Friday, September 29, 2006

Amazing Thailand 2 - Bangkok

Part 1 : Phuket

I'am so lucky to experience the new Bangkok International airport yang baru diresmikan berjalan hari ini pada pkl 20.00, dan Suvarnabhumi Airport ini bener2 designnya modern punya deh!

Aku di sambut hujan deras, setelah diberi informasi oleh orang2 yang sengaja di siapkan untuk membantu pengunjung (karena baru dan besarnya airport ini), maka aku tahu bahwa untuk mencapai public transport kita harus naik free shuttle bus menuju stationnya sejauh 20 menit. Lalu sesuai dengan petunjuk aku naik bus 551 yang seharusnya berhenti di Victory Monument, namun setelah hampir 2 jam perjalanan menuju tengah kota, bus itu malah menepi di halte di jalan yang cukup gelap dan sepi untuk ukuran tengah kota. Seorang backpacker lain dari Swedia ikut turun bersama ku, alhasil kami bingung karena menurut pendengaran kami pak kondektur bilang kami harus ganti bus nomor 70 tapi ternyata yang dimaksud adalah 17 yang pengucapannya dalam bahasa Inggris adalah mirip.
Teman perjalanan ku turun di Siam Square daerah pusat perbelanjaan di Bangkok. Aku masih harus ganti bus no 15 untuk menuju daerah Kaosan Road daerah pusatnya backpacker berkumpul. Gerimis menyertai ketibaan ku di sana, dengan perut kosong dan lumayan kedinginan aku langsung menuju Kaosan Palace Hotel yang kudapat infonya melalui net. Hum... saking lamanya sampe lupa harganya..... kalo nga salah about THB 500. Hotel ini tidak mewah malah sangat susah mau dikatakan hotel, tapi memang kamarnya banyak.

Day 5
Kaosan Road, juga dikenal sebagai surganya backpacker. Kalau mau membayangkan persis dah sama Legian-nya Bali. Jalan ini tidak dibuka untuk kendaraan di sore hari. Yang ada disana hanyalah lautan manusia yang menikmati suasana hidup di sepanjang jalan itu. Di kiri kanan jalan penuh dengan bar-bar dan cafe, moneychanger, toko segala macam souvenir, foot massage, bookstore, cd bajakan, dannnnn makanan.......

Pagi ini cerah, aku putuskan untuk berkeliling ke temple2 yang sangat terkenal keberadaannya di Bangkok. Sebelum membuat kaki ku bekerja keras hari ini aku menanyakan beberapa informasi ke resepsionis. Dan yang sangat di tekankan olehnya ... (yg jg telah di peringatkan oleh seorang ibu2 penjual kelapa bakar di Phuket) " DON'T TRUST THAI MAN"

Dengan menggunakan tuk2 yang menawarkan THB 10 untuk keliling 4 temple aku akhirnya mencoba kendaraan khas Thailand itu. Satu lagi yang harus diwaspadai di Bangkok ini "JANGAN BERURUSAN DENGAN JEWELRY JIKA ANDA BUKAN AHLI" peringatan ini bahkan ada di box Tourist Information Centre. Ini dikarenakan banyak sekali penipuan berhubungan dengan perhiasan di kota besar ini apalagi terhadap single women traveller.
Find the Tourist Information Center to find the right information. Don't trust a thai man you find somewhere on the street. If you really need to ask, ask many people. And this message from the Information Center booth : DON'T TRUST IF SOMEONE TOLD YOU : TODAY IS A HOLIDAY AND PALACE AND MANY TOURIST ATTRACTION IS CLOSED UNTIL NOON. They will lead you to many other place (where they'll got a commission if you buy something there)
So, aku keliling berbagai tempat yang di kenal sebagai icon Bangkok sampe kaki ku lecet. Tapi asik juga sih...hehe....matahari masih mau menyertai perjalananku. Ada Golden Temple yang merupakan kuil tertinggi di Bangkok, sehingga kita bisa liat pemandangan kota Bangkok dari atapnya. Lalu ada Wat Po, sebuah kuil tertua di Bangkok yang dulunya merupakan pusat belajar raja2 Thailand. Di dalam kuil ini ada patung Budha Tidur yang sangat terkenal berwarna kuning emas hehe ..pokonya panjang banget.



Oh iya ada peringatan lain buat temen2.Dalam perjalanan pulang ada taman besar banget dengan merpati memenuhi jalanan. Karena menarik aku berhenti sebentar menonton kumpulan besar merpati itu jalan2 di trotoar yang ramai dengan penjual es, orang duduk2 di kursi taman, dsb. Tak lama datang seorang cowok Thai yang lumayan lusuh menawarkan sebungkus kecil biji2an jagung ama beras mungkin buat kasih makan merpati2 itu. Aku bilang tidak dan mulai melanjutkan perjalanan, dia masih mengikutiku dan memaksa memberikan sampe jatuh2 segala tuh biji2an. Alhasil dia minta duit untuk jagung2 itu. Dengan nada marah aku bilang NO! sambil trus berjalan.

Malam hari aku habiskan waktu menikmati Kaosan Road, keinginan hati sih mau lihat daerah Siam Square yang terkenal tapi gerimis mengurungkan niatku. Aku mencicipi Pad Thai (semacam kwetiau) dan sekali lagi aku jatuh cinta pada makanan Thai dengan acar cabe yagn gede2 n enak ini. Hummm .. lalu aku pesan minibus untuk ke airport di travel agent di Kaosan Road. Harga yg ditawarkan macam2 tapi harga termurah yagn aku dapat adalah THB 120 dari Kaosan ke Suvarnabhumi Airport.

