Wednesday, March 26, 2008

Road Trip : Madura Island

Long Weekend di akhir bulan April ini akhirnya memberikan kesempatan untuk sekedar melepas kerinduan pada alam. Jadi kali ini kami memutuskan untuk mengelilingi pulau Madura.

Day 1
Pulau Madura tidaklah jauh dari Surabaya, kita hanya perlu menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak(Ujung) dan kemudian menumpang kapal Ferry yang tersedia dan berangkat setiap 15-30 menit sekali sepanjang hari ke Pelabuhan Kamal, Madura. Kami tiba di Ujung jam 15.00 dan kebetulan mendapat FERRY CITRA DHARMA yang sangat menyenangkan. Ferry ini sangat bersih, di dek pertama di lengkapi oleh ruang duduk ber-AC dan toilet yang bersih pula. Dek kedua dilengkapi dengan outdoor playground untuk anak2 dan dinding2 kapal jg di hiasi gambar2 menarik untuk anak2 dan beberapa tumbuhan jg menghiasi sisi2 kapal tersebut.
Di dek ketiga terdapat ruang kemudi dan juga kantin yang di mejanya jg terdapat papan catur, ular tangga atau halma untuk dimainkan penumpang. Di dek ini pula ada sebuah sudut "tempat berkumpul darurat" dengan lukisan dinding yang menarik pula. Jadi kalau diandai2kan kapal ini mirip2 kapal pesiar ekonomis kali ya? :) Penyeberangan memakan waktu 24 menit (ini informasi dari nahkoda kapal di ruang kemudi yang kita ajak berbincang) tidak termasuk waktu tunggu masuknya mobil ke kapal dan waktu sandar.Setiba di Kamal, Madura kita langsung lurus menuju arah Bangkalan yang bisa kita capai dalam waktu 15- 20 menit. Kami memutuskan untuk lanjut dulu ke Sampang yang kami tempuh dalam waktu 1 jam 15 menit-an. Sampang pun kemudian kami lalui dan kami lanjutkan menuju Pamekasan dengan waktu 1 jam dalam guyuran hujan. Kami membuktikan ternyata orang madura suka membantu serta baik2 dan ini telah memperlancar perjalanan kami.

Di Pamekasan kami menyempatkan diri survey beberapa hotel yang terkenal disana. Yang paling kami rekomendasikan adalah
Hotel New Ramayana : Jalan Trunojoyo 88 (0324) 333237,333607
Hotel ini nyaman dengan taman yang cukup asri dan juga kamar hotel yang bersih dan baru. Harganya jg tidak mahal cuman 130ribu untuk 2 orang dengan fasilitas lengkap (TV, air panas, breakfast,springbed) Kelemahannya hotel ini masih 5 menit (mobil) dari pusat kota jauhnya.

Hotel Putri Restoran & Karaoke : Jalan Trunojoyo 107 (0324)322872
Hotel ini lebih ramai dikunjungi orang karena terletak di tengah kotanya dan juga ada restoran dan karaoke yang menjadi hiburan disana. Cukup bersih namun kenyamanannya masih kalah dengan new ramayana karena bangunannya jg lebih tua. Ada yang unik dengan hotel ini. untuk kelas standarnya adalah Rp 125.000,- dan superiornya adalah Rp 175.000,-. Apa coba
bedanya? hehe tak lain dan tak bukan adalah remote TV, dimana jika kita ngambil standard kita nga dapat remote tv. :)
Hotel murah lainnya di Surabaya (7 menit dari Bangkalan via Jembatan Suramadu)
Dari orang2 di hotel tersebut kami mendapat info ada sebuah kawasan tempat berjual makanan bernama SAE SALERA. Disepanjang jalan 1 arah ini berbagai makanan khas Madura di jual. Ada sate lalat,sate ayam, sate kambing, nasi gule, mie goreng, nasi goreng, seafood, bebek ayam goreng. Kami mampir di warung lesehan H. Dody / P. Ento yang menjual sate. Langsung aja aku tanya berapa 10 tusuk gitu ? Kata si bapak Rp 5.000,-/porsi. Ya uda aku pesen 2 porsi + lontong untuk aku sendiri. Dan ternyata .... hehe 1 porsi tuh kalo disana brarti 23 tusuk, kenyang dahh...hahah. Untung sih ternyata maksudnya sate lalat itu, jadi si ayam tuh dagingnya kecil2 seukuran lalat sehingga kalo sekali lahap bisa 5-6 tusuk sekaligus :p ketahuan rakusnya deh!
Di sebelah kami duduk sekeluarga orang Pamekasan yang kemudian kami ajak ngobrol pula sekilas kota ini dan menyarankan kami mencoba nasi gule. Maka tak lama kami berjalan kaki menuju tenda nasi gule,tapi kami tak berhasil mencobanya karena sudah habis.

