Wednesday, September 23, 2009

Drive to Yogyakarta

Kali ini saya menyusuri jalanan Surabaya - Jogja dengan si mungil Karimun bersama partner petualang saya Lik. Kami memilih tanggal ini karena kami berharap mereka yang mengambil libur lebaran sedang memasuki arus balik. Dan benar saja, kemacetan di arah sebaliknya kami lihat panjang sekali.

Kami berangkat malam hari sekitar pukul 20.00 WIB dan memutuskan untuk menuju Borobudur langsung sebagai tempat tujuan pertama kami. Tiba sekitar pukul 03.00 di Jogja dengan Lik sbg driver, baru lah diriku yang menggantikan ketika kami menuju Borobudur melalui ringroad (sekitar 45 menit) Karena terlalu pagi, kami harus meringkuk di mobil menunggu gerbang di buka pukul 06.00 WIB.

Untuk memasuki lahan parkir Candi simbol kebangkitan ini, kita di kenakan tarip Rp 5.000,- /mobil. Dan kemudian juga harus antri di loket wisatawan Nusantara serta membayar tiket masuk Rp 9.000,- / orang dan Rp 1.000,- / kamera.

Di dalam taman wisata ini pengunjung tidak di perbolehkan untuk membawa makanan di karenakan alasan kebersihan. Jadi jangan tersinggung karena sebelum masuk kita harus membuka tas kita untuk di periksa satu persatu.

Untuk menikmati dan membaca cerita relief Borobudur, kita bisa masuk melalui pintu timur dan bergerak searah jarum jam dan menempatkan candi di sisi kanan kita dari tingkat bawah sampai tingkat tertinggi. Konon sebagai penghormatan kita bisa memutari setiap tingkatan sebanyak 3 kali.Ketika keluar menuju tempat parkir kita akan di lewatkan di pasar souvenir yang menjual berbagai pernak pernik sebagai barang oleh2. Jika ingin membeli sesuatu yang khas dari kota ini pahatan batu berbentuk borobudur bisa di jadikan pilihan karena Magelang terkenal sebagai kota pemahat.

Belum tidur semalam dan perut yang berteriak minta makan bukan lah perpaduan yang menarik. Jadi kami mencoba mencari solusi keduanya sekaligus di Bladok Losmen & Restaurant. Jalan Sosrowijan 76. (0274) 560452. Kenapa Bladok? Karena makanan western food disini emang mantap punya. Dia membuat rotinya sendiri. Nih biar tambah ngiler ...
American Breakfast

Makanannya Popeye :p

Soal harga yah..relatif ya.Nih bocorannya.. ;) Ice tea Rp 5.000,-, American breakfast Rp 21.000,-

Sayangnya, karena masih musim liburan kami tidak mendapat tempat di sekitaran Malioboro. Jadi kami berputar sedikit lebih jauh dan akhirnya menemukan hotel Sala,dan karena kebetulan ini cabang ke 3 dari 5 cabangnya maka di namakan hotel Sala Tiga. Jalan Dagen 48 (0274) 580600. Hotel ini cukup bersih, dengan kamar mandi dalam dan teras sendiri. Karena sudah cukup lelah dan tidak ingin mengadu peruntungan lagi di masa liburan ini. Maka kami ambil 1 kamar ber AC tapi tanpa air panas. Maaf entah kenapa sepertinya bonnya terselip entah dimana, jadi tidak bisa memberikan kisaran harganya. Yang pasti cukup murah.


Banyak hotel dan penginapan murah di Yogyakarta. Di daerah Malioboro juga banyak rumah penduduk yg di sulap menjadi kamar2 yg disewakan. Jika Anda membutuhkan info hotel murah2 lainnya bisa klik di sini.




Setelah tidur pagi :p kami memilih Museum Ullen Sentalu di kawasan Kaliurang sebagai next stop.
Ketika memasuki kawasan Kaliurang akan di kenakan Rp 2.000,- untuk masing2 mobil dan orang.Museum sejarah Jawa dan keraton Jogja serta batik ini buka pada pukul 09.00 - 15.30 WIB. Dan tiket nya seharga Rp 25.000,- untuk wisatawan lokal. Rp 50.000,- for foreigner. Kita akan memasuki museum bersama2 dibatasi sekitar 10 orang /rombongan dan di pandu oleh guide yang akan menceritakan sejarah dari awal kita masuk. Museum ini tutup pada hari Senin. Sebelum memasuki "gua pohon" ini, kita di peringatkan bahwa tidak boleh mengambil foto didalam. Dan jika ada yang mau di titipkan, bisa menggunakan loker yang di sediakan free.
Ullen Sentalu merupakan singkatan dari “ULating blENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala Lampu Blencong sebagai Petunjuk Manusia dalam Melangkah Meniti Kehidupan”.

Museum ini bangunannya tidak tampak dari luar, malah terlihat seperti hutan dan seperti kita akan memasuki pohon beringin tua. Dingin, sejuk menambah suasana oldies dan mistisnya. Setelah masuk, kita akan memasuki ruang bawah tanah yang ternyata di dekorasi dengan wah..dan keren. Pokoknya keren n eksotis deh, dingin dan tidak bau.

Oleh sang guide kita akan di ajak melihat alat2 musik tradisional Jawa di ruang pertama. Dia bercerita dengan luwes dan cepat lalu membawa kami ke ruang berikut melalui lorong2 yang penuh berisi lukisan yang menceritakan sejarah kerajaan Jogja dan Solo serta keturunan Sultan. Tentang putri2 kerajaan yang ternyata tidak lah kuno. Mereka bahkan sudah bersekolah di luar negeri di jaman dahulu itu. Ada lukisan yang juga di buat 3 dimensi seorang putri yang fashionable, ada lukisan Pangeran Charles n Lady Di beserta Sultan. Ada lukisan yang di buat sedemikian rupa sehingga mata mereka yang ada di lukisan itu mengikuti arah gerak kita. (keren..). Lukisan2 ini di lukis oleh pelukis khusus kerajaan yang dirahasiakan namanya.

Tiba kami diruang lain, yang berisikan kumpulan puisi dari seorang putri yang dijodohkan dengan pria yang tidak dicintainya. Puisi2 itu di pajang dalam kotak2 kaca dan bahasanya begitu indah2. Sang putri bertukar surat dengan bibi dan sepupu2nya yang juga membalas dengan puisi balasan.

Di ruang lain adalah koleksi motif batik yang menjadi sejarah kerajaan Solo dan Jogja. Ada yang hanya di pakai untuk acara2 kebesaran dan lain sebagainya.
Berikutnya kami di ajak mengenal seorang putri yang sangat modern pemikirannya. Pandai berkuda, menguasai 4 bahasa dan menentang monogami dalam kerajaan. Beliau pernah menolak lamaran Pak Karno karena sudah ada istri2 sebelumnya. Di kisahkan dia baru menikah pada usia 30 tahun pada masa seorang gadis biasanya di nikahkan umur 10 tahun.