Day 6
Dimulailah lagi kencanku dengan Airasia. Jam 4 pagi aku sudah bangun karena aku dijemput jam 5. Setelah menanti hampir 2 jam di airport akhirnya gate check-in penerbangan Bangkok - Malaysia dibuka, segera setelah check-in bagasi (walaupun kecil tapi uda nga kuat bawa :p) aku bayar international airport tax sebesar THB 500. Airport ini bener2 keren deh dalamnya, keren abis dah! Di pesawat kembali aku punya temen baru, anak Bangkok namanya Amy, penerbangan kali ini nga terlalu terasa lama karena kami banyak ngobrol tentang berbagai hal.
Sesampai di KLLCC (airport khusus AirAsia) aku melanjutkan perjalanan ke Surabaya, nah ini deh udah penyakit yang namanya penumpang dari Malaysia ke Indo yang rata2 orang Indo ini nga tau yang namanya "antri" aduhhh uda gate check-in penerbangan jurusan ini slalu kayak pasar, main serobot! Jadi harus balapan di sini yang nga punya malu slalu lebih menang.

Sukur akhirnya sore hari aku menginjak Surabaya dengan selamat.

Sunday, September 24, 2006

Amazing Thailand 1 - Phuket

Now everyone can fly... and today I'll fly to a beautiful and ethnic country ... Thailand.

Day 1 ( Airport Day )
Kali ini I'm going alone, karena pada susah mau nyocokin jadwal ama teman2 (tahun lalu maksudnya ) ;p So, jam 10 p.m aku dianter ma Pei ke Juanda, soalnya penerbangan ku di delay ampe jam 00.00. So, aku nunggu sekitar 1 jam di Juanda,stlh byr airport tax domestic (Rp 30.000,-) lalu terbang ke Cengkareng. Sampe sana, nunggu lagi ama tiduran di airport +- 2 jam. Setelah check in n bayar fiskal (Rp 1 juta ....grrrrr) n bayar airport tax internasional (Rp 100.000,-) tunggu lagi 2 jam .....grokkk...grokkk.... akirnya brangkat ke Kuala Lumpur. Sampe KL masuk di terminal KLLCC,terminalnya budget airlines. Tunggu lagi 2 jam, dengerin mp 3 ku n baca buku n makan McD. Akirnya brangkat ke Phuket, fieuh.....dikit banget isi pesawatnya. Aku bisa bobo pake 3 kursi ....nyenyak deh...

Day 2 ( Phuket )
Akirnya setelah sktr 2 jam perjalanan, aku tiba di Phuket. Di airport ini tersedia berbagai macam penawaran jasa travel untuk booking hotel/tour/car, dsb. Jangan tertipu dengan tulisan loket Pusat Infomasi Pariwisata Thailand Selatan karena ternyata ini juga hanyalah sama juga travel2 yang lain, malah lebih mahal lagi. Ada layanan minibus ke daerah Patong Beach seharga THB 150. Jadi kita langsung di antar ke hotel/tempat tujuan kita di daerah Patong yang berjarak sktr 45 menit dari airport. Sebagai first timer di negara ini akirnya aku putuskan booking hotel dari airport ini. Ternyata di jalanan di dekat airport banyak travel yang menawarkan harga hotel lebih rendah. Wah... ya uda ikhlas deh :( pengalaman emang mahal. Hahaha... Ternyata mudah sekali cari hotel di Patong Beach, karna sejauh mata memandang, bisa kita temukan hotel dari kelas melati ampe bintang 5.

Recomended Hotel : Aloha Villa @ Rat - U - Thit Road, Patong Beach - I'm staying here
The Nice Hotel - 205/14-15 Rat-U-Thit Rd, Patong Beach (THB 500)
(Ini 2 hotel yang aku masuk bener2 liat roomnya. Ada TV, air panas, balkon, double bed,lemari es) O ya, harga di atas berlaku pas low season.

Aloha letaknya lebih strategis, cuman 5 menit jalan kaki ke pantai. Yang Nice 10 menit lah. Tapi tak usah bingung masalah transportasi di Phuket bagi Anda yang biasa berkendara. Sepanjang mata memandang pula, bisa terlihat tulisan FOR RENT diatas spd motor or mobil dipinggir jalan.

Sambil mencicipi bbrp makanan yang menggiurkan di pinggiran jalan di sktr hotel, aku juga survery harga sewa motor. Untunglah hujan gerimis tidak terlalu mengganggu kegiatan explorasiku. Malam menjelang, lampu lampu bertebaran di kiri kanan BANGLA ROAD. Jalan itu ditutup untuk kendaraan dimalam hari, sebagai gantinya lautan manusia memenuhi jalan yang penuh dengan bar, diskotik, Kickboxing Gym, and segala macam toko. Pramusaji n ladyboys mempromosikan bar nya masing2 dalam bahasa Thai yang bersahut - sahutan. Alhasil Heineken pun laris kayak kacang goreng, itu kayak minuman kebangsaan disono kali ya. Yah disinilah pusat kehidupan malam di Phuket. Walau sarat dengan kehidupan malam, orang Thai sangat kental kehidupan beragamanya. Bahkan di depan bar - bar itu bisa ditemui tempat sembahyang yang sangat terawat. Tempat sembayang ini bisa ditemui hampir disemua sudut kota Phuket.