Dengan cuaca yang dingin dan tdk hujan kami mengunjungi Dhangka (Api Tak Kunjung Padam) yang berjarak sekitar 15 menit dari pusat kota tersebut ke arah balik ke Sampang. Sampai di lokasi ada retribusi sebesar 1500 / mobil. Lokasi api itu adalah sebuah areal kecil berdiameter krg lebih 3-4 meter di batasi pagar pendek. Di sekelilingnya ada bbrp kedai berjualan baju,camilan, minum dan bbrp barang khas madura seperti cambuk dan celurit. Sepertnya api itu adalah hasil dari semacam gas dari dalam tanah sehingga terus menerus menyala sekian tahun. Penduduk sana pun sudah tidak tahu tepatnya kapan api ini ada.
Mereka memanfaatkannya untuk keperluan memasak sehari2 mereka juga.
Kesepian yang menyelimuti kami berdua dan 4 turis lainnya pecah oleh kedatangan sekelompok anak2 muda dari Talang (1/2 jam dari Pamekasan). Mereka ber-10 menghidupkan suasana dengan bernyanyi seru dengan gitar, dan membakar potongan2 ayam mentah yang mereka bawa. Suasana menjadi semacam suasana kemping dan kami mulai mengajak mereka ngobrol, bertukar cerita, dan mrk juga memberikan petunjuk2 seputar perjalanan kami.
Sekitar 1.30 jam berikutnya kami berdua di ajak mrk ikut menyantap hidangan ayam bakar mrk dgn bumbu yang sudah mereka siapkan. Walau kelihatannya tidak menarik, tapi keramahan mrk dan canda tawa kami membuatnya menjadi hidangan yang cukup menyenangkan. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 23.00 kami segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Sumenep karena tidak ada lagi yang bisa kami lakukan di Pamekasan.Sumenep kami capai dalam waktu 1 jam 30 menit lalu kami segera mencari hotel yang terkenal disana :
Hotel Sumekar dan Utami Sumekar : Trunojoyo 51 - 53 (0328)672223.
Superior room nya Rp 150.000,-Hotel ini luas banget! Tapi keadaannya tidak sebersih dan terawat hotel2 di Pamekasan. Suasana lama dan pengap menyambut kami ketika melihat kamarnya.

Hotel Wijaya 1 & 2 : Trunojoyo juga (tapi kami lupa meminta kartu namanya)
VIP roomnya Rp 100.000,-
Hotel Wijaya 1 : hotel ini sebenarnya hotel sales yang sederhana namun jg punya bbrp kamar VIP yang setelah kami lihat lebih bersih sedikit dari Utami dengan kamar mandi dalam
Hotel Wijaya 2 : Kami melongok kamar VIP yang dimiliki mereka dan ternyata kamar ini bisa buat main bola kali di dalamnya.hahaha ... dengan kamar mandi dalam, 2 bed kapuk besar, 1 set sofa dan meja,TV dan 1 lemari es tua yang tidak tahu bisa berfungsi atau tidak, dan AC lama juga.

