Sunday, May 13, 2012

Backpacker Hongkong-Macau-Shenzhen 1

Day 1 : Perjalanan Sby-KL-Shenzhen-HK
Day 2 : Hongkong
Day 3 : Macau - Hongkong
Day 4 : Hongkong - Shenzhen
Day 5 : Shenzhen
Day 6 : Perjalanan Shenzhen - KL - Surabaya

Jalan hemat kali ini berawal dari promo tiket murah yang di adakan oleh AirAsia. Setelah berburu tiket murah pada September 2011, akhirnya kami terbang juga pada Mei 2012. Tiket yang saya beli adalah
SBY-KL,KL-SBY seharga Rp 510.000,-  include baggage
KL-SZX, SZX-KL seharga 440 MYR include baggage
Harga tiket cukup berpengaruh pada budget travelling kita, belilah tiket promo jauh2 hari

Penerbangan dari Sby ke KL (lama perjalanan 2:35menit) setelah transit kami berangkat lagi menuju Bao'An International airport Shenzhen (4:05). Setelah tiba di Bao'An yg ternyata cukup kecil International Terminalnya kita harus keluar dulu ke arah kanan Terminal Domestik dan mengikuti tanda arah ke Metro, kita naiki overpass ke arah seberang terminal tersebut. Sayang sekali minim peta di bandara ini, sesampai di Metro Station pun kami tidak menemukan peta Shenzhen maupun peta Metro dalam bahasa Inggris. Walau begitu peta2 besar di station dan di mesin2 penjual token Metro sudah cukup jelas dan menyajikan bahasa Inggris.

Metro di Shenzhen ini menggunakan token yg bisa di beli di mesin2 pada tiap station. Mesin ini hanya menerima uang kertas 5 RMB atau coin 1 RMB (Jika tidak punya bisa tukar duit di Customer Service yg ada pada tiap station) Di ujung kanan bawah pada layar kita bisa memilih versi Inggris (tapi layar hanya akan bertahan selama mungkin 10 detik) jadi lbh baik Anda lihat dulu station tujuan Anda kira2 di mana pada peta besar di dinding2 station.

Langkah 1 : Klik station tujuan kita (mesin ini menggunakan sistem touch screen).
Langkah 2 : Masukkan jumlah orang (1 token untuk 1 orang)
Langkah 3 : Bayar sesuai jumlah total yang tertera pada layar
Langkah 4 : Ambil token dan kembalian pada lubang di bawah mesin tersebut
Langkah 5 : Sentuhkan token pada bagian scanner di mesin gate masuk ke jalur train
Langkah 6 : Masukkan token pada lubang yg tersedia di atas mesin gate keluar


Untuk ke menuju Hongkong, kita gunakan jalur berwarna hijau tujuan Luohu - 9 RMB (station terakhir, pasti ga nyasar deh :p ) Diatas pintu2 Metro juga ada peta jalur yg dilewatinya dengan bahasa Inggris kok.

Shenzhen Metro Map
Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam. Sesampai di Luohu, bersiap2 untuk prosedur Imigrasi keluar dari Shenzhen lagi dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Imigrasi Hongkong dengan melewati pusat perbelanjaan.

Setelah melewati imigrasi Hongkong kita bisa langsung melanjutkan perjalanan dengan MTR dari station LoWu ke berbagai wilayah Hongkong.
Jika akan berada beberapa hari di Hongkong dan memiliki banyak tempat yg ingin dituju lebih baik membeli Octopus Card seharga 150 RMB (50 adalah deposit yg bisa di ambil ktk kita kembalikan kartunya). Octopus card ini bisa di gunakan untuk hampir semua moda transportasi di HK dan beberapa merchant spt 7eleven jg menerimanya.

Kami melanjutkan ke station MTR Tsim Sha Tsui - 34.8 HKD (kurang lebih 1 jam lagi) dimana penginapan kami COSMIC guest house berada. GH ini sangat dekat letaknya dengan exit D1 TST. Begitu keluar, belok kiri beberapa langkah sudah sampai di Mirrador Mansion dan naik ke lantai 12 blok F. (Di Mansion ini banyak sekali GH yg disewakan)
Nice and clean Guest House - Cosmic
Guesthouse ini khas apartment Hongkong yang mini2, tapi kebersihan di Cosmic ini cukup terjaga. Sang reception yg bisa di bilang sudah ibu2 juga cukup ramah, salah satunya juga bisa berbahasa Indonesia. Dari mereka juga kami mendapat bbrp informasi tentang tempat makan di seputaran GH yg masih buka di tengah malam.

Sehabis meletakkan barang2, kami sedikit berkeliling mencari makan. Di sekitar sana masih ada resto besar yg buka dan ramai, ada juga Mc Donald yg buka 24 jam, serta 7eleven jg tidak jauh. O iya, 1-2 blok ke arah kanan dr Cosmic juga ada Hui Lau San yg katanya spesialis dalam menjual aneka dessert dari mangga. kami mampir tapi mrk sudah mau tutup padahal bau mangga yg keras menyambut begitu kita masuk ke tempat makan ini sangat menggiurkan.

Lumayan menguras tenaga hari pertama ini. Tapi untuk first timer kami sangat senang akhirnya bisa tiba di tujuan kami.
Dari pengalaman kami ini, kami menyimpulkan akan lbh baik jika kita mengambil jalur Surabaya - Hongkong via Kuala Lumpur baru pulangnya dari Shenzhen - Surabaya via Kuala Lumpur jika bersama AirAsia. 
Ijin visa juga akan lbh murah karena hanya 1 kali masuk Shenzhen. Sedang Hongkong dan Macau tidak memerlukan visa.
See you on the 2nd day !

Tuesday, May 17, 2011

The capital city of Majapahit Empire - Trowulan

Majapahit was a big and powerful kingdom that reached its peak of glory during the Hayam Wuruk era (1350-1389). In summary, Majapahit was the largest empire ever to form in southeast asia.

Many archaeologist doing a research about this archeological heritage. First research noted was in 1815 and published in a book "History of Java" on 1817 by Wardenaar.