Setelah puas berkeliling, capek mulai menghajarku, maklum dari kemarin blum tidur dengan benar. So, aku balik ke hotel yang cuma bbrp meter dari Bangla Road n langsung menghilang dalam mimpi.

Day 3 (Beach Day)
Setelah re-charge batere kakiku, pagi2 jam 8 aku sudah kluar hotel. Cuaca mendung masih sama kayak kemarin. Hum... tapi tak lama aku sudah tau pola hujan disana yang aneh banget. Kalo hujan nga perlu bingung, karena nga akan lama turunnya. Kita tidak akan pernah bisa menebak kapan ujannya datang, karna hujan bisa sangat deras tapi menit kemudian panas datang.Begitu pula kalo lagi panas, menit berikutnya tiba2 hujan.

So, akirnya aku memutuskan sewa sepeda motor di dekat hotel. Aku memilih tempat persewaan yang cukup terlihat bisa dipercaya (orangnya punya toko disitu) karena kita harus meninggalkan passport ke dia sebagai jaminan. Sebagai gantinya kita dapat surat tanda trima. Aku dapat harga THB 200 soalnya bensinya masih lumayan full. Kalo nga ada bensinya bisa dapet THB 150. Ada pilihan automatic n manual motor di sana, tapi ... aku kan nga pernah naik yang automatic, so ...ya aku pake yang biasa aja. Bapak yang menyewakan motor cukup baik, aku di bonusi ama dia dibawain jas hujan plastik gitu, jadi krasa aman deh.

Berbekal petunjuk arah dari resepsionis hotel n juga beberapa peta wisata Phuket, akhirnya aku menuju ke Karon Beach dulu. Humm...udaranya dingin segar, sepanjang perjalanan kesana aku melalui tebing yang di kiri kanan nya pepohonan. Jadi inget lagu anak2, naik2 ke puncak gunung ....tinggi2 sekali ....hahaha.... Untung aku pake sweater deh. Papan petunjuk jalan di Phuket sangat tourist friendly, tidak perlu takut nyasar deh. Akirnya sekitar 15 menit aku sampe. Disana masih sepi, anginnya bener2 keras, ombak bergulung2. Santai n tenang,hanya terlihat beberapa orang berjalan di tepi pantai.

Dari Karon , pantai selanjutnya adalah Kata Beach, tapi bolak balik aku cari tuh pantai nga ketemu yang ketemu malah pecahan kecilnya yaitu Small Kata (Kata Noi). Tapi Small Kata ini sepertinya sudah tertutup untuk umum, yang boleh masuk hanya tamu hotel bintang 5 yang letaknya tepat di seberang pantai itu.

Aku lanjutkan perjalanan ke KATA View Point, ini tempat ke dua tertinggi di Phuket Island. Dari View Point ini bisa kita saksikan Patong, Karon dan Kata Beach. Di atas, aku rada sulit bernafas, selain karena pemandangannya, juga karena angin yang seakan mau menerbangkan kita.

Aku ingin berlama - lama di sana,tapi uda nga kuat kena anginnya jadi aku lanjutin perjalanan ke Promthep Cape. Sempat di hajar hujan deras selama 1 menit waktu aku menyempatkan mampir di Unknown Beach (lupa namanya) yang cukup keren, tapi masih bisa aku lihat sisa2 tsunami disana.Sampai di tempat tertinggi di Phuket ini, hujan 1 menit datang lagi,lalu panas menyengat menggantikannya dimenit berikutnya.Benar2 menakjubkan, kita lihat Phuket di kanan kita, kita lihat Samudra lepas di depan kita. Dan yang namanya angin, benar2 uda seperti mengajak kita terbang. Pijakan kakiku sempat goyah diterpanya. Di sini kita juga bisa temui banyak toko souvenir dan restaurant. Tatkala dulunya tempat ini di pergunakan oleh para marinir untuk mengawasi lautan karena merupakan tempat tertinggi di Phuket. Namun skrg dipergunakan sebagai tempat wisata, tempat terbaik melihat sunset.




Turun dari Cape itu, perut ku berteriak2 minta diisi. Aku berhenti di jalan menuju Phuket Town,di sebuah depot mie soup. Makanan Thai bener2 membuat lidah nga mau diam, mie kuah itu kaya akan rempah and sambal yang dihidangkan ada beberapa jenis yang nikmat banget pokoknya. slurpp.... Puas mengisi perut, lanjut aku ke Phuket Town. Kondisinya padat, n juga banyak debu karena sedang ada perbaikan jalan dimana2. Tak lama aku berputar-putar di kota itu, segera aku kembali meneruskan perjalanan ke arah utara, kulewati Kalim Beach yang tidak terlalu indah namun cukup besar. Lalu kutemukan Laem Sing Beach yang menurut buku panduan adalah pantai indah yang terpencil, namun pantai ini memerlukan sedikit tracking di jalan setapak yang menurun dan sedikit licin saat itu karena air hujan serta pengunjung di tarik biaya masuk serta biaya parkir kendaraan. Dengan berbagai pertimbangan akirnya aku memutuskan lanjut saja ke Surin Beach.