Merasa belum cocok, kami berputar2 lagi dan mampir ke Hotel Safari yang tingkatnya dibawah yang 2 tadi. Kemudian dengan rekomendasi si bapak penjaga kami menuju Hotel Garuda yang keberadaannya tidak ada di panduan kami.
Hotel Garuda : Jalan Trunojoyo 280 (0328) 665543
Tampak depannya adalah sebuah rumah besar. Tidak terlalu banyak kamar yang dimilikinya tapi kebersihannya terjamin. Gambar dibawah adalah gambar ruangan yang kami tempati dengan harga Rp 100.000,- sangatlah murah dibanding hotel sebelumnya yang kami lihat. Fasilitasnya : AC baru, 2 springbed, kamar mandi dalam, TV,air welcome drink botol tanggung,sabun mandi kecil,handuk dan makan pagi (nasigoreng, telur, ayam, dan teh manis).Murah abis kan?? Dewi fortuna masih menyertai kami :p
Day 2 
Setelah merencanakan perjalanan kami di subuh hari tadi sebelom tidur, maka jam 6.00 alarm sudah berteriak2 membangunkan kami. Dengan semangat kami membuka mata, beres2 dan breakfast sebelum check out dan melanjutkan perjalanan ini.
Sang bapak penjaga hotel yang baik hati memberikan info tambahan kepada kami agar berangkat ke Pantai Slopeng dulu sebelum ke Pantai Lombang karena Lombang lebih rindang pepohonannya. Maka kami memutuskan untuk menurutinya. Sebelumnya kami menyempatkan diri mencoba jajanan khas Sumenep yaitu Apem (atau di baca Apen disana). Lokasinya ada di jalanan menuju Lombang di Jalan Gapura, ada 2 kedai yang kami lihat disana, kami mencoba kedai pertama. Apen ini hanya di jual di pagi hari jadi kalau tidak mau kehabisan jangan datang siang2 ya. Apen yang dijual disini ada 2 jenis : dengan atau tanpa telur. Harganya
sama saja, dan di patok Rp 4.500,- /10 buah dan penyajiannya dengan di siram gula aren.

Lanjut lagi, kami segera menuju Slopeng. Dan sejak awal perjalanan ini kami melihat sesuatu yang menarik dimana ada banyak sekali PBV (Perkumpulan Bola Volley) yang tak terhitung jumlahnya walau ada yang benar2 berupa lapangan dan ada juga yang mendirikan net di tanah kosong saja, bahkan sampai perjalanan pulang kami pun masih banyak PBV bertebaran. Papan PBV itu di sponsori oleh Sampoerna Hijau, setelah selidik punya selidik ternyata Madura sedang di landa demam Volley!! Di pantai, di teras rumah, di sekolahan, bahkan pagar rumah pun jadi net volley!!! hehehhe .... semangat volley terasa banget dan herannya, banyak banget pemuda pemudi di pulau itu yang cukup mahir bermain volley.
1 jam kemudian kami tiba di Slopeng setelah melewati sawah2 yang subur menghijau dengan petani2 yang baik hati dan ramah. Sampai di lokasi kami di tarik Rp 5.000,- sebagai biaya masuk. Ada beberapa gazebo2 kecil untuk berteduh, dan banyak nyiur di tepi pantai yang sedang surut. Keadaan tempat wisata ini bisa dibilang cukup bersih dan terawat. Memuaskan diri untuk bermain dan menikmati pantai itu sebentar lalu kami melanjutkan perjalanan ke Lombang.

Kami tak mengira kami bakal di hadang oleh jalanan tanah tak beraspal yang tak kunjung habis dijalanan yang menghubungkan Slopeng dan Lombang. Sebenarnya ada jalan lain menuju Lombang tapi dari kota Sumenep. Kami memilih menikmati perjalanan menyusur persawahan dan perbukitan kapur ini, bahkan kami menyempatkan diri untuk menepi dan melihat lokasi penambangan kapur di sana.
1 jam perjalanan kami tempuh dengan kecepatan 10-20 km /jam di desa ini, terlihat sekali sepertinya jarang atau bahkan langka sebuah mobil bukan truk melewati jalan ini,bahkan mata sang sapi pembajak(banyak banget disana) juga mengawasi mobil kami dari kemunculan kami sampai menghilang di ujung mata mereka(lucu banget deh sapi2 itu).Sempat juga kami harus merepotkan sang petani untuk menggiring para sapi untuk keluar jalan demi membiarkan kami lewat dulu.Selepas desa ini, kami masih dihadang jalan aspal yang buruk sebelum akhirnya kami bertemu dengan jalanan aspal yang bagus dan normal. Kami menghabiskan 1/2 jam lagi setelah keluar dari jalan tanah jelek tersebut sampai akhirnya kami tiba di Lombang.
Pantai Lombang bisa di samakan dengan rata2 pantai lain di Indonesia dan memang lebih teduh dan luas dibanding Slopeng. Ada penjual makanan dan minuman juga dan harga yang mereka berikan sangatlah murah untuk sebuah tempat makan di sebuah tempat wisata. 1 buah degan muda hanya dipatok Rp 2.000,-. Saya menyempatkan diri mencoba Rujak Madura yang terlihat berbeda dengan rujak Surabaya. Rujak madura ini memakai petis ikan dan tanpa kecap manis, jadi rasanya asin2 dengan rasa kacang keras sebagai bumbunya. Isinya : ketupat, sayur, timun, kedondong. Hummm di makan pedas nikmatnya top deh!! Sepiring rujak ini juga cuman Rp 2.500,-
Dengan perut yang cukup penuh perjalanan kembali ke Sumenep kami lakukan.45 menit kemudian di kota Sumenep kami memanjakan naga2 di perut kami dengan mencoba Soto Sabreng khas Sumenep di jalan Irama. Sebenarnya kami mencari warung Ny. Harpini di
jalan Letnan Ramli no 1 yang katanya sudah berjualan sejak tahun 1955, tapi kami tidak menemukannya. Dalam pencarian kami, ada ibu2 bersepeda motor yang dengan sangat baik hati memandu dan mengantar kami ke depot di jalan Irama itu. hehe... ya uda kami coba disana lah. Soto Sabreng tuh berisi babat, usus, singkong, lontong,kemudian di siram saus ulekan kacang, petis ikan dan cabai kalo mau dan selanjutnya di siram kuah soto. Hehe nga parah2 kok rasanya, enak juga. Kami merogoh kantong sebesar Rp 13.500,- untuk 2 porsi soto dan 2 gelas teh.Seneng deh makan kenyang trus dengan harga murah :pSetelah kembali kami mendengarkan bbrp petunjuk dari pemilik depot kami membeli beberapa camilan khas sumenep yang kebanyakan berupa hasil laut yang dikemas sebagai oleh2 khas daerah ini tak jauh dari depot itu.