Through many research, its believed that Trowulan is the heart of Majapahit. That's why many researcher doing an excavation in Trowulan-Mojokerto area and they found many temple, statue, and former civilization. Too bad, some of the excavation was stopped due to the restoration cost.

Today, Buddhist will held a Vesak Festival and pray together at Brahu Temple. I'm not wasting this opportunity and hit the road to Trowulan-Mojokerto from Surabaya. It takes about 2 hours and we arrive at a Bejijong village. There are so many temple and excavation site around this village so we decided to visit the Trowulan Museum first. Too bad this museum is closed during a holiday (I think they really need to open the museum because tourist will come in a holiday!)
Click here if you need a cheap and nice hotel in Surabaya.
With a raw map we have from internet and a little suggestion from the museum security, we are trying to exploring the area nearby before attending the Buddhist festival at Brahu Temple.
We need to prepare some money,its all up to you ( small change around Rp 5.000-Rp 10.000,-) and give it to the security in the entry gate then we fill the guest book.
1. Kedaton Temple
This site restoration haven't finish yet and still remain as a mystery. The archeolog haven't find the form of this site. The legend said in this area also has a poisoned well and also underground maze that connect to the royal family of Majapahit Empire's place, to escape from enemy, or something like that. That's why they spread a rumour that the well is poisoned so no one wants to go near the well.



It's great to seen this past legacy and be on it!

2. Bajang Ratu gate
It's an elegant gate to a place where the archaeologist believe this gate actually was a backdoor but then used as an entry gate to a sacred place to commemorate the death of Majapahit king Jayanegara. 

3. Mouse Temple
Not far from Bajang Ratu we can find Mouse Temple, yes local people named it "tikus" /mouse because it was a mouse's nest when its found. The archaeologist do a full restoration in 1984 to 1985 and still  they can't find any detail about the function of this temple or who built it. They estimate this "Candi Tikus" was built around 13 century. And from the form of this temple that similar to Mahameru Mountain in India, some of the archaeologist believe its a place where the royal family of Majapahit take a bath and the water coming from this wellspring is sacred and bring prosperous, healthy and people ageless.


4. The Sleeping Budha Statue
He's not actually sleep, his position is a sign that he already reach heaven. This statue stay at the 3rd place for the biggest sleeping Budha in Asia after Thailand and Nepal. Its length is 22 meters, width 6 meters, and height 4.5meters. Its build inside the Maha Vihara Majapahit monastery. And today many tourist and Buddhist people come to this place to celebrate Vesak Day (celebrate in a full moon).  The committee of this festival has prepare many attraction such as Barongsay(chinese lion dance), reog, Indonesian traditional dance and many more. Then, they will walk for about 1 km from the monastery to the Brahu Temple.

5. Brahu Temple
This Buddhist temple was the biggest temple in this area. Based on Mpu Sendok inscription, its said that Brahu Temple was a sacred crematorium for the king of Majapahit : Brawijaya I,II,III,IV. In this place the Buddhist do a meditation and pray for the Vesak ritual.

Mystichal appearance
The raindrops stop and full moon suddenly appears after Buddhist people pray and meditate 
We're very glad that in this era, we can still be a witness to these old century heritage.

Saturday, May 15, 2010

Mangrove forest- Wonorejo,Surabaya

Tak banyak yang tahu kalau Surabaya punya tempat tujuan wisata alam yg terbilang cukup baru. Awalnya kawasan ini sudah rusak dan tak terjamah. Lalu menurut cerita masyarakat setempat ada seseorang yg mulai menggalakkan penanaman dan pemeliharaan kembali bibit mangrove di kawasan ini. Kemudian dia mengajak dan mempekerjakan masyarakat setempat untuk memelihara dan mengembangkannya. Perjuangannya tak sia2, beberapa perusahaan kemudian ikut memberikan sumbangan pembibitan. Selanjutnya Pemkot Surabaya juga akhirnya melirik potensi kawasan ini dan menetapkannya sebagai ekowisata.

How to get there :
Dari MERR II C - lewati pintu masuk STIKOM- terus lurus saja mengikuti jalan sampai ada papan petunjuk   wisata mangrove dan belok ke kanan. Sayangnya jalanan setelah belok ini jauh dari kata rata. Jalanan tanah ini akan susah di lalui ketika musim hujan karena akan menjadi becek.

Setelah sampai di tempat parkir, kita kemudian menunggu perahu boat yang akan membawa kita ke pos pantau di tengah2 lautan. Tiket perahunya seharga rp 25.000,-

Setelah berangkat, kita akan melewati hijaunya mangrove di kiri kanan kita selama kurang lebih 15 menit.

Kemudian perahu akan meninggalkan kita di area pos pantau.Selanjutnya kita akan berjalan kaki sekitar 5 menit melewati jembatan bambu. Sesaat kita akan melupakan bahwa kita hanya terpisah kurang dari 30 menit dari kota metropolitan ketika kita menikmati kicauan burung2, hijaunya mangrove dan birunya langit.

Di pos pantau ini ada penjual gorengan dan minuman juga jika kita ingin melepas dahaga. Jika sudah puas melepas penat kita bisa menunggu perahu selanjutnya yang akan datang mengantar wisatawan lain. Perahu terakhir yg menjemput kita adalah sekitar pukul 15:00 wib.
Tanyakan perahu terakhir yg akan datang, jangan sampai tertinggal 

Wednesday, September 23, 2009

Drive to Yogyakarta

Kali ini saya menyusuri jalanan Surabaya - Jogja dengan si mungil Karimun bersama partner petualang saya Lik. Kami memilih tanggal ini karena kami berharap mereka yang mengambil libur lebaran sedang memasuki arus balik. Dan benar saja, kemacetan di arah sebaliknya kami lihat panjang sekali.

Kami berangkat malam hari sekitar pukul 20.00 WIB dan memutuskan untuk menuju Borobudur langsung sebagai tempat tujuan pertama kami. Tiba sekitar pukul 03.00 di Jogja dengan Lik sbg driver, baru lah diriku yang menggantikan ketika kami menuju Borobudur melalui ringroad (sekitar 45 menit) Karena terlalu pagi, kami harus meringkuk di mobil menunggu gerbang di buka pukul 06.00 WIB.