Melewati rimbunnya pohon2 kami sampai di ruangan lain yang tidak kalah dingin dr ruangan sebelum2nya. Lebih berasa dingin lagi ketika nama Nyi Roro Kidul di sebut. Dalam ruangan itu ada lukisan besar tentang tarian yang hanya boleh di tarikan pada saat raja naik tahta. Tarian ini ditarikan oleh 9 penari perawan dan harus dalam keadaan tidak haid serta berpuasa sebelum melakukannya. Bagi orang Jawa 10 adalah angka yg sempurna, sebenarnya ada 1 penari lagi yang diyakini ikut menarikannya yaitu Nyi Roro Kidul yang dalam lukisannya di buat sedikit transparan.

Terakhir kita di suguhi teh ramuan seorang putri keraton secara gratis sembari bisa melihat2 souvenir di toko yang berisi batik2 dengan banyak model. Teh ini konon bisa membuat panjang umur, terbuat dari campuran cengkeh, jahe, daun pandan dan ramuan rahasia dari sang putri.
Dengan pengetahuan baru kami pulang kembali ke Jogja. Kami menyempatkan diri berhenti di Gudeg Mbarek Bu Hj Ahmad yang berada di Kaliurang Km 10. Kami ingin menyantap hidangan khas Jogja tersebut. Enak nih apalagi perut belum terisi lagi. Rumah makan yg luas ini tampak kosong tapi kami jg harus menunggu karena ternyata banyak pesanan mrk terima.

Sejarah sudah, makanan khas sudah, kami kembali ke kawasan Malioboro tepatnya persis di sebelah stasiun kereta api. Kami sedang mencari sebuah minuman yang terdengar aneh bagi kami dan hampir2 susah membayangkan bagaimana meminumnya. Namanya Kopi Joss. Ternyata ini adalah minuman kopi (bisa juga teh) yang di cemplungin arang membara sehingga bunyinya josss.....dan itulah yang kita minum. Tidak higienis memang mengingat arang itu di ambil dari pembakaran air yang di gunakan untuk membuat kopi tersebut tapi cukup unik nan kreatif. Lek Wi sang pemilik angkringan mengatakan khasiatnya bisa buat badan hangat dan tidak gampang masuk angin. Di jalan ini ada beberapa angkringan(warung dan lesehan mgkn ya kalau di sini) dan penuh dengan remaja2 yg jg menikmati nasi bungkus murah dan gorengan. Angkringan2 ini buka sejak pukul 13.00 sampai pukul 04.00 pagi.

Ketika kami melihat jalanan Malioboro yang penuh sesak walau sudah mulai meringkas barang2 mereka, kami memutuskan untuk mencuci mata sejenak di kawasan belanja yang paling ramai di Jogja ini. Tapi kami hanya sekedar lewat karena kami baru akan menelusuri Malioboro dan Pasar Beringhardjo keesokan harinya.

Sehabis sarapan yang di sediakan dari hotel kami tetap beristirahat mengingat akan melakukan perjalanan panjang untuk pulang ke Surabaya lagi. Jadi kami mengumpulkan tenaga sampai waktu check out hotel kemudian menuju ke daerah Malioboro. Kami memilih parkir di sebelah Bank Indonesia karena kami ingin mencoba sebuah resto yg di rekomendasikan oleh seorang pengunjung angkringan di malam sebelumnya. Tidak mau membuang waktu dan tenaga, kami bertanya kepada pak polisi yang kemudian membantu kami memanggil becak dan menjelaskan pada pak becak ttg tujuan kami sekaligus menawarkan harga (baek banget deee pak pol nyaa...)

Kurang lebih 10 menit kami sampai di Bale Raos yang ternyata berada di dalam kawasan Keraton. Harganya termasuk tinggi tapi disini kita bisa menikmati hidangan yang di sajikan untuk Sultan dan tamu2 keraton. Pada menunya kita bisa melihat makanan mana yang di sukai oleh Sultan ke brapa. Misalnya Bestik Djawa atau Es Secang yang merupakan welcome drink untuk tamu2 kerajaan. Tidak terlalu memuaskan perut, tapi lidah cukup puas (alias....kurang banyak makannya hahahaha) Tak apalah, sekali lagi.. tempat yang unik dan tidak akan ditemui di tempat lain.
Es Secang (Minuman tamu kerajaan)
dan Beer Djawa (non-alkohol, minuman favorit Sultan HB VIII)

Bestik Djawa (untuk Sultan HB IX)

Bebek Suwar Suwir (Sajian khas Sultan HB IX)

Sehabis deg2an di jalan gara2 kita salah cegat bapak becak yang uda tua gitu(sampe nga tega deh duduknya) pake nabrak becak lain pula si bapak :( akirnya sampe deh kembali di kawasan Malioboro. Untuk menjawab si perut maka berhentilah kami di depan Pasar Beringhardjo untuk makan fastfood khas Jogja yaitu Pecel Pincuk. Wah makan pecel, tahu dan tempe bacem di sertai lombok sesuka hati. Puas dah....Mengingat saran tips dari teman2 lain, maka proses tawar menawar pun terjadi lah ketika kami memasuki pasar berisikan baju2 batik itu. Baju bayi, ibu hamil, baju tidur, hem kerja, semua ada dari batik. Kelihatannya selain karena musim libur, pasar ini jadi begitu penuh karena batik baru saja di canangkan sebagai warisan asli Indonesia.

Belanja di pasar ini lebih bisa di tawar daripada di luarannya alias jalan Malioboro. Kebanyakan barang di Malioboro hampir seragam harganya dari penjual satu ke lainnya. Jika ingin membeli oleh2 bisa juga membeli bakpia pathuk konon yang terkenal enak nomor 25 dan 75. Tapi ada pula toko di tengah2 malioboro itu yang menyajikan bakpia fresh from the oven (bak breadtalk gitu tmptnya). Bisa di cicip dulu sebelum membeli.

Kami menyusuri Malioboro sampai kaki berasa mau patah dan sepertinya mobil kami menjadi yang terakhir meninggalkan tmpt parkir. Segera kami menuju ke arah jalanan pulang Surabaya dan mampir di Mc D sebagai santapan akhir kami di Jogja dan untuk berganti baju dan menyegarkan diri menempuh malam, kali ini diriku sebagai driver sampai di Surabaya. (masuk rumah terus keluar lagi menuju Batu...hancur dah... tapi bahagia akhirnya sempat berlibur) :p

Sekian laporan dari Jogjakarta, doakan semoga punya waktu lagi dan jumpa di tempat yang lain ya.

Saturday, August 15, 2009

Old Town Batavia

Salam wisata,
Berkenaan dengan semangat kemerdekaan aku coba ulas tentang old batavia ya :p

Lama banget kaki ini tak melangkah. Kali ini aku ada berkesempatan ke Jakarta walau cuma 2 hari. Inipun tidak bisa di bilang berlibur, namun aku menyempatkan mencuri waktu melihat Tugu Monas. Iya, hahaha baru kali ini diriku melihat tugu monas.