Ternyata kenyang nga menjamin kita nga kesasar hahahaha.... tapi nga lama kami menemukan Keraton Sumenep yang kami cari di belakang alun2 kota ini. Ada biaya Rp 1000,- / orang untuk karcis masuk museum keraton dan kemudian kami harus dipandu oleh petugas untuk masuk ke dalam keraton. Sang bapak pemandu mulai bercerita asal usul dan sejarah kota ini sembari memperlihatkan barang2 peninggalan kerajaaan yang usianya berusia ratusan tahun.
Sayang sungguh disayang, keraton ini tidak sebersih penampilan luarnya. Sungguh sayang, banyak foto2 lama yang rusak, barang2 yang berdebu tanpa perawatan khusus yang dibutuhkannya, lapuk rusak dimakan usia. Banyak benda2 sejarah tergeletak begitu saja di dalam etalase. Bahkan ada fosil tulang utuh paus yang cukup besar penuh dengan sarang spiderman.

Satu2nya ruang yang terawat dan sakral adalah tempat tidur Putri Kuning (ibu dari Jokotole, seorang tokoh Sumenep di jaman kerajaan dulunya). Areal itu tidak boleh dimasuki, kita hanya
bisa mengintip dari lubang jendela kamar sang Putri. Kolam mandi sang Putri sekarang telah berubah fungsi sebagai kolam ikan dan air sumber yang mengalir sejak jaman dulu itu di yakini bisa membuat awet muda. Selesai berkeliling, kami memberikan sedikit tips sekedarnya untuk sang pemandu. Sempat dia menyarankan kita untuk tidak ke Kalianget (15 menit dari sana) dimana ada Ladang Garam yang menarik untuk dilihat, tapi tidak pada musim hujan. Pada bulan2 musim penghujan, tambak belum di gunakan dan hanya merupakan tambak tanah biasa dengan ikan2.
Ya sutra, puas mengelilingi Sumenep kami melanjutkan road trip ini keluar menuju Pamekasan. Namun kembali kami mampir dulu di Vihara Avalokitesvara yang berada di daerah Talang (45 menit dari Sumenep). Vihara ini unik karena benar2 mencerminkan kerukunan hidup umat beragama. Vihara ini menyediakan tempat ibadah untuk agama budha, hindu, islam, konghucu. Kami tidak berhasil menemukan yang untuk kristen tapi kami yakin pasti jg ada di sana. Tak berlama2 setelah menyempatkan diri untuk berterimakasih dan bersembahyang kami melanjutkan perjalanan.
Tak lama kami berhenti di Pantai terakhir yang ingin kami kunjungi, Pantai Camplong. Betapa kecewa, ini pantai terburuk yang kami lihat sepanjang perjalanan ini. Kotor, kumuh, tak terawat, bau tak sedap semua menyambut kami ketika kami tiba disana. Kami tidak perlu membayar karcis karena loket sudah tutup. Ada Camplong Beach Hotel persis di pantai ini, tapi ..... menyedihkan sekali kondisi hotel yang mungkin dulunya jaya ini. Hotel besar,cottage2 yang mungkin dulunya terlihat cantik dengan 2 kolam renang besar yang skrg lebih hitam dari warna air di tambak.Sungguh sayang ...