Untuk memasuki lahan parkir Candi simbol kebangkitan ini, kita di kenakan tarip Rp 5.000,- /mobil. Dan kemudian juga harus antri di loket wisatawan Nusantara serta membayar tiket masuk Rp 9.000,- / orang dan Rp 1.000,- / kamera.

Di dalam taman wisata ini pengunjung tidak di perbolehkan untuk membawa makanan di karenakan alasan kebersihan. Jadi jangan tersinggung karena sebelum masuk kita harus membuka tas kita untuk di periksa satu persatu.

Untuk menikmati dan membaca cerita relief Borobudur, kita bisa masuk melalui pintu timur dan bergerak searah jarum jam dan menempatkan candi di sisi kanan kita dari tingkat bawah sampai tingkat tertinggi. Konon sebagai penghormatan kita bisa memutari setiap tingkatan sebanyak 3 kali.Ketika keluar menuju tempat parkir kita akan di lewatkan di pasar souvenir yang menjual berbagai pernak pernik sebagai barang oleh2. Jika ingin membeli sesuatu yang khas dari kota ini pahatan batu berbentuk borobudur bisa di jadikan pilihan karena Magelang terkenal sebagai kota pemahat.

Belum tidur semalam dan perut yang berteriak minta makan bukan lah perpaduan yang menarik. Jadi kami mencoba mencari solusi keduanya sekaligus di Bladok Losmen & Restaurant. Jalan Sosrowijan 76. (0274) 560452. Kenapa Bladok? Karena makanan western food disini emang mantap punya. Dia membuat rotinya sendiri. Nih biar tambah ngiler ...
American Breakfast

Makanannya Popeye :p

Soal harga yah..relatif ya.Nih bocorannya.. ;) Ice tea Rp 5.000,-, American breakfast Rp 21.000,-

Sayangnya, karena masih musim liburan kami tidak mendapat tempat di sekitaran Malioboro. Jadi kami berputar sedikit lebih jauh dan akhirnya menemukan hotel Sala,dan karena kebetulan ini cabang ke 3 dari 5 cabangnya maka di namakan hotel Sala Tiga. Jalan Dagen 48 (0274) 580600. Hotel ini cukup bersih, dengan kamar mandi dalam dan teras sendiri. Karena sudah cukup lelah dan tidak ingin mengadu peruntungan lagi di masa liburan ini. Maka kami ambil 1 kamar ber AC tapi tanpa air panas. Maaf entah kenapa sepertinya bonnya terselip entah dimana, jadi tidak bisa memberikan kisaran harganya. Yang pasti cukup murah.


Banyak hotel dan penginapan murah di Yogyakarta. Di daerah Malioboro juga banyak rumah penduduk yg di sulap menjadi kamar2 yg disewakan. Jika Anda membutuhkan info hotel murah2 lainnya bisa klik di sini.




Setelah tidur pagi :p kami memilih Museum Ullen Sentalu di kawasan Kaliurang sebagai next stop.
Ketika memasuki kawasan Kaliurang akan di kenakan Rp 2.000,- untuk masing2 mobil dan orang.Museum sejarah Jawa dan keraton Jogja serta batik ini buka pada pukul 09.00 - 15.30 WIB. Dan tiket nya seharga Rp 25.000,- untuk wisatawan lokal. Rp 50.000,- for foreigner. Kita akan memasuki museum bersama2 dibatasi sekitar 10 orang /rombongan dan di pandu oleh guide yang akan menceritakan sejarah dari awal kita masuk. Museum ini tutup pada hari Senin. Sebelum memasuki "gua pohon" ini, kita di peringatkan bahwa tidak boleh mengambil foto didalam. Dan jika ada yang mau di titipkan, bisa menggunakan loker yang di sediakan free.
Ullen Sentalu merupakan singkatan dari “ULating blENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala Lampu Blencong sebagai Petunjuk Manusia dalam Melangkah Meniti Kehidupan”.

Museum ini bangunannya tidak tampak dari luar, malah terlihat seperti hutan dan seperti kita akan memasuki pohon beringin tua. Dingin, sejuk menambah suasana oldies dan mistisnya. Setelah masuk, kita akan memasuki ruang bawah tanah yang ternyata di dekorasi dengan wah..dan keren. Pokoknya keren n eksotis deh, dingin dan tidak bau.

Oleh sang guide kita akan di ajak melihat alat2 musik tradisional Jawa di ruang pertama. Dia bercerita dengan luwes dan cepat lalu membawa kami ke ruang berikut melalui lorong2 yang penuh berisi lukisan yang menceritakan sejarah kerajaan Jogja dan Solo serta keturunan Sultan. Tentang putri2 kerajaan yang ternyata tidak lah kuno. Mereka bahkan sudah bersekolah di luar negeri di jaman dahulu itu. Ada lukisan yang juga di buat 3 dimensi seorang putri yang fashionable, ada lukisan Pangeran Charles n Lady Di beserta Sultan. Ada lukisan yang di buat sedemikian rupa sehingga mata mereka yang ada di lukisan itu mengikuti arah gerak kita. (keren..). Lukisan2 ini di lukis oleh pelukis khusus kerajaan yang dirahasiakan namanya.

Tiba kami diruang lain, yang berisikan kumpulan puisi dari seorang putri yang dijodohkan dengan pria yang tidak dicintainya. Puisi2 itu di pajang dalam kotak2 kaca dan bahasanya begitu indah2. Sang putri bertukar surat dengan bibi dan sepupu2nya yang juga membalas dengan puisi balasan.

Di ruang lain adalah koleksi motif batik yang menjadi sejarah kerajaan Solo dan Jogja. Ada yang hanya di pakai untuk acara2 kebesaran dan lain sebagainya.
Berikutnya kami di ajak mengenal seorang putri yang sangat modern pemikirannya. Pandai berkuda, menguasai 4 bahasa dan menentang monogami dalam kerajaan. Beliau pernah menolak lamaran Pak Karno karena sudah ada istri2 sebelumnya. Di kisahkan dia baru menikah pada usia 30 tahun pada masa seorang gadis biasanya di nikahkan umur 10 tahun.