Nah, pantai terakhir ini yang paling sesuai dengan seleraku. Dari pintu masuk terlihat sekali bekas2 tsunami masih mengotori beberapa tempat khususnya di bagian ujung2 pantai. Tapi bagian tengah nya sudah cukup bersih dan ada beberapa tempat makan seafood disana. Kesan dai Surin ini santai, dan tidak seperti Patong yang sudah komersial (Bahkan kursi pantainya di tarip seharga kalo nga salah 100 THB). Ada beberapa bule asik berjemur (tidak sampai 5 menit yang lalu hujan sudah datang), aku juga memutuskan menikmati dan istirahat di pantai ini sambil membaca buku setelah menyusuri pantai itu dari ujung ke ujung sambil berharap-harap cemas akankah kusaksikan sunset di Thailand ini? Ternyata jawabannya adalah tidak. Semakin sore,sang awan kelabu kembali datang,lalu tak lama dalam perjalanan pulang hujan datang cukup deras. Dengan menggunakan jas hujan yang kubawa aku melanjutkan perjalanan plg ke hotel yang memakan waktu sekitar 1 jam karena cukup susah mengemudi dlm hujan deras dan di jalan yang basah serta berkelok2 dan naik turun.

Sehabis mandi dan hujan uda pergi jam uda menunjukkan jam 5 sore , aku keluar dan memulangkan motor yang uda menemaniku satu hari ini. Dengan kelaparan, aku memasuki sebuah area seafood centre di depan hotel ku. Wah.... aku nga pernah wisata kuliner tapi di sini rasanya pingin makannnnnn trussss. Aku pesan Tom Yum Seafood & Kerang BBQ disertai sambal rempah yang rasanya waaaahhhh crita aja uda buat aku kepingin lagi nih. Alhasil aku keluar dengan kekenyangan hehehe... setelah jalan2 di Bangla dan Patong, aku membeli makanan seperti rujak pencit dengan ikan teri dan kacang serta banyak cabe yang banyak dijual di pinggiran jalan. Makanan di Phuket ini tidak mahal, berkisar antara 20-50 ribu tergantung apa yang kita pesan yang penting puas. So, bagi kalian yang suka makanan pedas jangan terlewat mampir di Thailand dijamin nga rugi deh.

Day 4 (Phuket to Bangkok)
Waktu ku di Phuket tinggal setengah hari, kusempatkan diri mencoba mencicipi makanan di depot bernama Number 6 diseberang Aloha hotel yang selalu penuh dengan orang, khususnya turis bule. Untuk mengobati penasaranku, aku sarapan disana. Dengan 100 THB aku mendapat 1 paket roti toast 2 helai, 1 kopi/teh, 1 es jeruk, 2 ptg sosis, dan 1 omelete. Kenyang banget deh, sayang tidak ada yang istimewa dengan menu yang ini, mgkn bukan menu pilihan ya.

Ku habiskan waktu untuk bersantai di Patong sampai di jemput minibus ke airport dengan harga 200 THB yang kupesan dari hotel. Untung bagiku, sepertinya karena hanya aku penumpangnya aku di oper naik semacam sedan taxi gitu.
Akhirnya aku bertemu airport lagi, di airport yang ini Air Asia membagi check-in penumpang dengan bagasi dan yang tanpa bagasi so aku bisa langsung masuk tanpa antri.

Here I come Bangkok!

Thursday, September 29, 2005

Menikmati dinginnya Bandung

Jalan2 kali ini lumayan lama,mengingat lokasi target kita jauh2. Demikian sekilas ulasan perjalanan dari tanggal 29 Sept - 5 Okt 2005 di Bandung dan sekitarnya. Semoga nga kepanjangan.... :p

Day 1 (Hutan Raya IR.H.Djuanda,Sapu Lidi Resto, Vihara Vipassana,Tangkuban Perahu, Pemandian air panas Ciater, The Peak,The Valley)

Kami tiba sekitar pukul 00.30 di Cengkareng, langsung menuju ke Bandung dengan menggunakan jasa Saptadji Travel melewati tol baru Cipularang yang hanya memakan waktu 2 jam.
Jam 09.00 kami telah dijemput di hotel Bukit Dago ( dago atas) oleh Om Erwin bersama Xenia-nya ( seorang freelancer rent car , sekaligus guide kami selama perjalanan ini)

Hari ini tujuan kami adalah Bandung Utara. Tujuan pertama adalah Hutan Raya IR. H. Djuanda. Letaknya tidak terlalu jauh,yakni di daerah dago atas. Sesampai sana kami membayar dulu tiket masuk seharga Rp 3000,-/person dan Rp 5000,- untuk si Xenia.
Di dalam hutan raya itu ada Curug Ciomas, Goa Belanda, dan Goa Jepang. Kami hanya mengunjungi Goa Jepang yang pernah dijadikan lokasi siaran TV, uji nyali. Bisa kami lihat tempat persembunyian mereka di jaman perang dahulu kala. Ada beberapa pintu masuk dan jendela juga,pintu masuk utamanya bisa dilalui kendaraan. Kami dipandu oleh orang lokal sana yang kami beri tip sekedarnya,dan juga sewa senter seharga Rp 3000,-/ senter.
Selepas itu kami menuju ke daerah Lembang,kami makan dulu di Sapu Lidi yang membawa suasana makan di tengah sawah. Suasananya tenang,sejuk dan nyaman. Dengan sajian khas Sunda maka lengkaplah sudah kenikmatan makan siang kami.

Keluar dari resto itu kami melihat sebuah bangunan unik yang ternyata sebuah Vihara yang cukup besar bernama Vipassana Graha. Menurut desas desus sih katanya terbesar di Asia Tenggara ?