Ya sudahlah kami segera meninggalkan pantai ini dan segera menuju Bangkalan, kota pemberhentian terakhir kami. Di Bangkalan seharusnya ada makanan khas yang cukup lezat seperti nasi petis depot Amboina di sebelah masjid Jamik yang berupa nasi, lauk daging, paru, bihun, telur rebus dengan bumbu petis dan sambal.Nasi serpang (nasi putih,ikan, rempeyek udang, bihun dan telur
asin) dan sate lappa (sate daging dengan bumbu kacang dan kecap), bebek ketengan,bubur madura, sate sumsum. Tapi...... smuanya hanya dijual di pagi hari.hahahaha ....

Kami mampir di sebuah toko oleh2 khas bangkalan Nusa Indah Jln KH Moh Kohlil 105 (031)3091608. Dijalanan ini juga banyak sekali warung2 tenda yang menjual makanan tapi ya... bukan makanan yang khas sih. Dari sang penjaga toko yang ramah kami di
rekomendasikan untuk makan bebek madura di Warung Barokah beberapa meter dari sana. Warung ini bukan warung tenda, sudah hampir mirip depot. Yang menarik, di dinding warung ini ada sebuah pengumuman pemerintah bahwa warung ini terkena pajak PPn 10% hehehe nga tau beneran nga itu, bebek yang dijual seharga di Surabaya sih masih umum kok. Dengan sambal mentah hasil ulekan saja, dan bumbu racikan berwarna hitam kekuningan dan asin hummmm ini menjadi hidangan penutup yang lumayan indah.
Mohon maaf karena 1 dan lain hal sang naga2 di dalam perut mengacau, jadi langsung santap sampe lupa ambil foto nya.hehehe

20 menit kemudian kami sudah di atas kapal ferry (kali ini ferry yang seperti pada umumnya). Mengambil tempat di anjungan paling atas kami memandang Madura dengan lampu2 nya untuk terakhir kali dan menutup perjalanan kami.

Saturday, October 13, 2007

Backpack Singapore via Malaysia

Day 1
Barisan kerlip lampu dilandasan dan terminal Juanda menghantar kami tinggal landas,. Kebetulan dengan penerbangan AK 917 kami mendapat pesawat terbaru airbus AirAsia. Dengan tempat duduk yang lebih nyaman dan lebar, dan awak pesawat yang ramah sekali kami memulai liburan kami, kami sempat ngobrol santai begitu sama salah seorang pramugaranya sampai tidak terasa kami sudah tiba di KL LCCTerminal.

Setelah melewati imigrasi, ada counter Skybus yang bisa mengantar kami ke KL Sentral Station yang berjarak kurang lebih 1.5 jam perjalanan dengan hanya 9 RM. Ada juga sih Aeroline yang seharga 8 RM tapi bus nya kelihatannya lebih enak yang Skybus (official punya AirAsia juga). Skybus ini keberangkatannya setiap 30 mnt. Rute LCCT - KL sentral (7a.m. - 1.15a.m) Rute KL Sentral - LCCT (3.30 a.m - 10 p.m). Lalu kami naik taxi (10 RM) ke hostel.Jadi jam 12 tepat kami tiba di PUDU HOSTEL.
Reception yang melayani kami adalah seorang cewek Indian yg ramah, kami membayar 12 RM/orang untuk 1 bed dan deposit 10 RM/berdua. Di ruang lobi itu ada cafetaria, pool table, 2 televisi dan banyak sofa yang cukup nyaman dan bersih untuk ukuran hostel di daerah itu. Kamar kami adalah sebuah kamar kecil dengan 2 ranjang double decker, penghuni lainnya adalah cewek dari Ireland dan Jepang.