Melewati rimbunnya pohon2 kami sampai di ruangan lain yang tidak kalah dingin dr ruangan sebelum2nya. Lebih berasa dingin lagi ketika nama Nyi Roro Kidul di sebut. Dalam ruangan itu ada lukisan besar tentang tarian yang hanya boleh di tarikan pada saat raja naik tahta. Tarian ini ditarikan oleh 9 penari perawan dan harus dalam keadaan tidak haid serta berpuasa sebelum melakukannya. Bagi orang Jawa 10 adalah angka yg sempurna, sebenarnya ada 1 penari lagi yang diyakini ikut menarikannya yaitu Nyi Roro Kidul yang dalam lukisannya di buat sedikit transparan.

Terakhir kita di suguhi teh ramuan seorang putri keraton secara gratis sembari bisa melihat2 souvenir di toko yang berisi batik2 dengan banyak model. Teh ini konon bisa membuat panjang umur, terbuat dari campuran cengkeh, jahe, daun pandan dan ramuan rahasia dari sang putri.
Dengan pengetahuan baru kami pulang kembali ke Jogja. Kami menyempatkan diri berhenti di Gudeg Mbarek Bu Hj Ahmad yang berada di Kaliurang Km 10. Kami ingin menyantap hidangan khas Jogja tersebut. Enak nih apalagi perut belum terisi lagi. Rumah makan yg luas ini tampak kosong tapi kami jg harus menunggu karena ternyata banyak pesanan mrk terima.

Sejarah sudah, makanan khas sudah, kami kembali ke kawasan Malioboro tepatnya persis di sebelah stasiun kereta api. Kami sedang mencari sebuah minuman yang terdengar aneh bagi kami dan hampir2 susah membayangkan bagaimana meminumnya. Namanya Kopi Joss. Ternyata ini adalah minuman kopi (bisa juga teh) yang di cemplungin arang membara sehingga bunyinya josss.....dan itulah yang kita minum. Tidak higienis memang mengingat arang itu di ambil dari pembakaran air yang di gunakan untuk membuat kopi tersebut tapi cukup unik nan kreatif. Lek Wi sang pemilik angkringan mengatakan khasiatnya bisa buat badan hangat dan tidak gampang masuk angin. Di jalan ini ada beberapa angkringan(warung dan lesehan mgkn ya kalau di sini) dan penuh dengan remaja2 yg jg menikmati nasi bungkus murah dan gorengan. Angkringan2 ini buka sejak pukul 13.00 sampai pukul 04.00 pagi.

Ketika kami melihat jalanan Malioboro yang penuh sesak walau sudah mulai meringkas barang2 mereka, kami memutuskan untuk mencuci mata sejenak di kawasan belanja yang paling ramai di Jogja ini. Tapi kami hanya sekedar lewat karena kami baru akan menelusuri Malioboro dan Pasar Beringhardjo keesokan harinya.

Sehabis sarapan yang di sediakan dari hotel kami tetap beristirahat mengingat akan melakukan perjalanan panjang untuk pulang ke Surabaya lagi. Jadi kami mengumpulkan tenaga sampai waktu check out hotel kemudian menuju ke daerah Malioboro. Kami memilih parkir di sebelah Bank Indonesia karena kami ingin mencoba sebuah resto yg di rekomendasikan oleh seorang pengunjung angkringan di malam sebelumnya. Tidak mau membuang waktu dan tenaga, kami bertanya kepada pak polisi yang kemudian membantu kami memanggil becak dan menjelaskan pada pak becak ttg tujuan kami sekaligus menawarkan harga (baek banget deee pak pol nyaa...)

Kurang lebih 10 menit kami sampai di Bale Raos yang ternyata berada di dalam kawasan Keraton. Harganya termasuk tinggi tapi disini kita bisa menikmati hidangan yang di sajikan untuk Sultan dan tamu2 keraton. Pada menunya kita bisa melihat makanan mana yang di sukai oleh Sultan ke brapa. Misalnya Bestik Djawa atau Es Secang yang merupakan welcome drink untuk tamu2 kerajaan. Tidak terlalu memuaskan perut, tapi lidah cukup puas (alias....kurang banyak makannya hahahaha) Tak apalah, sekali lagi.. tempat yang unik dan tidak akan ditemui di tempat lain.
Es Secang (Minuman tamu kerajaan)
dan Beer Djawa (non-alkohol, minuman favorit Sultan HB VIII)

Bestik Djawa (untuk Sultan HB IX)

Bebek Suwar Suwir (Sajian khas Sultan HB IX)

Sehabis deg2an di jalan gara2 kita salah cegat bapak becak yang uda tua gitu(sampe nga tega deh duduknya) pake nabrak becak lain pula si bapak :( akirnya sampe deh kembali di kawasan Malioboro. Untuk menjawab si perut maka berhentilah kami di depan Pasar Beringhardjo untuk makan fastfood khas Jogja yaitu Pecel Pincuk. Wah makan pecel, tahu dan tempe bacem di sertai lombok sesuka hati. Puas dah....Mengingat saran tips dari teman2 lain, maka proses tawar menawar pun terjadi lah ketika kami memasuki pasar berisikan baju2 batik itu. Baju bayi, ibu hamil, baju tidur, hem kerja, semua ada dari batik. Kelihatannya selain karena musim libur, pasar ini jadi begitu penuh karena batik baru saja di canangkan sebagai warisan asli Indonesia.

Belanja di pasar ini lebih bisa di tawar daripada di luarannya alias jalan Malioboro. Kebanyakan barang di Malioboro hampir seragam harganya dari penjual satu ke lainnya. Jika ingin membeli oleh2 bisa juga membeli bakpia pathuk konon yang terkenal enak nomor 25 dan 75. Tapi ada pula toko di tengah2 malioboro itu yang menyajikan bakpia fresh from the oven (bak breadtalk gitu tmptnya). Bisa di cicip dulu sebelum membeli.