Jadi begini ceritanya, aku ingin membagi info hotel yang murah meriah yang letaknya cukup strategis dan yang penting bersih. Namanya Hotel Kana. Letaknya di Jalan Antara 39. Pasar Baru. Tidak mewah memang malah kesan hangat dan kekeluargaan lebih terpancar dari para staf hotel ini. Harga kamar tergantung di tingkat brapa kamar yang kita pilih karena tidak ada lift untuk tamu. (bagi yang merasa muda, nga susah2 amat kok olahraga naik tangga hihihi). Lantai 1-2 mempunyai harga sekitar 250rb dan 275rb kalau tidak salah. Lantai 3-5 berharga 200ribu rupiah. Harga ini sudah termasuk breakfast berupa roti tawar, kopi / teh yang bisa kita ambil sebanyak kita mau. Self service ye.. :p
Info hotel murah lainnya di Jakarta
Jika kita berjalan ke arah kiri, kita akan segera menemui Gedung Antara konon di gedung yang di bangun sejak sekitar tahun 1920 inilah naskah proklamasi di kumandangkan ke seluruh dunia. Gedung ini sekarang berubah fungsi menjadi tempat galeri foto para wartawan Antara. Semacam gedung untuk pameran fotografi dengan tema yang berganti2 setiap waktu tertentu.

Tak jauh, kita langsung akan bertemu dengan gerbang utama PASAR BARU. Kawasan ini di bangun sejak tahun 1820, dan merupakan kawasan elit yg di bangun oleh pemerintah Belanda dulu. Semacam kawasan Menteng kalau jaman sekarang. Tidak ada kendaraan boleh melewati kawasan ini. Kita bisa berjalan kaki menyusuri sekian banyak toko yang berjajar di kiri kanan. Ada toko sepatu, kain dan tailor, baju, minuman, makanan, alat2 keperluan fotografi, alat olahraga, bahkan ada 1 toko serba ada lengkap dari A-Z. Ada retail seperti Rimo. Ada fastfood seperti A&W. Pokoknya semua ada deh disini. Termasuk beberapa orang yang memperdagangkan uang asing dan kuno di kaki lima.Bagi penggemar filateli, persis di depan hotel ada Gedung Filateli Indonesia. Sayang saya belum sempat mampir melihat2. Di seberang juga ada banyak pelukis sketsa, karikatur dan lukisan cat berjajar.

Dari kejauhan di arah kanan hotel, kita bisa melihat puncak Monas. Dengan tekad bulat melawan kantuk aku coba berjalan pagi2 menuju ke arah itu. Dan sekitar 15 menit jalan santai, aku bisa berfoto dengan monumen nasional yang menjadi monumen peringatan semangat perjuangan revolusi kemerdekaan 1945.

Minggu pagi itu banyak sekali orang disana, sebagian besar adalah rombongan yang berwisata, sebagian lain adalah warga Jakarta yang berolahraga, bersantai piknik dengan kluarga atau bersepeda santai. Di depan gerbang kita jumpai banyak sekali bajai dan andong yang siap mengantar kemana kita mau pergi. Di tengah2 lapangan yang sangat luas dan hijau ini ada sekumpulan pedagang yang tergabung dalam 1 asosiasi yang menjual souvenir dgn berbagai macam benda bergambar Tugu Monas.

Malam harinya seorang teman yang tinggal di Jakarta mengajakku mencicip makanan di kawasan Pangeran Jayakarta (Daerah mangga dua, JAKpus). Kami makan di Bakmi Kepiting A HOK yang konon terkenal di kalangan penggemar kuliner. Lalu di tempat ini juga ada makanan yang menarik namanya Sekoteng. Bagi orang Surabaya mungkin begitu mendengar kata Sekoteng = minuman jahe dengan labu dan jelly kering. Namun ada yang beda dengan sekoteng ala jakarta ini. Coba di simak gambar dibawah. Ini semacam makanan sehat ala keturunan Chinese Indonesia. :p Tanpa jahe sama sekali ... hehe..

Sekian dulu liputan TouristpasS dari old batavia...

Wednesday, March 26, 2008

Road Trip : Madura Island

Long Weekend di akhir bulan April ini akhirnya memberikan kesempatan untuk sekedar melepas kerinduan pada alam. Jadi kali ini kami memutuskan untuk mengelilingi pulau Madura.

Day 1
Pulau Madura tidaklah jauh dari Surabaya, kita hanya perlu menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak(Ujung) dan kemudian menumpang kapal Ferry yang tersedia dan berangkat setiap 15-30 menit sekali sepanjang hari ke Pelabuhan Kamal, Madura. Kami tiba di Ujung jam 15.00 dan kebetulan mendapat FERRY CITRA DHARMA yang sangat menyenangkan. Ferry ini sangat bersih, di dek pertama di lengkapi oleh ruang duduk ber-AC dan toilet yang bersih pula. Dek kedua dilengkapi dengan outdoor playground untuk anak2 dan dinding2 kapal jg di hiasi gambar2 menarik untuk anak2 dan beberapa tumbuhan jg menghiasi sisi2 kapal tersebut.
Di dek ketiga terdapat ruang kemudi dan juga kantin yang di mejanya jg terdapat papan catur, ular tangga atau halma untuk dimainkan penumpang. Di dek ini pula ada sebuah sudut "tempat berkumpul darurat" dengan lukisan dinding yang menarik pula. Jadi kalau diandai2kan kapal ini mirip2 kapal pesiar ekonomis kali ya? :) Penyeberangan memakan waktu 24 menit (ini informasi dari nahkoda kapal di ruang kemudi yang kita ajak berbincang) tidak termasuk waktu tunggu masuknya mobil ke kapal dan waktu sandar.Setiba di Kamal, Madura kita langsung lurus menuju arah Bangkalan yang bisa kita capai dalam waktu 15- 20 menit. Kami memutuskan untuk lanjut dulu ke Sampang yang kami tempuh dalam waktu 1 jam 15 menit-an. Sampang pun kemudian kami lalui dan kami lanjutkan menuju Pamekasan dengan waktu 1 jam dalam guyuran hujan. Kami membuktikan ternyata orang madura suka membantu serta baik2 dan ini telah memperlancar perjalanan kami.

Di Pamekasan kami menyempatkan diri survey beberapa hotel yang terkenal disana. Yang paling kami rekomendasikan adalah
Hotel New Ramayana : Jalan Trunojoyo 88 (0324) 333237,333607
Hotel ini nyaman dengan taman yang cukup asri dan juga kamar hotel yang bersih dan baru. Harganya jg tidak mahal cuman 130ribu untuk 2 orang dengan fasilitas lengkap (TV, air panas, breakfast,springbed) Kelemahannya hotel ini masih 5 menit (mobil) dari pusat kota jauhnya.

Hotel Putri Restoran & Karaoke : Jalan Trunojoyo 107 (0324)322872
Hotel ini lebih ramai dikunjungi orang karena terletak di tengah kotanya dan juga ada restoran dan karaoke yang menjadi hiburan disana. Cukup bersih namun kenyamanannya masih kalah dengan new ramayana karena bangunannya jg lebih tua. Ada yang unik dengan hotel ini. untuk kelas standarnya adalah Rp 125.000,- dan superiornya adalah Rp 175.000,-. Apa coba
bedanya? hehe tak lain dan tak bukan adalah remote TV, dimana jika kita ngambil standard kita nga dapat remote tv. :)
Hotel murah lainnya di Surabaya (7 menit dari Bangkalan via Jembatan Suramadu)
Dari orang2 di hotel tersebut kami mendapat info ada sebuah kawasan tempat berjual makanan bernama SAE SALERA. Disepanjang jalan 1 arah ini berbagai makanan khas Madura di jual. Ada sate lalat,sate ayam, sate kambing, nasi gule, mie goreng, nasi goreng, seafood, bebek ayam goreng. Kami mampir di warung lesehan H. Dody / P. Ento yang menjual sate. Langsung aja aku tanya berapa 10 tusuk gitu ? Kata si bapak Rp 5.000,-/porsi. Ya uda aku pesen 2 porsi + lontong untuk aku sendiri. Dan ternyata .... hehe 1 porsi tuh kalo disana brarti 23 tusuk, kenyang dahh...hahah. Untung sih ternyata maksudnya sate lalat itu, jadi si ayam tuh dagingnya kecil2 seukuran lalat sehingga kalo sekali lahap bisa 5-6 tusuk sekaligus :p ketahuan rakusnya deh!
Di sebelah kami duduk sekeluarga orang Pamekasan yang kemudian kami ajak ngobrol pula sekilas kota ini dan menyarankan kami mencoba nasi gule. Maka tak lama kami berjalan kaki menuju tenda nasi gule,tapi kami tak berhasil mencobanya karena sudah habis.