Setelah meletakkan barang kami, kami menyempatkan diri untuk makan Nasi Lemak di Estana Curry House di dekat hostel. Lokasi Pudu Hostel sangat strategis. Tepat dibawahnya adalah 7Eleven, tepat di depannya adalah Pudu Raya Bus Terminal, tidak jauh juga ada Pasar Rakyat LRT terminal, 15 menit perjalanan kaki dari pusat belanja Bukit Bintang.
Sudah kenyang, kami sempat menanyakan tiket bus ke Singapore untuk pagi besok tapi karena ini adalah hari Raya Idul Fitri travel agent itu menyebutkan harga2 yang bisa dibilang rada ngawur. So, dengan gambling kami memutuskan menunggu terminal buka jam 8 baru membeli tiket disana. Harga normal adalah berkisar antara 25-30 RM sekali jalan dan kami ditawari sampai 60 RM :( .Jika kita merencanakan perjalanan PP adalah baik jika kita membelinya di KL karena kurs di Singapore adalah hampir 3 x lipat.30 RM dan 30 SGD hehehehe......jauh bok!
Pudu Raya Bus Station
Day 2
Bangun tidur kami langsung menyeberang jalan dan mencari tiket, karena liburan buanyak banget orang di stasiun itu dan akhirnya kami mendapat seharga 40RM (lagi2 dengan alasan hari raya). Karena bus akan berangkat 30 menit lagi, tanpa mandi kami langsung packing dan check out hostel :p
8.30 perjalanan panjang ke Singapore dimulai dengan bus Eltabitha. Selepas kota KL, pemandangan selama sekitar 4 jam berikutnya adalah perjalanan panjang yang membosankan karena sepanjang itu pula kita hanya di hibur oleh deretan kelapa sawit!!! Sebelum mendekati perbatasan Malaysia - Singapore ada pemberhentian bus bernama Lucky Garden dimana kita bisa makan,ke wc (tandas), or membeli souvenir khas Malaysia. Bus akan berhenti sekitar 30 menit dan melanjutkan perjalanan ke perbatasan. Antrian panjannnggg sekali menghiasi jalanan perbatasan itu, begitu pula ketika kami tiba di Woodland Checkpoint (Imigrasi Singapore) antrian orang pun panjannggggg banget. Dan karena antrian2 ini pula akhirnya ada kesalahan persepsi dari teman2 satu bus ku. Kami semua menuju tempat stop nya bus, tapi bus kami tak ada disana .... semua orang bingung dan akhirnya ada sopir bus lain yang bilang kami sudah ditinggal. So, mereka akhirnya menerima penawaran sopir itu 5 RM untuk membawa mereka ke kota. Aku masih belum rela aja apalagi si sopir itu sok banget, so aku masih bertahan di sana beberapa saat sampai temanku uda nga sabar n memutuskan naik bus umum SMRT yang menuju kota dengan harga 2.30 RM. Begitu kami duduk di bus itu, aku melihat bus Eltabitha kami berhenti di pemberhentian. Hiks .....mungkin dia sendiri juga antri bus, mungkin juga dia uda putar lagi menunggu kami yang lama banget di Imigrasi.

Selepas turun dari bus, kami masuk MRT station terdekat di BUGIS dan keluar di Clarke Quay Station setelah Lik membeli EZ Link card seharga 15 SGD. Dan betapa kagetnya aku, karena ketika keluar aku tak perlu lagi jalan bbrp meter seperti tahun lalu karena begitu keluar station, SUMMER TAVERN hostel adalah tepat di seberangnya. Lalu aku menoleh lagi celingukan, kiri kanan depan blakang dan baru sadar kalau tempat aku berdiri saat ini itu adalah bangunan konstruksi yang belum jadi tahun lalu. Wahhhh keren semakin bagus aja lokasi hostel favoritku ini!! Bangunan konstruksi itu telah disulap jadi mall yang cukup besar dan ada starbuck,Long John Silver serta Burger King di pintu utamanya. Untuk informasi Summer Tavern bisa di lihat di post lain blog ini. Ow iya, skrg taripnya naik jadi 35 SGD semalam include breakfast + locker.

Summer Tavern Hostel
Selepas mandi dan menata bawaan kami di sebuah kamar dorm dengan sekitar 12 double decker bed kami keluar menuju Chinatown dengan melewati Singapore River (Some memory come up and make me smile .... hope you're here my friends).