Kami menyusuri Malioboro sampai kaki berasa mau patah dan sepertinya mobil kami menjadi yang terakhir meninggalkan tmpt parkir. Segera kami menuju ke arah jalanan pulang Surabaya dan mampir di Mc D sebagai santapan akhir kami di Jogja dan untuk berganti baju dan menyegarkan diri menempuh malam, kali ini diriku sebagai driver sampai di Surabaya. (masuk rumah terus keluar lagi menuju Batu...hancur dah... tapi bahagia akhirnya sempat berlibur) :p

Sekian laporan dari Jogjakarta, doakan semoga punya waktu lagi dan jumpa di tempat yang lain ya.

Saturday, August 15, 2009

Old Town Batavia

Salam wisata,
Berkenaan dengan semangat kemerdekaan aku coba ulas tentang old batavia ya :p

Lama banget kaki ini tak melangkah. Kali ini aku ada berkesempatan ke Jakarta walau cuma 2 hari. Inipun tidak bisa di bilang berlibur, namun aku menyempatkan mencuri waktu melihat Tugu Monas. Iya, hahaha baru kali ini diriku melihat tugu monas.


Jadi begini ceritanya, aku ingin membagi info hotel yang murah meriah yang letaknya cukup strategis dan yang penting bersih. Namanya Hotel Kana. Letaknya di Jalan Antara 39. Pasar Baru. Tidak mewah memang malah kesan hangat dan kekeluargaan lebih terpancar dari para staf hotel ini. Harga kamar tergantung di tingkat brapa kamar yang kita pilih karena tidak ada lift untuk tamu. (bagi yang merasa muda, nga susah2 amat kok olahraga naik tangga hihihi). Lantai 1-2 mempunyai harga sekitar 250rb dan 275rb kalau tidak salah. Lantai 3-5 berharga 200ribu rupiah. Harga ini sudah termasuk breakfast berupa roti tawar, kopi / teh yang bisa kita ambil sebanyak kita mau. Self service ye.. :p
Info hotel murah lainnya di Jakarta
Jika kita berjalan ke arah kiri, kita akan segera menemui Gedung Antara konon di gedung yang di bangun sejak sekitar tahun 1920 inilah naskah proklamasi di kumandangkan ke seluruh dunia. Gedung ini sekarang berubah fungsi menjadi tempat galeri foto para wartawan Antara. Semacam gedung untuk pameran fotografi dengan tema yang berganti2 setiap waktu tertentu.

Tak jauh, kita langsung akan bertemu dengan gerbang utama PASAR BARU. Kawasan ini di bangun sejak tahun 1820, dan merupakan kawasan elit yg di bangun oleh pemerintah Belanda dulu. Semacam kawasan Menteng kalau jaman sekarang. Tidak ada kendaraan boleh melewati kawasan ini. Kita bisa berjalan kaki menyusuri sekian banyak toko yang berjajar di kiri kanan. Ada toko sepatu, kain dan tailor, baju, minuman, makanan, alat2 keperluan fotografi, alat olahraga, bahkan ada 1 toko serba ada lengkap dari A-Z. Ada retail seperti Rimo. Ada fastfood seperti A&W. Pokoknya semua ada deh disini. Termasuk beberapa orang yang memperdagangkan uang asing dan kuno di kaki lima.Bagi penggemar filateli, persis di depan hotel ada Gedung Filateli Indonesia. Sayang saya belum sempat mampir melihat2. Di seberang juga ada banyak pelukis sketsa, karikatur dan lukisan cat berjajar.

Dari kejauhan di arah kanan hotel, kita bisa melihat puncak Monas. Dengan tekad bulat melawan kantuk aku coba berjalan pagi2 menuju ke arah itu. Dan sekitar 15 menit jalan santai, aku bisa berfoto dengan monumen nasional yang menjadi monumen peringatan semangat perjuangan revolusi kemerdekaan 1945.

Minggu pagi itu banyak sekali orang disana, sebagian besar adalah rombongan yang berwisata, sebagian lain adalah warga Jakarta yang berolahraga, bersantai piknik dengan kluarga atau bersepeda santai. Di depan gerbang kita jumpai banyak sekali bajai dan andong yang siap mengantar kemana kita mau pergi. Di tengah2 lapangan yang sangat luas dan hijau ini ada sekumpulan pedagang yang tergabung dalam 1 asosiasi yang menjual souvenir dgn berbagai macam benda bergambar Tugu Monas.

Malam harinya seorang teman yang tinggal di Jakarta mengajakku mencicip makanan di kawasan Pangeran Jayakarta (Daerah mangga dua, JAKpus). Kami makan di Bakmi Kepiting A HOK yang konon terkenal di kalangan penggemar kuliner. Lalu di tempat ini juga ada makanan yang menarik namanya Sekoteng. Bagi orang Surabaya mungkin begitu mendengar kata Sekoteng = minuman jahe dengan labu dan jelly kering. Namun ada yang beda dengan sekoteng ala jakarta ini. Coba di simak gambar dibawah. Ini semacam makanan sehat ala keturunan Chinese Indonesia. :p Tanpa jahe sama sekali ... hehe..

Sekian dulu liputan TouristpasS dari old batavia...

Wednesday, March 26, 2008

Road Trip : Madura Island

Long Weekend di akhir bulan April ini akhirnya memberikan kesempatan untuk sekedar melepas kerinduan pada alam. Jadi kali ini kami memutuskan untuk mengelilingi pulau Madura.

Day 1
Pulau Madura tidaklah jauh dari Surabaya, kita hanya perlu menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak(Ujung) dan kemudian menumpang kapal Ferry yang tersedia dan berangkat setiap 15-30 menit sekali sepanjang hari ke Pelabuhan Kamal, Madura. Kami tiba di Ujung jam 15.00 dan kebetulan mendapat FERRY CITRA DHARMA yang sangat menyenangkan. Ferry ini sangat bersih, di dek pertama di lengkapi oleh ruang duduk ber-AC dan toilet yang bersih pula. Dek kedua dilengkapi dengan outdoor playground untuk anak2 dan dinding2 kapal jg di hiasi gambar2 menarik untuk anak2 dan beberapa tumbuhan jg menghiasi sisi2 kapal tersebut.
Di dek ketiga terdapat ruang kemudi dan juga kantin yang di mejanya jg terdapat papan catur, ular tangga atau halma untuk dimainkan penumpang. Di dek ini pula ada sebuah sudut "tempat berkumpul darurat" dengan lukisan dinding yang menarik pula. Jadi kalau diandai2kan kapal ini mirip2 kapal pesiar ekonomis kali ya? :) Penyeberangan memakan waktu 24 menit (ini informasi dari nahkoda kapal di ruang kemudi yang kita ajak berbincang) tidak termasuk waktu tunggu masuknya mobil ke kapal dan waktu sandar.Setiba di Kamal, Madura kita langsung lurus menuju arah Bangkalan yang bisa kita capai dalam waktu 15- 20 menit. Kami memutuskan untuk lanjut dulu ke Sampang yang kami tempuh dalam waktu 1 jam 15 menit-an. Sampang pun kemudian kami lalui dan kami lanjutkan menuju Pamekasan dengan waktu 1 jam dalam guyuran hujan. Kami membuktikan ternyata orang madura suka membantu serta baik2 dan ini telah memperlancar perjalanan kami.