Dengan cuaca yang dingin dan tdk hujan kami mengunjungi Dhangka (Api Tak Kunjung Padam) yang berjarak sekitar 15 menit dari pusat kota tersebut ke arah balik ke Sampang. Sampai di lokasi ada retribusi sebesar 1500 / mobil. Lokasi api itu adalah sebuah areal kecil berdiameter krg lebih 3-4 meter di batasi pagar pendek. Di sekelilingnya ada bbrp kedai berjualan baju,camilan, minum dan bbrp barang khas madura seperti cambuk dan celurit. Sepertnya api itu adalah hasil dari semacam gas dari dalam tanah sehingga terus menerus menyala sekian tahun. Penduduk sana pun sudah tidak tahu tepatnya kapan api ini ada.
Mereka memanfaatkannya untuk keperluan memasak sehari2 mereka juga.
Kesepian yang menyelimuti kami berdua dan 4 turis lainnya pecah oleh kedatangan sekelompok anak2 muda dari Talang (1/2 jam dari Pamekasan). Mereka ber-10 menghidupkan suasana dengan bernyanyi seru dengan gitar, dan membakar potongan2 ayam mentah yang mereka bawa. Suasana menjadi semacam suasana kemping dan kami mulai mengajak mereka ngobrol, bertukar cerita, dan mrk juga memberikan petunjuk2 seputar perjalanan kami.
Sekitar 1.30 jam berikutnya kami berdua di ajak mrk ikut menyantap hidangan ayam bakar mrk dgn bumbu yang sudah mereka siapkan. Walau kelihatannya tidak menarik, tapi keramahan mrk dan canda tawa kami membuatnya menjadi hidangan yang cukup menyenangkan. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 23.00 kami segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Sumenep karena tidak ada lagi yang bisa kami lakukan di Pamekasan.Sumenep kami capai dalam waktu 1 jam 30 menit lalu kami segera mencari hotel yang terkenal disana :
Hotel Sumekar dan Utami Sumekar : Trunojoyo 51 - 53 (0328)672223.
Superior room nya Rp 150.000,-Hotel ini luas banget! Tapi keadaannya tidak sebersih dan terawat hotel2 di Pamekasan. Suasana lama dan pengap menyambut kami ketika melihat kamarnya.

Hotel Wijaya 1 & 2 : Trunojoyo juga (tapi kami lupa meminta kartu namanya)
VIP roomnya Rp 100.000,-
Hotel Wijaya 1 : hotel ini sebenarnya hotel sales yang sederhana namun jg punya bbrp kamar VIP yang setelah kami lihat lebih bersih sedikit dari Utami dengan kamar mandi dalam
Hotel Wijaya 2 : Kami melongok kamar VIP yang dimiliki mereka dan ternyata kamar ini bisa buat main bola kali di dalamnya.hahaha ... dengan kamar mandi dalam, 2 bed kapuk besar, 1 set sofa dan meja,TV dan 1 lemari es tua yang tidak tahu bisa berfungsi atau tidak, dan AC lama juga.

Merasa belum cocok, kami berputar2 lagi dan mampir ke Hotel Safari yang tingkatnya dibawah yang 2 tadi. Kemudian dengan rekomendasi si bapak penjaga kami menuju Hotel Garuda yang keberadaannya tidak ada di panduan kami.
Hotel Garuda : Jalan Trunojoyo 280 (0328) 665543
Tampak depannya adalah sebuah rumah besar. Tidak terlalu banyak kamar yang dimilikinya tapi kebersihannya terjamin. Gambar dibawah adalah gambar ruangan yang kami tempati dengan harga Rp 100.000,- sangatlah murah dibanding hotel sebelumnya yang kami lihat. Fasilitasnya : AC baru, 2 springbed, kamar mandi dalam, TV,air welcome drink botol tanggung,sabun mandi kecil,handuk dan makan pagi (nasigoreng, telur, ayam, dan teh manis).Murah abis kan?? Dewi fortuna masih menyertai kami :p
Day 2 
Setelah merencanakan perjalanan kami di subuh hari tadi sebelom tidur, maka jam 6.00 alarm sudah berteriak2 membangunkan kami. Dengan semangat kami membuka mata, beres2 dan breakfast sebelum check out dan melanjutkan perjalanan ini.
Sang bapak penjaga hotel yang baik hati memberikan info tambahan kepada kami agar berangkat ke Pantai Slopeng dulu sebelum ke Pantai Lombang karena Lombang lebih rindang pepohonannya. Maka kami memutuskan untuk menurutinya. Sebelumnya kami menyempatkan diri mencoba jajanan khas Sumenep yaitu Apem (atau di baca Apen disana). Lokasinya ada di jalanan menuju Lombang di Jalan Gapura, ada 2 kedai yang kami lihat disana, kami mencoba kedai pertama. Apen ini hanya di jual di pagi hari jadi kalau tidak mau kehabisan jangan datang siang2 ya. Apen yang dijual disini ada 2 jenis : dengan atau tanpa telur. Harganya
sama saja, dan di patok Rp 4.500,- /10 buah dan penyajiannya dengan di siram gula aren.

Lanjut lagi, kami segera menuju Slopeng. Dan sejak awal perjalanan ini kami melihat sesuatu yang menarik dimana ada banyak sekali PBV (Perkumpulan Bola Volley) yang tak terhitung jumlahnya walau ada yang benar2 berupa lapangan dan ada juga yang mendirikan net di tanah kosong saja, bahkan sampai perjalanan pulang kami pun masih banyak PBV bertebaran. Papan PBV itu di sponsori oleh Sampoerna Hijau, setelah selidik punya selidik ternyata Madura sedang di landa demam Volley!! Di pantai, di teras rumah, di sekolahan, bahkan pagar rumah pun jadi net volley!!! hehehhe .... semangat volley terasa banget dan herannya, banyak banget pemuda pemudi di pulau itu yang cukup mahir bermain volley.
1 jam kemudian kami tiba di Slopeng setelah melewati sawah2 yang subur menghijau dengan petani2 yang baik hati dan ramah. Sampai di lokasi kami di tarik Rp 5.000,- sebagai biaya masuk. Ada beberapa gazebo2 kecil untuk berteduh, dan banyak nyiur di tepi pantai yang sedang surut. Keadaan tempat wisata ini bisa dibilang cukup bersih dan terawat. Memuaskan diri untuk bermain dan menikmati pantai itu sebentar lalu kami melanjutkan perjalanan ke Lombang.