Singapore River
Keluar di Chinatown kami menuju Chinatown Food Street. Ketika melihat kata2 Hainanese Chicken Rice langsung air liur menetes. Kami berhenti di depot Tiong Bahru yang ramai penuh mejanya. Ada 2 pilihan harga nasi Hainan ini, yaitu 2/3 SGD (beda banyak ayamnya). Selepas makan kenyang, kami menyusuri toko2 kaki lima di Chinatown itu. Tulisan 3 for 10 tersebar dimana2 dan barang2nya menggoda hati, akhirnya Lik mulai borong barang deh :)

Rasa capek mulai merasuk dan akhirnya kami kembali dulu ke hostel untuk meletakkan barang2 bawaan sebelum bersantai dan duduk2 di Singapore River. Kalau udah jalan2 bawaannya laparrr mulu, jadi kita cari Mc D terdekat yang buka 24 jam karena sudah lewat tengah malam. Ternyata ada di belokan setelah food center di sepanjang Boat Quay (riverside).

Day 3
Hari ini ke Orchard, Lik puter2 cari coklat di lantai bawah Takashimaya trus sekalian kita lunch di food court disana. Jam uda nunjukin jam 2 lebih, tapi food court itu penuh sesak dan mejanya terbatas. Habis isi bensin kita keluar menuju Border Bookstore, tapi aku sendirian lanjut ke SUNNY bookshop di Far East Plaza yang juga jual buku second sebelum nyusul Lik kembali.
Malam menjelang, setelah kembali ke posko alias hotel :p kami lanjut ke Lau Pa Sat Hawker Centre di kawasan Fullerton MRT. Lumayan banyak pilihan makanan dan murah juga.

Kaki sudah lumayan capek tapi jam masih menunjukkan jam 10.30 p.m. so aku memutuskan jalan2 dulu ke Merlion Park duduk2 dulu dan trus jalan kaki menyusuri river sampai ke hostel karena MRT pasti sudah tutup. Hehehehe si Lik malas banget jalan, tapi dengan enggan ya dia ikut akhirnya.
Sampai di hostel sudah jam 1 an, kami kira tinggal masuk dorm dan tidur setelah perjalanan jauh tapi ternyata kami salah.
Kahlil sang empunya hostel ada disana dengan bbrp teman2nya dan juga penghuni hostel dari berbagai negara. Ada sekitar 10 orang, tapi rame banget di teras itu, penuh dengan canda, olokan, senda gurau,berbagi cerita, dan berbagi pelajaran bahasa sampe kata2 jorok. It feels warm and like home there. Yah perkataan dunia itu kecil terbukti deh ternyata aku bertemu 2 model yg pernah aku foto hahaha. Tak lama Kahlil mengajak kami semua berjalan ke BOLLYWOOD PUB 5 menit jalan kaki dari hostel(milik temannya).Tarian India di peragakan oleh sekitar 5 cewek India secara bergantian,Kahlil menyebutnya belly dancing. Mereka juga menerima tip langsung dari para tamu yang datang.
What an interesting night .... or morning tepatnya karna kita pulang jam 3.30 a.m.

Day 4
Tanpa kami ketahui, ternyata di Singapore sedang ada festival Deepavali, sebuah ritual tradisi Indian yang menyalakan lampu2 (krg jelas historynya,blum di google :p) jadi ada juga seperti bazaar dan deepavali heritage gitu di sebuah jalanan di Little India. Pedagang kaki 5 ini menjual segala barang khas India dari kalung bunga, makanan kecil(muaniiissss smua), keripik2, heena(tinta tatoo),CD,lampu2 dengan berbagai bentuk, sesajian, baju, selendang, bindi (tanda di dahi wanita India),Bangle,dll. Ada pertunjukan pembuatan Bangle dari "lac" semacam kayu begitu,jadi kita bisa order sesuai bentuk dan warna yang kita inginkan. Sayangnya sang pembuat tidak berseni dan susah berkomunikasi,jadi yang dibuat samaaaaaa terus, sampe ngantuk aku lihat sembari nunggu Lik pesan.