Di Pamekasan kami menyempatkan diri survey beberapa hotel yang terkenal disana. Yang paling kami rekomendasikan adalah
Hotel New Ramayana : Jalan Trunojoyo 88 (0324) 333237,333607
Hotel ini nyaman dengan taman yang cukup asri dan juga kamar hotel yang bersih dan baru. Harganya jg tidak mahal cuman 130ribu untuk 2 orang dengan fasilitas lengkap (TV, air panas, breakfast,springbed) Kelemahannya hotel ini masih 5 menit (mobil) dari pusat kota jauhnya.

Hotel Putri Restoran & Karaoke : Jalan Trunojoyo 107 (0324)322872
Hotel ini lebih ramai dikunjungi orang karena terletak di tengah kotanya dan juga ada restoran dan karaoke yang menjadi hiburan disana. Cukup bersih namun kenyamanannya masih kalah dengan new ramayana karena bangunannya jg lebih tua. Ada yang unik dengan hotel ini. untuk kelas standarnya adalah Rp 125.000,- dan superiornya adalah Rp 175.000,-. Apa coba
bedanya? hehe tak lain dan tak bukan adalah remote TV, dimana jika kita ngambil standard kita nga dapat remote tv. :)
Hotel murah lainnya di Surabaya (7 menit dari Bangkalan via Jembatan Suramadu)
Dari orang2 di hotel tersebut kami mendapat info ada sebuah kawasan tempat berjual makanan bernama SAE SALERA. Disepanjang jalan 1 arah ini berbagai makanan khas Madura di jual. Ada sate lalat,sate ayam, sate kambing, nasi gule, mie goreng, nasi goreng, seafood, bebek ayam goreng. Kami mampir di warung lesehan H. Dody / P. Ento yang menjual sate. Langsung aja aku tanya berapa 10 tusuk gitu ? Kata si bapak Rp 5.000,-/porsi. Ya uda aku pesen 2 porsi + lontong untuk aku sendiri. Dan ternyata .... hehe 1 porsi tuh kalo disana brarti 23 tusuk, kenyang dahh...hahah. Untung sih ternyata maksudnya sate lalat itu, jadi si ayam tuh dagingnya kecil2 seukuran lalat sehingga kalo sekali lahap bisa 5-6 tusuk sekaligus :p ketahuan rakusnya deh!
Di sebelah kami duduk sekeluarga orang Pamekasan yang kemudian kami ajak ngobrol pula sekilas kota ini dan menyarankan kami mencoba nasi gule. Maka tak lama kami berjalan kaki menuju tenda nasi gule,tapi kami tak berhasil mencobanya karena sudah habis.

Dengan cuaca yang dingin dan tdk hujan kami mengunjungi Dhangka (Api Tak Kunjung Padam) yang berjarak sekitar 15 menit dari pusat kota tersebut ke arah balik ke Sampang. Sampai di lokasi ada retribusi sebesar 1500 / mobil. Lokasi api itu adalah sebuah areal kecil berdiameter krg lebih 3-4 meter di batasi pagar pendek. Di sekelilingnya ada bbrp kedai berjualan baju,camilan, minum dan bbrp barang khas madura seperti cambuk dan celurit. Sepertnya api itu adalah hasil dari semacam gas dari dalam tanah sehingga terus menerus menyala sekian tahun. Penduduk sana pun sudah tidak tahu tepatnya kapan api ini ada.
Mereka memanfaatkannya untuk keperluan memasak sehari2 mereka juga.
Kesepian yang menyelimuti kami berdua dan 4 turis lainnya pecah oleh kedatangan sekelompok anak2 muda dari Talang (1/2 jam dari Pamekasan). Mereka ber-10 menghidupkan suasana dengan bernyanyi seru dengan gitar, dan membakar potongan2 ayam mentah yang mereka bawa. Suasana menjadi semacam suasana kemping dan kami mulai mengajak mereka ngobrol, bertukar cerita, dan mrk juga memberikan petunjuk2 seputar perjalanan kami.
Sekitar 1.30 jam berikutnya kami berdua di ajak mrk ikut menyantap hidangan ayam bakar mrk dgn bumbu yang sudah mereka siapkan. Walau kelihatannya tidak menarik, tapi keramahan mrk dan canda tawa kami membuatnya menjadi hidangan yang cukup menyenangkan. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 23.00 kami segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Sumenep karena tidak ada lagi yang bisa kami lakukan di Pamekasan.Sumenep kami capai dalam waktu 1 jam 30 menit lalu kami segera mencari hotel yang terkenal disana :
Hotel Sumekar dan Utami Sumekar : Trunojoyo 51 - 53 (0328)672223.
Superior room nya Rp 150.000,-Hotel ini luas banget! Tapi keadaannya tidak sebersih dan terawat hotel2 di Pamekasan. Suasana lama dan pengap menyambut kami ketika melihat kamarnya.

Hotel Wijaya 1 & 2 : Trunojoyo juga (tapi kami lupa meminta kartu namanya)
VIP roomnya Rp 100.000,-
Hotel Wijaya 1 : hotel ini sebenarnya hotel sales yang sederhana namun jg punya bbrp kamar VIP yang setelah kami lihat lebih bersih sedikit dari Utami dengan kamar mandi dalam
Hotel Wijaya 2 : Kami melongok kamar VIP yang dimiliki mereka dan ternyata kamar ini bisa buat main bola kali di dalamnya.hahaha ... dengan kamar mandi dalam, 2 bed kapuk besar, 1 set sofa dan meja,TV dan 1 lemari es tua yang tidak tahu bisa berfungsi atau tidak, dan AC lama juga.