Kami tak mengira kami bakal di hadang oleh jalanan tanah tak beraspal yang tak kunjung habis dijalanan yang menghubungkan Slopeng dan Lombang. Sebenarnya ada jalan lain menuju Lombang tapi dari kota Sumenep. Kami memilih menikmati perjalanan menyusur persawahan dan perbukitan kapur ini, bahkan kami menyempatkan diri untuk menepi dan melihat lokasi penambangan kapur di sana.
1 jam perjalanan kami tempuh dengan kecepatan 10-20 km /jam di desa ini, terlihat sekali sepertinya jarang atau bahkan langka sebuah mobil bukan truk melewati jalan ini,bahkan mata sang sapi pembajak(banyak banget disana) juga mengawasi mobil kami dari kemunculan kami sampai menghilang di ujung mata mereka(lucu banget deh sapi2 itu).Sempat juga kami harus merepotkan sang petani untuk menggiring para sapi untuk keluar jalan demi membiarkan kami lewat dulu.Selepas desa ini, kami masih dihadang jalan aspal yang buruk sebelum akhirnya kami bertemu dengan jalanan aspal yang bagus dan normal. Kami menghabiskan 1/2 jam lagi setelah keluar dari jalan tanah jelek tersebut sampai akhirnya kami tiba di Lombang.
Pantai Lombang bisa di samakan dengan rata2 pantai lain di Indonesia dan memang lebih teduh dan luas dibanding Slopeng. Ada penjual makanan dan minuman juga dan harga yang mereka berikan sangatlah murah untuk sebuah tempat makan di sebuah tempat wisata. 1 buah degan muda hanya dipatok Rp 2.000,-. Saya menyempatkan diri mencoba Rujak Madura yang terlihat berbeda dengan rujak Surabaya. Rujak madura ini memakai petis ikan dan tanpa kecap manis, jadi rasanya asin2 dengan rasa kacang keras sebagai bumbunya. Isinya : ketupat, sayur, timun, kedondong. Hummm di makan pedas nikmatnya top deh!! Sepiring rujak ini juga cuman Rp 2.500,-
Dengan perut yang cukup penuh perjalanan kembali ke Sumenep kami lakukan.45 menit kemudian di kota Sumenep kami memanjakan naga2 di perut kami dengan mencoba Soto Sabreng khas Sumenep di jalan Irama. Sebenarnya kami mencari warung Ny. Harpini di
jalan Letnan Ramli no 1 yang katanya sudah berjualan sejak tahun 1955, tapi kami tidak menemukannya. Dalam pencarian kami, ada ibu2 bersepeda motor yang dengan sangat baik hati memandu dan mengantar kami ke depot di jalan Irama itu. hehe... ya uda kami coba disana lah. Soto Sabreng tuh berisi babat, usus, singkong, lontong,kemudian di siram saus ulekan kacang, petis ikan dan cabai kalo mau dan selanjutnya di siram kuah soto. Hehe nga parah2 kok rasanya, enak juga. Kami merogoh kantong sebesar Rp 13.500,- untuk 2 porsi soto dan 2 gelas teh.Seneng deh makan kenyang trus dengan harga murah :pSetelah kembali kami mendengarkan bbrp petunjuk dari pemilik depot kami membeli beberapa camilan khas sumenep yang kebanyakan berupa hasil laut yang dikemas sebagai oleh2 khas daerah ini tak jauh dari depot itu.

Ternyata kenyang nga menjamin kita nga kesasar hahahaha.... tapi nga lama kami menemukan Keraton Sumenep yang kami cari di belakang alun2 kota ini. Ada biaya Rp 1000,- / orang untuk karcis masuk museum keraton dan kemudian kami harus dipandu oleh petugas untuk masuk ke dalam keraton. Sang bapak pemandu mulai bercerita asal usul dan sejarah kota ini sembari memperlihatkan barang2 peninggalan kerajaaan yang usianya berusia ratusan tahun.
Sayang sungguh disayang, keraton ini tidak sebersih penampilan luarnya. Sungguh sayang, banyak foto2 lama yang rusak, barang2 yang berdebu tanpa perawatan khusus yang dibutuhkannya, lapuk rusak dimakan usia. Banyak benda2 sejarah tergeletak begitu saja di dalam etalase. Bahkan ada fosil tulang utuh paus yang cukup besar penuh dengan sarang spiderman.

Satu2nya ruang yang terawat dan sakral adalah tempat tidur Putri Kuning (ibu dari Jokotole, seorang tokoh Sumenep di jaman kerajaan dulunya). Areal itu tidak boleh dimasuki, kita hanya
bisa mengintip dari lubang jendela kamar sang Putri. Kolam mandi sang Putri sekarang telah berubah fungsi sebagai kolam ikan dan air sumber yang mengalir sejak jaman dulu itu di yakini bisa membuat awet muda. Selesai berkeliling, kami memberikan sedikit tips sekedarnya untuk sang pemandu. Sempat dia menyarankan kita untuk tidak ke Kalianget (15 menit dari sana) dimana ada Ladang Garam yang menarik untuk dilihat, tapi tidak pada musim hujan. Pada bulan2 musim penghujan, tambak belum di gunakan dan hanya merupakan tambak tanah biasa dengan ikan2.
Ya sutra, puas mengelilingi Sumenep kami melanjutkan road trip ini keluar menuju Pamekasan. Namun kembali kami mampir dulu di Vihara Avalokitesvara yang berada di daerah Talang (45 menit dari Sumenep). Vihara ini unik karena benar2 mencerminkan kerukunan hidup umat beragama. Vihara ini menyediakan tempat ibadah untuk agama budha, hindu, islam, konghucu. Kami tidak berhasil menemukan yang untuk kristen tapi kami yakin pasti jg ada di sana. Tak berlama2 setelah menyempatkan diri untuk berterimakasih dan bersembahyang kami melanjutkan perjalanan.
Tak lama kami berhenti di Pantai terakhir yang ingin kami kunjungi, Pantai Camplong. Betapa kecewa, ini pantai terburuk yang kami lihat sepanjang perjalanan ini. Kotor, kumuh, tak terawat, bau tak sedap semua menyambut kami ketika kami tiba disana. Kami tidak perlu membayar karcis karena loket sudah tutup. Ada Camplong Beach Hotel persis di pantai ini, tapi ..... menyedihkan sekali kondisi hotel yang mungkin dulunya jaya ini. Hotel besar,cottage2 yang mungkin dulunya terlihat cantik dengan 2 kolam renang besar yang skrg lebih hitam dari warna air di tambak.Sungguh sayang ...

Ya sudahlah kami segera meninggalkan pantai ini dan segera menuju Bangkalan, kota pemberhentian terakhir kami. Di Bangkalan seharusnya ada makanan khas yang cukup lezat seperti nasi petis depot Amboina di sebelah masjid Jamik yang berupa nasi, lauk daging, paru, bihun, telur rebus dengan bumbu petis dan sambal.Nasi serpang (nasi putih,ikan, rempeyek udang, bihun dan telur
asin) dan sate lappa (sate daging dengan bumbu kacang dan kecap), bebek ketengan,bubur madura, sate sumsum. Tapi...... smuanya hanya dijual di pagi hari.hahahaha ....