Ok, ternyata si awan gelap datang berkunjung. Kami segera berangkat menuju tempat tujuan berikutnya yaitu kawah Tangkuban Perahu (yang mempunyai kaitan dengan cerita rakyat Sangkuriang). Namun ternyata hujan deras menyambut kami di sana, tidak terlalu jelas berapa tiket yang harus kami bayar,tapi kami mengeluarkan Rp 50.000,- untuk ber-7. Beruntung mobil dapat diparkir langsung di pinggir kawah, jadi kami menunggu beberapa saat dan kemudian sang hujan bermurah hati untuk berhenti sejenak. Yah, hanya sejenak saja karena akhirnya kami diguyur hujan lagi....dingin....



Sehabis kedinginan, Om Erwin membawa kami ke pemandian air panas di Ciater, nama pemandiannya Sari Arter. Biaya masuk pemandian itu adalah Rp 20.000,- /person.Disana ada 3 kolam,2 kolam pertama hanya untuk yang berpakaian renang lalu 1 kolam dibawah untuk yang berpakaian masih lengkap misalnya pakai celana and kaos. 2 kolam pertama mendapat pengawasan lifeguard. Selain ke 3 kolam itu masih ada kolam2 private. Thanks to Om Erwin yang ternyata member disana,kami semua masuk gratis :) .
Kedinginan sudah, kepanasan sudah akhirnya waktunya makannnn.Kami kembali mampir dulu di the Peak resto yang lokasinya sangat strategis seperti namanya.Letaknya di dataran paling tinggi diantara Lembang dan Bandung. Sehabis mengambil bbrp foto disana(karena kami dalam rangka penghematan,kami tidak masuk ke resto yang terbilang cukup mahal itu) kami menuju the Valley yang berada di jurusan dago atas. The Valley juga cukup berkelas,suasananya romantis dan lagi lagi sejuk.Mata kami dihibur dengan pemandangan lampu2 kota Bandung sembari menikmati makanan bertema western di tempat terbuka.

Day 2 (Kawah Putih Ciwidey, Situ Patengan)Hari ini kami menuju ke Bandung Selatan dan kembali Om Erwin dan Xenianya yang mengantar kami. Pertama - tama kami menuju ke Kawah Putih Ciwidey.Perjalanan kami tempuh sekitar 2 jam melalui jalan tikus,bukan melalui Kopo(takut macet).Rutenya Tol Pasteur,Baros,Raya Sugepan Ciwidey, Desa Sukajadi, Desa Pasir Jambu, Ciwidey, Desa Panundaan - Raya Patengan. Di sepanjang jalan menuju kawah banyak sekali perkebunan strawberry dengan sistem pembelian petik sendiri. Tempat ini banyak digunakan pemotretan model dan juga menjadi salah satu obyek wisata andalan.Kami bayar dulu tiket masuk sejumlah Rp 3.500,-/ person dan Rp 3.000,- untuk si Xenia. Setelah memarkir si Xenia kami melanjutkan ke kawah dengan berjalan kaki,kembali kami disambut oleh penjaja2 strawberry. Setelah berjalan tidak lama di jalan berpaving,sampailah di kawah itu. Tapii....tapiii kenapa warnanya hijau bukan putih??? Haha konon katanya warnanya bisa berubah. Ada peringatan disana agar tidak terlalu ke tepian kawah karena ada pasir hidup.

Cukup lama kami disana dan akhirnya rintik hujan kembali datang. Kami segera menuju Situ Patengan. Kedua tempat ini tidak terpaut jauh, hanya sekitar 1 jam perjalanan lagi. Jalanan menuju Telaga Patengan ini sangatlah indah karena mata kita dihibur dengan tata letak kebun teh yang bagus dan hijaunya yang menyegarkan.


Tak lama kami memasuki desa Patengan dan di haruskan membayar retribusi jalan Rp 1.500,- untuk roda 4.Ada lagi tanda masuk telaga sebesar Rp 1.000,- untuk si Xenia lagi. Kemudian akhirnya sampai di taman wisatanya Rp 2.500,- untuk Xenia dan Rp 1000,-/person. Di sepanjang jalan masuk menuju telaga,banyak sekali para pedagang,ada pedagang baju,topi,makanan,souvenir,pernak-pernik monel,senjata,dsb. Setelah mengisi perut ala kadarnya sambil menunggu redanya hujan, kami menuju telaga yang tak jauh letaknya dan mulai menikmati suasananya. Di sana ada beberapa perahu (max 15 orang)yg menawarkan perjalanan singkat seharga 60ribu/perahu atau 80 ribu untuk yang jauh dan berhenti di batu Cinta(berlatar belakang cerita rakyat). Itu adalah harga borongan perkapal. Biasanya bisa 5000/person tapi menunggu kapal penuh baru berangkat. Harga ini hanya dapat di tawar sedikit saja karena mereka tergabung dalam wadah koperasi.

Hujan kembali mengguyur kami, dan kami memutuskan kembali ke Bandung. Wisata alam sudah kami selesaikan sekarang giliran wisata shopping. Kami menuju daerah pusat perbelanjaan di Bandung yaitu jalan Marthadinata atau dulunya Riau dimana banyak FO berdiri berdampingan.