Merasa belum cocok, kami berputar2 lagi dan mampir ke Hotel Safari yang tingkatnya dibawah yang 2 tadi. Kemudian dengan rekomendasi si bapak penjaga kami menuju Hotel Garuda yang keberadaannya tidak ada di panduan kami.
Hotel Garuda : Jalan Trunojoyo 280 (0328) 665543
Tampak depannya adalah sebuah rumah besar. Tidak terlalu banyak kamar yang dimilikinya tapi kebersihannya terjamin. Gambar dibawah adalah gambar ruangan yang kami tempati dengan harga Rp 100.000,- sangatlah murah dibanding hotel sebelumnya yang kami lihat. Fasilitasnya : AC baru, 2 springbed, kamar mandi dalam, TV,air welcome drink botol tanggung,sabun mandi kecil,handuk dan makan pagi (nasigoreng, telur, ayam, dan teh manis).Murah abis kan?? Dewi fortuna masih menyertai kami :p
Day 2 
Setelah merencanakan perjalanan kami di subuh hari tadi sebelom tidur, maka jam 6.00 alarm sudah berteriak2 membangunkan kami. Dengan semangat kami membuka mata, beres2 dan breakfast sebelum check out dan melanjutkan perjalanan ini.
Sang bapak penjaga hotel yang baik hati memberikan info tambahan kepada kami agar berangkat ke Pantai Slopeng dulu sebelum ke Pantai Lombang karena Lombang lebih rindang pepohonannya. Maka kami memutuskan untuk menurutinya. Sebelumnya kami menyempatkan diri mencoba jajanan khas Sumenep yaitu Apem (atau di baca Apen disana). Lokasinya ada di jalanan menuju Lombang di Jalan Gapura, ada 2 kedai yang kami lihat disana, kami mencoba kedai pertama. Apen ini hanya di jual di pagi hari jadi kalau tidak mau kehabisan jangan datang siang2 ya. Apen yang dijual disini ada 2 jenis : dengan atau tanpa telur. Harganya
sama saja, dan di patok Rp 4.500,- /10 buah dan penyajiannya dengan di siram gula aren.

Lanjut lagi, kami segera menuju Slopeng. Dan sejak awal perjalanan ini kami melihat sesuatu yang menarik dimana ada banyak sekali PBV (Perkumpulan Bola Volley) yang tak terhitung jumlahnya walau ada yang benar2 berupa lapangan dan ada juga yang mendirikan net di tanah kosong saja, bahkan sampai perjalanan pulang kami pun masih banyak PBV bertebaran. Papan PBV itu di sponsori oleh Sampoerna Hijau, setelah selidik punya selidik ternyata Madura sedang di landa demam Volley!! Di pantai, di teras rumah, di sekolahan, bahkan pagar rumah pun jadi net volley!!! hehehhe .... semangat volley terasa banget dan herannya, banyak banget pemuda pemudi di pulau itu yang cukup mahir bermain volley.
1 jam kemudian kami tiba di Slopeng setelah melewati sawah2 yang subur menghijau dengan petani2 yang baik hati dan ramah. Sampai di lokasi kami di tarik Rp 5.000,- sebagai biaya masuk. Ada beberapa gazebo2 kecil untuk berteduh, dan banyak nyiur di tepi pantai yang sedang surut. Keadaan tempat wisata ini bisa dibilang cukup bersih dan terawat. Memuaskan diri untuk bermain dan menikmati pantai itu sebentar lalu kami melanjutkan perjalanan ke Lombang.

Kami tak mengira kami bakal di hadang oleh jalanan tanah tak beraspal yang tak kunjung habis dijalanan yang menghubungkan Slopeng dan Lombang. Sebenarnya ada jalan lain menuju Lombang tapi dari kota Sumenep. Kami memilih menikmati perjalanan menyusur persawahan dan perbukitan kapur ini, bahkan kami menyempatkan diri untuk menepi dan melihat lokasi penambangan kapur di sana.
1 jam perjalanan kami tempuh dengan kecepatan 10-20 km /jam di desa ini, terlihat sekali sepertinya jarang atau bahkan langka sebuah mobil bukan truk melewati jalan ini,bahkan mata sang sapi pembajak(banyak banget disana) juga mengawasi mobil kami dari kemunculan kami sampai menghilang di ujung mata mereka(lucu banget deh sapi2 itu).Sempat juga kami harus merepotkan sang petani untuk menggiring para sapi untuk keluar jalan demi membiarkan kami lewat dulu.Selepas desa ini, kami masih dihadang jalan aspal yang buruk sebelum akhirnya kami bertemu dengan jalanan aspal yang bagus dan normal. Kami menghabiskan 1/2 jam lagi setelah keluar dari jalan tanah jelek tersebut sampai akhirnya kami tiba di Lombang.
Pantai Lombang bisa di samakan dengan rata2 pantai lain di Indonesia dan memang lebih teduh dan luas dibanding Slopeng. Ada penjual makanan dan minuman juga dan harga yang mereka berikan sangatlah murah untuk sebuah tempat makan di sebuah tempat wisata. 1 buah degan muda hanya dipatok Rp 2.000,-. Saya menyempatkan diri mencoba Rujak Madura yang terlihat berbeda dengan rujak Surabaya. Rujak madura ini memakai petis ikan dan tanpa kecap manis, jadi rasanya asin2 dengan rasa kacang keras sebagai bumbunya. Isinya : ketupat, sayur, timun, kedondong. Hummm di makan pedas nikmatnya top deh!! Sepiring rujak ini juga cuman Rp 2.500,-
Dengan perut yang cukup penuh perjalanan kembali ke Sumenep kami lakukan.45 menit kemudian di kota Sumenep kami memanjakan naga2 di perut kami dengan mencoba Soto Sabreng khas Sumenep di jalan Irama. Sebenarnya kami mencari warung Ny. Harpini di
jalan Letnan Ramli no 1 yang katanya sudah berjualan sejak tahun 1955, tapi kami tidak menemukannya. Dalam pencarian kami, ada ibu2 bersepeda motor yang dengan sangat baik hati memandu dan mengantar kami ke depot di jalan Irama itu. hehe... ya uda kami coba disana lah. Soto Sabreng tuh berisi babat, usus, singkong, lontong,kemudian di siram saus ulekan kacang, petis ikan dan cabai kalo mau dan selanjutnya di siram kuah soto. Hehe nga parah2 kok rasanya, enak juga. Kami merogoh kantong sebesar Rp 13.500,- untuk 2 porsi soto dan 2 gelas teh.Seneng deh makan kenyang trus dengan harga murah :pSetelah kembali kami mendengarkan bbrp petunjuk dari pemilik depot kami membeli beberapa camilan khas sumenep yang kebanyakan berupa hasil laut yang dikemas sebagai oleh2 khas daerah ini tak jauh dari depot itu.