Kami mampir di sebuah toko oleh2 khas bangkalan Nusa Indah Jln KH Moh Kohlil 105 (031)3091608. Dijalanan ini juga banyak sekali warung2 tenda yang menjual makanan tapi ya... bukan makanan yang khas sih. Dari sang penjaga toko yang ramah kami di
rekomendasikan untuk makan bebek madura di Warung Barokah beberapa meter dari sana. Warung ini bukan warung tenda, sudah hampir mirip depot. Yang menarik, di dinding warung ini ada sebuah pengumuman pemerintah bahwa warung ini terkena pajak PPn 10% hehehe nga tau beneran nga itu, bebek yang dijual seharga di Surabaya sih masih umum kok. Dengan sambal mentah hasil ulekan saja, dan bumbu racikan berwarna hitam kekuningan dan asin hummmm ini menjadi hidangan penutup yang lumayan indah.
Mohon maaf karena 1 dan lain hal sang naga2 di dalam perut mengacau, jadi langsung santap sampe lupa ambil foto nya.hehehe

20 menit kemudian kami sudah di atas kapal ferry (kali ini ferry yang seperti pada umumnya). Mengambil tempat di anjungan paling atas kami memandang Madura dengan lampu2 nya untuk terakhir kali dan menutup perjalanan kami.

Saturday, October 13, 2007

Backpack Singapore via Malaysia

Day 1
Barisan kerlip lampu dilandasan dan terminal Juanda menghantar kami tinggal landas,. Kebetulan dengan penerbangan AK 917 kami mendapat pesawat terbaru airbus AirAsia. Dengan tempat duduk yang lebih nyaman dan lebar, dan awak pesawat yang ramah sekali kami memulai liburan kami, kami sempat ngobrol santai begitu sama salah seorang pramugaranya sampai tidak terasa kami sudah tiba di KL LCCTerminal.

Setelah melewati imigrasi, ada counter Skybus yang bisa mengantar kami ke KL Sentral Station yang berjarak kurang lebih 1.5 jam perjalanan dengan hanya 9 RM. Ada juga sih Aeroline yang seharga 8 RM tapi bus nya kelihatannya lebih enak yang Skybus (official punya AirAsia juga). Skybus ini keberangkatannya setiap 30 mnt. Rute LCCT - KL sentral (7a.m. - 1.15a.m) Rute KL Sentral - LCCT (3.30 a.m - 10 p.m). Lalu kami naik taxi (10 RM) ke hostel.Jadi jam 12 tepat kami tiba di PUDU HOSTEL.
Reception yang melayani kami adalah seorang cewek Indian yg ramah, kami membayar 12 RM/orang untuk 1 bed dan deposit 10 RM/berdua. Di ruang lobi itu ada cafetaria, pool table, 2 televisi dan banyak sofa yang cukup nyaman dan bersih untuk ukuran hostel di daerah itu. Kamar kami adalah sebuah kamar kecil dengan 2 ranjang double decker, penghuni lainnya adalah cewek dari Ireland dan Jepang.

Setelah meletakkan barang kami, kami menyempatkan diri untuk makan Nasi Lemak di Estana Curry House di dekat hostel. Lokasi Pudu Hostel sangat strategis. Tepat dibawahnya adalah 7Eleven, tepat di depannya adalah Pudu Raya Bus Terminal, tidak jauh juga ada Pasar Rakyat LRT terminal, 15 menit perjalanan kaki dari pusat belanja Bukit Bintang.
Sudah kenyang, kami sempat menanyakan tiket bus ke Singapore untuk pagi besok tapi karena ini adalah hari Raya Idul Fitri travel agent itu menyebutkan harga2 yang bisa dibilang rada ngawur. So, dengan gambling kami memutuskan menunggu terminal buka jam 8 baru membeli tiket disana. Harga normal adalah berkisar antara 25-30 RM sekali jalan dan kami ditawari sampai 60 RM :( .Jika kita merencanakan perjalanan PP adalah baik jika kita membelinya di KL karena kurs di Singapore adalah hampir 3 x lipat.30 RM dan 30 SGD hehehehe......jauh bok!
Pudu Raya Bus Station
Day 2
Bangun tidur kami langsung menyeberang jalan dan mencari tiket, karena liburan buanyak banget orang di stasiun itu dan akhirnya kami mendapat seharga 40RM (lagi2 dengan alasan hari raya). Karena bus akan berangkat 30 menit lagi, tanpa mandi kami langsung packing dan check out hostel :p
8.30 perjalanan panjang ke Singapore dimulai dengan bus Eltabitha. Selepas kota KL, pemandangan selama sekitar 4 jam berikutnya adalah perjalanan panjang yang membosankan karena sepanjang itu pula kita hanya di hibur oleh deretan kelapa sawit!!! Sebelum mendekati perbatasan Malaysia - Singapore ada pemberhentian bus bernama Lucky Garden dimana kita bisa makan,ke wc (tandas), or membeli souvenir khas Malaysia. Bus akan berhenti sekitar 30 menit dan melanjutkan perjalanan ke perbatasan. Antrian panjannnggg sekali menghiasi jalanan perbatasan itu, begitu pula ketika kami tiba di Woodland Checkpoint (Imigrasi Singapore) antrian orang pun panjannggggg banget. Dan karena antrian2 ini pula akhirnya ada kesalahan persepsi dari teman2 satu bus ku. Kami semua menuju tempat stop nya bus, tapi bus kami tak ada disana .... semua orang bingung dan akhirnya ada sopir bus lain yang bilang kami sudah ditinggal. So, mereka akhirnya menerima penawaran sopir itu 5 RM untuk membawa mereka ke kota. Aku masih belum rela aja apalagi si sopir itu sok banget, so aku masih bertahan di sana beberapa saat sampai temanku uda nga sabar n memutuskan naik bus umum SMRT yang menuju kota dengan harga 2.30 RM. Begitu kami duduk di bus itu, aku melihat bus Eltabitha kami berhenti di pemberhentian. Hiks .....mungkin dia sendiri juga antri bus, mungkin juga dia uda putar lagi menunggu kami yang lama banget di Imigrasi.

Selepas turun dari bus, kami masuk MRT station terdekat di BUGIS dan keluar di Clarke Quay Station setelah Lik membeli EZ Link card seharga 15 SGD. Dan betapa kagetnya aku, karena ketika keluar aku tak perlu lagi jalan bbrp meter seperti tahun lalu karena begitu keluar station, SUMMER TAVERN hostel adalah tepat di seberangnya. Lalu aku menoleh lagi celingukan, kiri kanan depan blakang dan baru sadar kalau tempat aku berdiri saat ini itu adalah bangunan konstruksi yang belum jadi tahun lalu. Wahhhh keren semakin bagus aja lokasi hostel favoritku ini!! Bangunan konstruksi itu telah disulap jadi mall yang cukup besar dan ada starbuck,Long John Silver serta Burger King di pintu utamanya. Untuk informasi Summer Tavern bisa di lihat di post lain blog ini. Ow iya, skrg taripnya naik jadi 35 SGD semalam include breakfast + locker.

Summer Tavern Hostel
Selepas mandi dan menata bawaan kami di sebuah kamar dorm dengan sekitar 12 double decker bed kami keluar menuju Chinatown dengan melewati Singapore River (Some memory come up and make me smile .... hope you're here my friends).