Day 3 (Wisata Kuliner)
Sebenarnya kami berpencar di dalam kota Bandung hari ini. Teman2 melakukan hunting di Cihampelas dan kemudian kembali ke Riau lagi. Sedangkan saya setelah membeli beberapa baju di Cihampelas melakukan wisata kuliner bersama teman2 lama di Bandung. Pertama kami menuju Cisangkuy,tempat yang terkenal dengan yoghurt nya dan dijadikan tempat nongkrong anak muda juga. Di depan cafe ini ada sebuah taman rindang yang di lindungi dan di sana ada kuda2 yang disewakan untuk ditunggangi.
Setelah ngobrol cukup lama dan terbuai suasana sejuk disana kami menuju jalan Kahyangan dimana ada depot Mie Rica yang cukup ramai juga. Disini kita bisa memilih mau mie asin atau mie manis.Dan leganya bagi orang Jawa Timur seperti diriku dapat mencicipi rasa pedas mie itu.

Day 4 (Karang Nini Beach,Pangandaran Beach)Jam 6 pagi, badan rasanya tidak mau berpisah dengan tempat tidur tapi akhirnya kami berangkat. Ini juga demi menghindari kemacetan jalan. Seharusnya perjalanan menuju Pangandaran dapat kami tempuh dalam waktu sekitar 6 jam,tapi sebelum itu kami menyempatkan breakfast sekaligus lunch di R.M. Mergo Sari di Raya Ciamis. Dan juga mampir di Karang Nini karena sejalan dengan jalan ke Pangandaran.
Nini dalam bahasa sunda berarti nenek. Maka tempat ini di namakan karena ada karang yang mirip orang tua.Kami harus membayar tiket sebesar Rp 2.500,- / person dan Rp 5.000,- untuk si Xenia. Akhirnya setelah berdingin-dingin di gunung beberapa hari,kami berpanas-panas ke pantai.hahaha.
Sesudah menikmati udara pantai sejenak,kami melanjutkan perjalanan ke tujuan utama kami pantai Pangandaran. Kami tiba sekitar pukul 14.00 WIB,trus cari hotel setelah membayar tiket masuk lokasi Pangandaran sebesar Rp 27.200,- / mobil. Ternyata di Pangandaran kita diapit oleh pantai barat dan pantai timur yang berjarak sekitar 5 menit jalan kaki. Pantai barat lebih ramai,baik oleh kapal nelayan maupun oleh pedagang baju,souvenir dan makanan serta persewaan sepeda.Pantai timur lebih tenang,dengan ombak yang lebih besar. Akhirnya kami memilih hotel Pantai Sri Rahayu (022)2016756 di pantai timur karena hotel ini bersih,ber-fasilitas lengkap,dapat diisi 4 orang,dan juga balkon yang bisa langsung melihat pantai.
Setelah menata barang,kami ke pantai barat untuk bersantai dan menanti sunset serta melihat beberapa orang bermain boogie(ada yg menyewakan),dan beberapa lainnya berenang. Lalu kami juga menyewa sepeda tandem seharga Rp 5.000,- /jam dan sepeda biasa Rp 3.000,-/jam untuk berkeliling seputar pantai itu.Ternyata banyak sekali hotel dan pedagang disitu, lalu ada juga satu blok yang terdiri dari depot2 seafood. Selagi disana makanlah seafood sebanyak - banyaknya karena disana ikannya segar2 dan yang lebih penting lagi, murahhh..Seperti di depot2 di Bandung,kita juga akan mendapat teh tawar hangat secara free.Kami juga melihat beberapa kijang yang berkeliaran, ternyata ada hutan yang dilindungi di sisi lain pantai itu. Malam menjelang,tidak kami kira ternyata angin sangat besar dan dingin di tepi pantai itu.

Suasana di pantai barat saat senja :

Suasana di pantai timur saat pagi hari (dari balkon) :
Day 5 (Taman Wisata Pananjung, Green Canyon)
Keinginan melihat sunrise sambil duduk dibalkon hotel tidaklah terlalu berhasil,karena awan bertebaran di langit pagi. Akhirnya setelah memaksa diri bangun,dipandu Om Erwin kami berjalan masuk ke Taman Wisata Pananjung. Kumpulan monyet2 yang sedang bermain menyambut kami ketika kami menuju Pantai Pasir Putih di dalam hutan itu. Selain pantai itu adapula Cagar alam,Goa Jepang,Goa alam, dan juga pusat kebudayaan Hindu. Sayang kami tidak sempat ke tempat yang lain karena masih harus ke Green Canyon yang berjarak sekitar 45 menit dari Pangandaran.


Belum puas bermain di pantai ini,tapi kami harus segera berangkat ke Green Canyon (Cukang Taneuh). Kami sampai di Green Canyon pukul 14.00. Green Canyon ini bukanya dari pukul 07.30 - 16.00 WIB kecuali hari Jumat, bukanya 13.30 - 16.00. Setelah menyiapkan diri dengan membungkus barang elektronik kami dengan tas kresek /meninggalkannya di mobil,dan membungkus kamera kami dengan plastik wrap(biasanya untuk makanan) maka kami segera berangkat.Disana kita harus membayar sebesar Rp 55.000,- /perahu yang dikendalikan 2 orang dan hanya bisa diisi max. 5 penumpang. Perahu itu juga dilengkapi dengan life jacket. Sayang sekali kami datang di musim yang salah. Arus sangat deras dimusim penghujan sehingga air sungai itu hijau keruh. Bahkan ternyata baru saja ada banjir badang di sana sehingga sungai meluap. Lalu sesampai di batu terakhir dimana kapal tidak bisa lewat lagi, kami juga tidak bisa berenang karena arus dari air terjun didepan sana sangat kuat. Seharusnya di depan sana kita bisa temui air terjun dan gua.