Ternyata kenyang nga menjamin kita nga kesasar hahahaha.... tapi nga lama kami menemukan Keraton Sumenep yang kami cari di belakang alun2 kota ini. Ada biaya Rp 1000,- / orang untuk karcis masuk museum keraton dan kemudian kami harus dipandu oleh petugas untuk masuk ke dalam keraton. Sang bapak pemandu mulai bercerita asal usul dan sejarah kota ini sembari memperlihatkan barang2 peninggalan kerajaaan yang usianya berusia ratusan tahun.
Sayang sungguh disayang, keraton ini tidak sebersih penampilan luarnya. Sungguh sayang, banyak foto2 lama yang rusak, barang2 yang berdebu tanpa perawatan khusus yang dibutuhkannya, lapuk rusak dimakan usia. Banyak benda2 sejarah tergeletak begitu saja di dalam etalase. Bahkan ada fosil tulang utuh paus yang cukup besar penuh dengan sarang spiderman.

Satu2nya ruang yang terawat dan sakral adalah tempat tidur Putri Kuning (ibu dari Jokotole, seorang tokoh Sumenep di jaman kerajaan dulunya). Areal itu tidak boleh dimasuki, kita hanya
bisa mengintip dari lubang jendela kamar sang Putri. Kolam mandi sang Putri sekarang telah berubah fungsi sebagai kolam ikan dan air sumber yang mengalir sejak jaman dulu itu di yakini bisa membuat awet muda. Selesai berkeliling, kami memberikan sedikit tips sekedarnya untuk sang pemandu. Sempat dia menyarankan kita untuk tidak ke Kalianget (15 menit dari sana) dimana ada Ladang Garam yang menarik untuk dilihat, tapi tidak pada musim hujan. Pada bulan2 musim penghujan, tambak belum di gunakan dan hanya merupakan tambak tanah biasa dengan ikan2.
Ya sutra, puas mengelilingi Sumenep kami melanjutkan road trip ini keluar menuju Pamekasan. Namun kembali kami mampir dulu di Vihara Avalokitesvara yang berada di daerah Talang (45 menit dari Sumenep). Vihara ini unik karena benar2 mencerminkan kerukunan hidup umat beragama. Vihara ini menyediakan tempat ibadah untuk agama budha, hindu, islam, konghucu. Kami tidak berhasil menemukan yang untuk kristen tapi kami yakin pasti jg ada di sana. Tak berlama2 setelah menyempatkan diri untuk berterimakasih dan bersembahyang kami melanjutkan perjalanan.
Tak lama kami berhenti di Pantai terakhir yang ingin kami kunjungi, Pantai Camplong. Betapa kecewa, ini pantai terburuk yang kami lihat sepanjang perjalanan ini. Kotor, kumuh, tak terawat, bau tak sedap semua menyambut kami ketika kami tiba disana. Kami tidak perlu membayar karcis karena loket sudah tutup. Ada Camplong Beach Hotel persis di pantai ini, tapi ..... menyedihkan sekali kondisi hotel yang mungkin dulunya jaya ini. Hotel besar,cottage2 yang mungkin dulunya terlihat cantik dengan 2 kolam renang besar yang skrg lebih hitam dari warna air di tambak.Sungguh sayang ...

Ya sudahlah kami segera meninggalkan pantai ini dan segera menuju Bangkalan, kota pemberhentian terakhir kami. Di Bangkalan seharusnya ada makanan khas yang cukup lezat seperti nasi petis depot Amboina di sebelah masjid Jamik yang berupa nasi, lauk daging, paru, bihun, telur rebus dengan bumbu petis dan sambal.Nasi serpang (nasi putih,ikan, rempeyek udang, bihun dan telur
asin) dan sate lappa (sate daging dengan bumbu kacang dan kecap), bebek ketengan,bubur madura, sate sumsum. Tapi...... smuanya hanya dijual di pagi hari.hahahaha ....

Kami mampir di sebuah toko oleh2 khas bangkalan Nusa Indah Jln KH Moh Kohlil 105 (031)3091608. Dijalanan ini juga banyak sekali warung2 tenda yang menjual makanan tapi ya... bukan makanan yang khas sih. Dari sang penjaga toko yang ramah kami di
rekomendasikan untuk makan bebek madura di Warung Barokah beberapa meter dari sana. Warung ini bukan warung tenda, sudah hampir mirip depot. Yang menarik, di dinding warung ini ada sebuah pengumuman pemerintah bahwa warung ini terkena pajak PPn 10% hehehe nga tau beneran nga itu, bebek yang dijual seharga di Surabaya sih masih umum kok. Dengan sambal mentah hasil ulekan saja, dan bumbu racikan berwarna hitam kekuningan dan asin hummmm ini menjadi hidangan penutup yang lumayan indah.
Mohon maaf karena 1 dan lain hal sang naga2 di dalam perut mengacau, jadi langsung santap sampe lupa ambil foto nya.hehehe

20 menit kemudian kami sudah di atas kapal ferry (kali ini ferry yang seperti pada umumnya). Mengambil tempat di anjungan paling atas kami memandang Madura dengan lampu2 nya untuk terakhir kali dan menutup perjalanan kami.