Singapore River
Keluar di Chinatown kami menuju Chinatown Food Street. Ketika melihat kata2 Hainanese Chicken Rice langsung air liur menetes. Kami berhenti di depot Tiong Bahru yang ramai penuh mejanya. Ada 2 pilihan harga nasi Hainan ini, yaitu 2/3 SGD (beda banyak ayamnya). Selepas makan kenyang, kami menyusuri toko2 kaki lima di Chinatown itu. Tulisan 3 for 10 tersebar dimana2 dan barang2nya menggoda hati, akhirnya Lik mulai borong barang deh :)

Rasa capek mulai merasuk dan akhirnya kami kembali dulu ke hostel untuk meletakkan barang2 bawaan sebelum bersantai dan duduk2 di Singapore River. Kalau udah jalan2 bawaannya laparrr mulu, jadi kita cari Mc D terdekat yang buka 24 jam karena sudah lewat tengah malam. Ternyata ada di belokan setelah food center di sepanjang Boat Quay (riverside).

Day 3
Hari ini ke Orchard, Lik puter2 cari coklat di lantai bawah Takashimaya trus sekalian kita lunch di food court disana. Jam uda nunjukin jam 2 lebih, tapi food court itu penuh sesak dan mejanya terbatas. Habis isi bensin kita keluar menuju Border Bookstore, tapi aku sendirian lanjut ke SUNNY bookshop di Far East Plaza yang juga jual buku second sebelum nyusul Lik kembali.
Malam menjelang, setelah kembali ke posko alias hotel :p kami lanjut ke Lau Pa Sat Hawker Centre di kawasan Fullerton MRT. Lumayan banyak pilihan makanan dan murah juga.

Kaki sudah lumayan capek tapi jam masih menunjukkan jam 10.30 p.m. so aku memutuskan jalan2 dulu ke Merlion Park duduk2 dulu dan trus jalan kaki menyusuri river sampai ke hostel karena MRT pasti sudah tutup. Hehehehe si Lik malas banget jalan, tapi dengan enggan ya dia ikut akhirnya.
Sampai di hostel sudah jam 1 an, kami kira tinggal masuk dorm dan tidur setelah perjalanan jauh tapi ternyata kami salah.
Kahlil sang empunya hostel ada disana dengan bbrp teman2nya dan juga penghuni hostel dari berbagai negara. Ada sekitar 10 orang, tapi rame banget di teras itu, penuh dengan canda, olokan, senda gurau,berbagi cerita, dan berbagi pelajaran bahasa sampe kata2 jorok. It feels warm and like home there. Yah perkataan dunia itu kecil terbukti deh ternyata aku bertemu 2 model yg pernah aku foto hahaha. Tak lama Kahlil mengajak kami semua berjalan ke BOLLYWOOD PUB 5 menit jalan kaki dari hostel(milik temannya).Tarian India di peragakan oleh sekitar 5 cewek India secara bergantian,Kahlil menyebutnya belly dancing. Mereka juga menerima tip langsung dari para tamu yang datang.
What an interesting night .... or morning tepatnya karna kita pulang jam 3.30 a.m.

Day 4
Tanpa kami ketahui, ternyata di Singapore sedang ada festival Deepavali, sebuah ritual tradisi Indian yang menyalakan lampu2 (krg jelas historynya,blum di google :p) jadi ada juga seperti bazaar dan deepavali heritage gitu di sebuah jalanan di Little India. Pedagang kaki 5 ini menjual segala barang khas India dari kalung bunga, makanan kecil(muaniiissss smua), keripik2, heena(tinta tatoo),CD,lampu2 dengan berbagai bentuk, sesajian, baju, selendang, bindi (tanda di dahi wanita India),Bangle,dll. Ada pertunjukan pembuatan Bangle dari "lac" semacam kayu begitu,jadi kita bisa order sesuai bentuk dan warna yang kita inginkan. Sayangnya sang pembuat tidak berseni dan susah berkomunikasi,jadi yang dibuat samaaaaaa terus, sampe ngantuk aku lihat sembari nunggu Lik pesan.


Dari Little India kami mampir di Mustofa Center (24 jam) tapi saking padat dan sesaknya kami memutuskan untuk kembali lagi malamnya. So, kami jalan menuju Arab Street untuk mencoba menu makanan ala timur tengah. Kahlil merekomendasikan Amirah's Grill di Busorah Street, untung deh karena begitu sampe sana langsung hujan.
Tapi kecewa juga soalnya harusnya setelah makan mau ke Sentosa lihat wahana baru Song of the Sea. HIkss.....Alhasil setelah makan dan ketemuan sama teman kerja lama si Jon dan temannya Rocky, kami diantar kembali ke hostel. Hehe thanks ya.Kami juga sudah sempat membeli tiket untuk balik ke Pudu Raya, KL dengan harga 27 SGD di Golden Mile Complex dengan melalui travel agent SRI MAJU.Kembali kami harus meletakkan barang belanjaan, sebelum berpetualang lagi.
Dengan menggunakan MRT kami turun di Farrer Park dan kembali ke Mustofa Center pada jam 11.30 p.m. dan kami harus menggunakan taxi untuk kembali karena MRT sudah akan tutup.Ini toko serba ada terbesar yang pernah aku datangi saat ini, kaki udah rasanya mau copot tapi belum selesai aku kelilingi semua lantainya sampai jam 3.30 a.m. Aku blanjanya banyak makanan, hihihi makanan yang nga ada di Indo, trus chilli2an,dll gitu deh bahkan juga mie instant dan soup2an.

Day 5-6
Buka mata, kaget banget, uda jam 11.15 a.m. hueeeee 45 menit lagi musti check out. Setelah check out,luggage kami tetap titipkan di hostel lalu kami brangkat ke Orchard lagi karena ada bbrp barang yang ketinggalan dibeli. Kami lunch di Food Republic (lantai 4 Wisma Atria) di mana juga merupakan food court.

Malam hari kami mendapatkan pengalaman mahal yang tak kan terlupakan. Kami tertarik untuk makan di Boat Quay sebagai penutup perjalanan kami dan akhirnya setelah melalui setiap sales makanan di depan resto mrk masing2 yang gigih menawarkan menu mrk, kami memilih makan di Haven Restaurant. Suasananya bagus, banyak turis western juga yang makan sana. Tapii ......
AWAS PENIPUAN!!!! WARNING !! IT'S A TOURIST TRAP!
Ceritanya setelah melihat menunya,yah walau termasuk mahal masih reasonable lah so kami ok dan duduk disana. Kami mendapat free drink, bisa segala minuman. Lalu kami pesan menu Ikan masak Asam Manis yang di menu seharga 30 SGD.Tomyam SGD 15 untuk aku sendiri. Sambil menunggu order kami keluar, ada sepiring kecil(lepek sambel) kacang2an. Si Lik mulai curiga dan dia bertanya kepada salah seorang pelayannya apakah itu complimentary? YES! begitu jawabnya. Tapi begitu keluar bonnya, doengg....kacang bayar, tisue basah di meja bayar, dan paling parah, ikannya keluarnya seharga 80 SGD!!!!!!!! DAMN, dirty bussiness, ternyata ikannya di hitung per ounce.Sebelumnya juga seorang westerner di meja sebelah kami hampir tertipu, ada mknan yang masuk ke bill nya padahal dia tidak order untung dia teliti.
Sebuah penutup yang benar2 tidak menyenangkan. Tapi ya sudah deh.... pengalaman emang mahal. Maka semoga blog ini membantu.