Green Canyon note : Siap berbasah - basah dan datanglah di musim kemarau        (Juli - Agustus)
Day 6 (Back to Surabaya)
Akhirnya berakhir sudah perjalanan kali ini,thanks to Awair kami PP Sby - Jkt and Jkt - Sby cuman Rp 215.000,- netto. To Om Erwin yang telah membantu kami menyusun jadwal acara dan membawa kami ke tempat2 tersebut diatas. To Anton yang telah bersedia kami repotin di Bandung.

Wednesday, June 29, 2005

Menakhlukkan Bromo

Weekend ini kami mengunjungi salah satu icon terkenal Jawa Timur yaitu Gunung Bromo.
Aku menyetir sendiri berangkat dari Surabaya jam 23.00 dan sampai disana jan 02.00 WIB. Jadi kami tidak menyewa hotel or penginapan.Lebih hemat,tapi perlu fisik yang siap.

Area Taman Nasional Bromo ini mencakup 50.273.30 hectare dataran tinggi yang dipenuhi dengan pegunungan dan hutan yang subur. Kawasan taman nasional ini terbagi dalam 4 kabupaten yaitu : Malang,Pasuruan,Probolinggo,Lumajang. Jadi akses masuk bisa di temukan dari 4 kabupaten tersebut.
Letaknya di antara 1000-3676 M diatas permukaan laut (asl = above sea level). Temperature berkisar antara 3 - 20 derajat Celcius.

Mt. Penanjakan
Tempat yang paling banyak dikunjungi salah satunya adalah Mt. Penanjakan (2770 M asl).Dari sini kita akan mendapat pemandangan yang sangat menakjubkan berupa Sea of Sand (Lautan Pasir) dan gunung Bromo,Batok serta Semeru. Biasanya sunrise bisa dinikmati antara pukul 4.30 a.m. - 5.30 a.m.

Sunrise

Penanjakan's View

Penanjakan ini masuk ke wilayah Pasuruan jadi kalo memang mau ke Penanjakan dulu baru ke kawah Gunung Bromo kami anjurkan untuk mengambil rute Pasuruan dibanding rute Probolinggo.Jalannya lebih mulus beraspal.Jadi kalo berani kita juga bisa bawa kendaraan kita naik ke puncak Penanjakan. Alternatif lain,sampai di pintu masuk akan banyak tersedia 4-wheel Jeep Hardtop yang siap mengantar Anda tanpa terbatas waktu.Harga sewanya disama ratakan oleh koperasi yaitu Rp 125.000,- (termasuk ke Penanjakan, Bromo, lalu kembali ke tempat parkir kendaraan kita)

Kalo kita lewat wilayah Probolinggo ongkos sewa yaitu Rp 200.000,-. Sesampai di desa wonotoro,kita parkir mobil kita ganti dengan 4-wheel Jeep.Kalo dari Probolinggo ini sangat tidak disarankan membawa kendaraan sendiri yang bukan 4 wheel,apalagi pada musim kemarau,karena bahaya terperosok di lautan pasir.
Ongkos lain:
- Retribusi Jalan Wisata u/ Jepp : Rp 2.000,-
- Retribusi Jalan Desa : Rp 2.000,-
- Asuransi Kecelakaan : Rp 2.000,- / orang
- Karcis masuk pengunjung : Rp 2.000,- / orang

Mt. Bromo
Selepas menanti sunrise di Penanjakan,kita lanjutkan perjalanan turun ke kaki gunung Bromo.Disana ada juga Pura tempat orang Tengger yang beragama Hindu melakukan upacara keagamaan Kasodo dibulan Oktober.Kita akan diturunkan di dekat pura dan kemudian kita harus berjalan kaki atau menyewa kuda Rp 20.000,- sampai di kaki gunung ini.Setelah sampai dikaki gunung,kita harus melewati sekitar 250 - 300 anak tangga dan sampailah kita di puncaknya. Disini bisa kita lihat pemandangan lautan pasir,pura,Gunung Batok dan kawah dengan bau belerang dari gunung Bromo ini.

Way to the top of Bromo
Bromo Stairs
Sea of Sand from Bromo

Tips : Pakailah Jaket yang tahan dingin,sarung tangan, sarung kaki dan penutup kepala
Jika tidak punya,disana banyak sekali penjual dengan harga terjangkau.
Bawa masker atau saputangan yg bisa dipakai untuk menutup hidung sehingga debu di lautan pasir dan bau belerang tidak menyengat hidung

Sepulang dari Bromo,jika Anda menuju arah Probolinggo or Surabaya,sempatkanlah untuk mengunjungi Madakaripura Waterfall  yang hanya berjarak sekitar 6 km dari Bromo.Segarkanlah diri Anda di sana setelah merasakan serangan panas dan debu di Bromo.

Tuesday, June 7, 2005

Kakek Bodo Waterfall

The background story of this waterfall was that a long time ago,there was an old man who work for Dutch family. This old man has everything and the family so kind to him but then after sometimes,this old man leave this family,he contemplated and did the meditation here on this waterfall area. The Deutch family call him as Kakek Bodo (Dumb old man) because he leaves his money and everything then sacrifice his life to help the poor and the sick.

