untuk menjaga kelestarian gua itu. Tidak seperti bayangan kita soal goa,goa ini sudah dilengkapi dengan beberapa lampu redup yang berwarna warni dan juga alunan musik santai.Setelah puas jepret sana sini kita menyeberang ke WBL.
Note : Bawalah tripod camera untuk hasil yang maksimal.
Goa Maharani

Untuk masuk ke Wisata Bahari Lamongan(WBL) kita bisa memilih 2 jenis tiket.Tiket yang terbatas(hanya bisa memainkan beberapa wahana gratis) seharga Rp 15.000,- . Bagi yang ingin memainkan semua wahana (sekitar 26 wahana)di dalam bisa membayar tiket terusan seharga Rp 35.000,- .Disana ada jetski,kano,bumper boat,bumpercar,go-kart,motocross,rumah sakit hantu,taman air,taman kaca,kolam renang,restaurant,museum kapal dan kerang, n masih banyak lagi deh,pokoknya cukup menarik permainannya.Kita juga bisa bersantai duduk di ayunan dan kursi di tepi pantai.Kita kelilingi lokasi wisata itu sampai pukul 17.00 WIB dan kita sudah diharuskan untuk keluar karena lokasi akan ditutup.Tetap saja acara tembak menembak camera blum puas terlaksana :p
Note : Bawalah topi /payung dan pakailah pelindung matahari(sunblock)
Wisata Bahari Lamongan

Setelah beristirahat sebentar,kami lanjutkan perjalanan ke Tuban.Sembari mencari hotel kami merasa lapar. Jadi kami putuskan untuk makan dulu. Akhirnya kita dinner di tepi pantai di daerah Klenteng Kwan Sin Bio.Di jalan Panglima Sudirman ini berderet banyak sekali tenda penjual seafood,kami putuskan makan yang di sebelah toko Ana.Lalu kita akhirnya memutuskan untuk masuk ke Hotel Ratna di jalan Ronggolawe yg banyak direkomendasikan oleh orang sana.Kita ambil 1 kmr besar double bed+AC+km mandi+TV Rp 100.000,- dan 1 kmr kecil 2singgle bed+AC+Km mandi+Tv Rp 85.000,- .Setelah mandi semua sekitar pk 00.00 kita kluar bentar liat Masjid di Alun2 yang unik dan berwarna-warni.
Note : Jalan besar di Tuban kebanyakan satu arah.Jadi kalo tidak tau pasti lebih baik bertanya sebelum kita harus memutar jauh2.
Masjid Tuban

Paginya kita makan dulu di depot "Echo" di Jalan Basuki Rahmat. Lalu dari sana kami lurusss aja menuju ke arah desa Montong. Tujuan kita hari ke dua ini ke Air Terjun Nglirip.Kita sampai di sana kurang lebih 2 jam perjalanan karena jalan yang bergelombang itu. Obyek wisata ini ternyata belum di komersilkan. Jadi setelah menitipkan mobil ke pemilik warung di sana kami turun. Dan WOW tidak mengecewakan. Air terjun ini bak lukisan2 di kalender.Kami beruntung sekali waktu itu tidak panas dan tidak hujan, jadi kami dapat bersantai dan merasakan dekatnya alam dengan tenang. Puas dan segar bermain air kami kembali meneruskan perjalanan setelah memberi sedikit tips ke pemilik warung.
Note: Jika arah Anda benar tidak usah takut terlewat,air terjun ini terlihat dari jalan.
Nglirip Waterfall

Kami putuskan untuk meneruskan perjalanan pulang ke Surabaya lewat Bojonegoro. Sesampai di Bojonegoro yang katanya terkenal dengan burung dara dan swikenya,kami makan lagi ;p Kali ini makan di jalan Diponegoro no 34.Disini tersedia ayam and dara goreng juga nasi pecel contong.Setelah kenyang kita lanjutin perjalanan pulang melewati Babad (kalo mau beli oleh2 wingko disini tempatnya yang terkenal Loe Lan Ing),Lamongan, dan Gresik.Akhirnya kami keluar kembali di Surabaya melalui pintu tol Dupak.

Sunday, May 1, 2005

Another waterfall : Pucuk Truno

Yang ini nga jauh jauh dari Surabaya kali ini kita menuju Trawas.Cuman sekitar 1 jam lebih dikit perjalanan mobil. Pertama kita masuk jalan tol Surabaya - Gempol. Tak lama berselang kita sudah keluar Gempol ambil belok kanan lalu ikutin jalan itu saja terusss sampe tiba di perempatan (dikiri ada terminal Pandaan di kanan nya ada pom bensin).Ambil aja belok kanan lalu langsung ambil jalur kiri (jalur naik ke Trawas dan Tretes)

Kita teruskan sedikit melewati Rumah Makan Sri yang terkenal dengan ayam gorengnya.
Bagi yang suka dengan Lontong Kupang dan Sate Kerang majulah sedikit lagi di kanan Anda bisa terlihat sebuah warung yg selalu sarat pengunjung apalagi weekend ato hari libur.