Kembali kami ke hostel dan say goodbye kepada semua staff yang baik and friendly lalu kami segera memesan taxi via telepon tapi .... ternyata jam 9 - 11 adalah jam sibuk taxi2 itu. So kami berjalan sampai di Singapore River untuk ambil taxi dari sana tapi ternyata masih aja tidak ada satupun yang kosong. Akhirnya kami berjalan lebih jauh lagi sebelum menemukan taxi kosong tapi tanpa argo so dia pasang tarip 15 SGD dari sekitaran Singapore River sampai ke Golden Mile Complex. Dari pengalaman sih yah .. tdk terlalu mahal seharusnya dalam rush hours.
Begitulah kami akhirnya kembali ke KL berangkat jam 11.30 p.m. dan sampai jam 5a.m. Begitu sampai di Pudu Raya Bus Station kami menitipkan luggage kami yang cukup berat di Pudu Hostel dengan harga 2 RM / Luggage. Lalu kami berkeliling sampai tengah hari sebelum akhirnya kembali naik taxi ke KL CENTRAL by taxi seharga about 5 RM.

Begitulah catatan perjalanan kami,dan kami diantar kembali ke Indonesia oleh AirAsia :p tanpa kurang apapun, kecuali satu pak rokok yang titipan seorang teman yang koleksi :(.
Amankan bagasi Anda dengan wrapping jika bagasi tersebut bukan berupa koper yg bisa di gembok

------------------
Keep the light of travelling spirit alive .....

Friday, March 30, 2007

Kebun Raya Purwodadi & Situs Purbakala Singosari

Penat dengan rutinitas dan kehidupan kota, akhirnya kami memutuskan mencari udara segar, menggerakkan kaki sejenak dan menikmati hijaunya alam.


Perjalanan kali ini kami mulai pagi pagi sekali demi menghindari aksi demo yang akan dilakukan di daerah Raya Porong yang masih saja belum ada pemecahannya. Sampai di Pandaan kami menyempatkan diri mengisi perut di Depot AFF yg mempunyai menu andalan Rawon Empal (mohon maap sementara belum ada dokumentasinya) hehehe. Dengan harga Rp 8.000,- empal yang empuk dan sambal yang lezat menjadi sarapan kami.
Lalu kami langsung menuju Kawasan Peninggalan Purbakala Singosari. Ternyata tidak seperti yang kami bayangkan, kawasan ini sudah cukup berpenghuni, jadi peninggalan2 kerajaan Singosari tersebut sudah dikelilingi rumah2 penduduk dan di batasi pagar. Ketika kita memasuki kawasan ini, ada 2 raksasa yang mengapit jalan. Raksasa yang bertampang seram ini dinamakan Dwarapala yang dibuat dari batu monolitik dengan ketinggian 3,70 m.
Keberadaan dua arca dwarapala itu menunjukkan bahwa lokasi itu pada masa lalu merupakan pintu gerbang dari kerajaan Singosari, sebab fungsi arca dwarapala di masa lalu memang sebagai simbol dari penjaga pintu atau pintu gerbang namun hinga saat ini belum dilakukan rekonstruksi untuk mengetahui dimanakah letak istana Singosari secara tepat apakah disebelah barat atau timur Dwarapala karena situs bangunan istana Singosari sampai sekarang belum diketahui letaknya.

Letak kedua arca tersebut berada disisi kiri dan kanan jalan utama desa Candirenggo yang membujur dari timur ke barat.Arca raksasa yang sebelah kiri (selatan) berada diatas pedestal buatan yang dibuat sekitar tahun 1982 sewaktu arca tersebut diangkat dari kondisinya yang tenggelam sebatas perut menghadap utara. Terdapat cerita unik seputar proses pengangkatan arca yang tersebut, dua buah traktor yang diperkirakan mampu mengangkatnya ternyata "kewalahan" ditandai dengan melengkungnya tuas besi pengangkatnya. Akhirnya dari "wangsit" yang diterima oleh salah seorang pekerja, bahwa arca tersebut baru bisa diangkat bila kedua matanya ditutup dengan kain hitam dan menggunakan tiga batang pohon kelapa sebagai tiang penyangganya. Setelah dilakukan upacara ritual dan sesuai dengan petunjuk wangsit tersebut, barulah arca tersebut bisa diangkat dan dipindahkan. (sumber)


Atas petunjuk dari penjaga situs Dwarapala, kami melanjutkan perjalanan ke situs candi Sumberawan. Stupa ini sering disebut “Candi Rawan” yang berasal dari Sumber + Irawan, karena putra Arjuna konon pernah mandi sore di tempat ini. Candi ini tidak bisa di jangkau dengan kendaraan, jadi kami harus memarkir kendaraan di sebuah warung milik warga dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 400 M. Pemandangan yang kami lalui sungguh menyegarkan mata. Selain hamparan padi yang luas dan hijau, beningnya mata air di sepanjang perjalanan kami benar2 menyejukkan. Banyak kegiatan masyarakat di sepanjang mata air itu termasuk mandi dan mencuci baju, namun airnya tetap jernih dan dingin.


Kita diharapkan mengisi buku tamu di setiap situs di kawasan ini, dan memberikan sumbangan sukarela demi pemeliharaannya.

Puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan menuju Kebun Raya Purwodadi. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3.500,- / orang dan retribusi mobil, kami segera di persilakan menikmati hijaunya kebun ini dengan menggunakan mobil. Mobil bisa kami bawa sampai ke suatu tempat tertentu yang ingin kita gunakan sebagai tempat rekreasi. Suasana berawan dan angin semilir menemani kami disana. Pepohonan yang tinggi menjulang dan entah berusia brapa tahun menaungi jalanan beraspal yang kami lewati.


Jika kita tidak membawa minum ato snack sebagai camilan waktu piknik, jangan khawatir, begitu kita berhenti di suatu tempat, segeralah muncul (entah dari mana) ibu2 penjaja snack dan minuman (dingin).
Seperti wisata alam pada umumnya, nyamuk hutan juga banyak berkeliaran menikmati redupnya suasana pepohonan. Bawalah obat oles anti nyamuk
Sepulang dari Purwodadi, kami menyempatkan mengisi perut di warung penjual Lontong Kupang di Tretes (tepatnya diseberang Ayam Goreng Sri). Kenikmatan lontong kupang ini terletak pada baunya yang harum dan juga kupang yang segar. Apalagi kalau dimakan bersama bumbunya yang pedas. Bumbunya langsung diracik sesuai pesanan, terdiri dari bawang putih,gula pasir,gula merah, dan cabe merah. hummm.... di hari biasa kita masih bisa mendapatkannya di sore hari. Tapi kalau weekend, jangan berharap banyak deh. Warung ini buka sktr jam 11-12 setiap harinya. Dengan harga Rp 4.000,- per porsi kita bisa menikmati kupang yang dipadukan dengan lento dan lontong ini. (foto menyusul ya :p ) Daripada penasaran,lebih baik dibuktikan sendiri deh.