Nowadays this waterfall become a famous tourism object.You can easily go tho this waterfall that located at Prigen subdistrict Pasuruan Regency.There we can find more or less 40 meters high Kakek Bodo waterfall. You will need to buy a ticket Rp 4.100,-/adult to enter the location.





Thursday, May 26, 2005

Peninggalan kerajaan Singasari - Candi Jawi

Yang kali ini cuman jalan iseng aja. Kita brangkat maunya sih makan lontong kupang di pandaan (diseberang ayam goreng Sri).Tapi trus keliatan bangunan candi yang sudah entah kami lalui brapa puluh kali tapi tidak kami sadari kehadirannya.Jadi ya kami brenti sebentar sekalian mengulas tempat bersejarah ini.

Candi Jawi mempunyai ketinggian 24,50 M dengan ukuran panjang 14,20 M dan lebar 9,5 M.Letaknya di pertengahan jalan raya antara Pandaan - Tretes Prigen,jadi gampang sekali di jangkau.
Candi ini dibangun pada masa akhir kejayaan kerajaan Singasari pada abad ke 13 atas perintah dari raja Kertanegara. Sebagian arkeolog berpendapat ini merupakan makan Kertanegara tapi sebagian lagi mengatakan tidak karena pada saat dibangun Kertanegara masih hidup.

Kalo kita lihat,relief pada candi itu memperlihatkan seorang pria yang akan melakukan Pradaksina (sebuah upacara penghormatan terhadap seorang dewa,Dewayajna jadi bisa disimpulkan bahwa candi ini adalah candi pemujaan.

Nah kalo sempat mampir ke tempat bersejarah ini, bersiaplah merogoh saku untuk memberikan sumbangan ala kadarnya demi pelestarian candi ini.Kita akan diminta untuk mengisi buku administrasi beserta sedikit sumbangan.

Candi Jawi

Saturday, May 21, 2005

Tempat meditasi patih Gajah Mada - Madakaripura Waterfall

Hari ini aku drive ke Madakaripura Waterfall di kawasan Probolinggo bersama 6 teman kantor. Madakaripura berada dekat desa Sapeh kecamatan Lumbang. Dari Surabaya kita lewat jalan tol keluar di Gempol trus ambil belokan ke kiri menuju Bangil - Pasuruan -Probolinggo. Setelah masuk Probolinggo kita tinggal mengikuti jalan besar itu sampai kita lihat papan di kanan jalan yang menunjukkan ke arah Bromo. Sebagai patokan papan itu terletak beberapa meter setelah Rumah Makan Nguling yang terkenal dengan rawonnya.
Biasanya Madakaripura menjadi 1 paket tujuan wisata dengan Bromo
Setelah belok kanan sudah lurus saja ikut jalan lagi sampai di lokasi wisata Madakaripura. Dikanan kiri jalan bisa kita lihat banyak penjual dan peternak madu yang menjual madu asli disana.Lalu ada juga persimpangan yang jalan ke kiri menuju Bromo kita ambil jalan satunya terus aja.Madakaripura ini hanya terletak 6 km dari Bromo.

Setelah beberapa saat tibalah kita di kawasan wisata itu.Kita bayar tiket masuk(maap lupa berapa) yang tdk terlalu mahal,lalu kita melanjutkan dengan jalan kaki dan juga diharuskan menyewa jasa pemandu lokal sana,kurang lebih Rp 30.000/person tergantung kita dan baik tidaknya pemandu tersebut.Dengan jumlah 7 orang kami diikuti oleh 2 pemandu untuk membantu kita.Alasannya karena walaupun hampir 3/4 perjalanan menuju air terjun utama sudah di bangun jalan dan tangga,tapi 1/4 perjalanan sisanya kita harus rela berbasah - basah jalan di sungai yang berbatuan namun jernih dan sejuk serta yang paling asyik ......kita jalan melewati beberapa air terjun kecil sebelum menuju yang utama. Sebelum jalan di bawah air terjun kecil itu ada disediakan pos yang menyewakan payung (Rp 1.500,-/payung)dan tempat menitipkan barang.
Note: Lebih baik tinggalkan semua brg tidak berguna di kendaraan,mungkin hanya camera dengan pelindungnya yg dibawa.Pakailah alas kaki yang nyaman untuk jalan bebatuan yg sdkt licin


Jalan yang dilewati


Di bawah air

Air terjun ini dikenal sebagai tempat meditasi Patih terkenal kerajaan Majapahit, Gajah Mada dan tempatnya menghabiskan sisa hidupnya. Lokasi wisata ini terletak pada ketinggian 620 M diatas permukaan laut dan air yang jatuh dari ketinggian 200 meter itu menciptakan perasaan yang luar biasa saat melihatnya. Kami cukup kesulitan mengabadikannya karena kerasnya tiupan air ke camera(menurut pengalaman lebih baik membawa juga tissue camera ;p ) Saat yang paling tepat untuk mengunjungi air terjun ini adalah sekitar pukul 10.00 - 14.00 dimana kadangkala bisa kita lihat pelangi dari perpaduan matahari dan air disana. Jika kita mandi dengan air dari air terjun ini juga dipercaya dapat menghilangkan penyakit rematik dan juga membuat awet muda.


Air Terjun Utama

Air Terjun Kecil
Perlu di perhatikan pada waktu musim penghujan sangatlah disarankan untuk tidak memasuki kawasan ini dikarenakan tata letaknya yang cukup membahayakan jika terjadi banjir.