Tidak lama kemudian tibalah kita di jalan yang bercabang 2,kiri ke Tretes kanan ke Trawas. Kita ambil jalan yang kiri lalu perhatikan di kiri jalan ada papan kecil menandakan Air Terjun Pucuk Truno.Belok aja kiri ke jalan kecil menurun tajam disana dan ikutin jalan lagi sampe kita temuin pintu masuk air terjun Pucuk Truno.

Setelah memarkir kendaraan,kita melanjutkan jalan kaki kurang lebih selama 10 menit melalui jalan yang sudah dibangun dengan rapi.Dikiri kanan kita akan dikelilingi oleh rimbunnya pohon dan dedaunan yang menyejukkan.Tak lama sampailah kita di tujuan kita yaitu air terjun yg cukup deras turunnya walaupun tidak seberapa luas lokasinya.Pada saat musim penghujan kita dilarang turun ke lokasi dasar air terjun karena ditakutkan bahaya longsor.








Saturday, March 26, 2005

Putihnya Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma)

Kami hari ini beranggotakan tim 5 orang berangkat menuju Jember dari Surabaya.Kami berangkat sekitar jam 21.30 WIB lewat jalan tol Surabaya - Gempol. Begitu keluar pintu tol Gempol kita ambil jalur ke kiri ke arah Pasuruan lalu tinggal kita susuri jalan panjang nan lenggang (nikmatnya menyetir dimalam hari :p) melalui Pasuruan - Probolinggo - Lumajang setelah itu sampailah kita di kota Jember. Kita habiskan sekitar 3 jam sebelum akhirnya sampai di hotel yang letaknya sangat strategis tidak usah masuk terlalu jauh ke kota.

Nama hotelnya Hotel Bandung Permai di jalan Hayam Wuruk 38 Jember (0331)484528,484530. Walaupun jam sudah menunjukkan lewat tengah malam petugas hotel tetap melayani kami dengan ramah. Kami ambil 1 kamar standart (1 double bed,kulkas,Ac,Tv,Km mandi)seharga Rp 135.000,- ++ tapi waktu itu ada diskon dan kami hanya perlu membayar Rp 118.800,- netto.

Pagi hari setelah breakfast dan mandi, kami segera check-out dan kembali ke arah menuju keluar Jember sedikit setelah itu kita ambil belokan ke kiri menuju Ambulu.Lalu lurus saja sampai terlihat papan obyek wisata Papuma kita belok kanan kearah jalan baru yang blum beraspal tapi sangat singkat. Tidak sampai 2 jam (sekitar jam 09.00 WIB) kita sudah sampai di lokasi wisata yang bersebelahan dengan obyek wisata Watu Ulo. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 2.100,- /person (100 rupiah = asuransi Jasaraharja).
Note: Lewatlah jalan baru itu kalo Anda tidak mau melewati Watu Ulo karna Anda akan dikenakan tiket masuk double, tiket Watu Ulo dan Tanjung Papuma.
Jalan baru

Wah leganya setelah sampai ternyata sejauh mata memandang adalah birunya laut dan putihnya pasir. Walau matahari menyengat tapi tidak mengurangi keasyikan bermain di pantai dengan deburan ombak yang cukup keras.Peringatan : Kita dilarang berenang di pantai ini karena ini termasuk Pantai Laut Selatan!!Setelah asik bermain seharian maka laparlah kami. Di tepi pantai ada beberapa warung yang menyediakan beberapa makanan seperti ikan bakar, kelapa muda, mie goreng,dsb yang tidak terlalu mahal.Setelah beristirahat sebentar jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB,kami membersihkan badan di toilet umum yang jg di area pantai itu.

Pantai 1
Pantai 2

Selepas beristirahat,kami bersama mobil menyusuri jalan aspal ke arah jalan keluar lalu dengan jalan kaki lagi naik tangga ke joglo di atas bukit. Dari sini pemandangan nya menakjubkan!! Kita duduk sambil makan2an kecil dan ngobrol sambil tidak lupa ;p jepret sana sini.Turun dari sana kami melanjutkan perjalanan kami kembali ke Surabaya.


View from the top