Dari Little India kami mampir di Mustofa Center (24 jam) tapi saking padat dan sesaknya kami memutuskan untuk kembali lagi malamnya. So, kami jalan menuju Arab Street untuk mencoba menu makanan ala timur tengah. Kahlil merekomendasikan Amirah's Grill di Busorah Street, untung deh karena begitu sampe sana langsung hujan.
Tapi kecewa juga soalnya harusnya setelah makan mau ke Sentosa lihat wahana baru Song of the Sea. HIkss.....Alhasil setelah makan dan ketemuan sama teman kerja lama si Jon dan temannya Rocky, kami diantar kembali ke hostel. Hehe thanks ya.Kami juga sudah sempat membeli tiket untuk balik ke Pudu Raya, KL dengan harga 27 SGD di Golden Mile Complex dengan melalui travel agent SRI MAJU.Kembali kami harus meletakkan barang belanjaan, sebelum berpetualang lagi.
Dengan menggunakan MRT kami turun di Farrer Park dan kembali ke Mustofa Center pada jam 11.30 p.m. dan kami harus menggunakan taxi untuk kembali karena MRT sudah akan tutup.Ini toko serba ada terbesar yang pernah aku datangi saat ini, kaki udah rasanya mau copot tapi belum selesai aku kelilingi semua lantainya sampai jam 3.30 a.m. Aku blanjanya banyak makanan, hihihi makanan yang nga ada di Indo, trus chilli2an,dll gitu deh bahkan juga mie instant dan soup2an.

Day 5-6
Buka mata, kaget banget, uda jam 11.15 a.m. hueeeee 45 menit lagi musti check out. Setelah check out,luggage kami tetap titipkan di hostel lalu kami brangkat ke Orchard lagi karena ada bbrp barang yang ketinggalan dibeli. Kami lunch di Food Republic (lantai 4 Wisma Atria) di mana juga merupakan food court.

Malam hari kami mendapatkan pengalaman mahal yang tak kan terlupakan. Kami tertarik untuk makan di Boat Quay sebagai penutup perjalanan kami dan akhirnya setelah melalui setiap sales makanan di depan resto mrk masing2 yang gigih menawarkan menu mrk, kami memilih makan di Haven Restaurant. Suasananya bagus, banyak turis western juga yang makan sana. Tapii ......
AWAS PENIPUAN!!!! WARNING !! IT'S A TOURIST TRAP!
Ceritanya setelah melihat menunya,yah walau termasuk mahal masih reasonable lah so kami ok dan duduk disana. Kami mendapat free drink, bisa segala minuman. Lalu kami pesan menu Ikan masak Asam Manis yang di menu seharga 30 SGD.Tomyam SGD 15 untuk aku sendiri. Sambil menunggu order kami keluar, ada sepiring kecil(lepek sambel) kacang2an. Si Lik mulai curiga dan dia bertanya kepada salah seorang pelayannya apakah itu complimentary? YES! begitu jawabnya. Tapi begitu keluar bonnya, doengg....kacang bayar, tisue basah di meja bayar, dan paling parah, ikannya keluarnya seharga 80 SGD!!!!!!!! DAMN, dirty bussiness, ternyata ikannya di hitung per ounce.Sebelumnya juga seorang westerner di meja sebelah kami hampir tertipu, ada mknan yang masuk ke bill nya padahal dia tidak order untung dia teliti.
Sebuah penutup yang benar2 tidak menyenangkan. Tapi ya sudah deh.... pengalaman emang mahal. Maka semoga blog ini membantu.


Kembali kami ke hostel dan say goodbye kepada semua staff yang baik and friendly lalu kami segera memesan taxi via telepon tapi .... ternyata jam 9 - 11 adalah jam sibuk taxi2 itu. So kami berjalan sampai di Singapore River untuk ambil taxi dari sana tapi ternyata masih aja tidak ada satupun yang kosong. Akhirnya kami berjalan lebih jauh lagi sebelum menemukan taxi kosong tapi tanpa argo so dia pasang tarip 15 SGD dari sekitaran Singapore River sampai ke Golden Mile Complex. Dari pengalaman sih yah .. tdk terlalu mahal seharusnya dalam rush hours.
Begitulah kami akhirnya kembali ke KL berangkat jam 11.30 p.m. dan sampai jam 5a.m. Begitu sampai di Pudu Raya Bus Station kami menitipkan luggage kami yang cukup berat di Pudu Hostel dengan harga 2 RM / Luggage. Lalu kami berkeliling sampai tengah hari sebelum akhirnya kembali naik taxi ke KL CENTRAL by taxi seharga about 5 RM.

Begitulah catatan perjalanan kami,dan kami diantar kembali ke Indonesia oleh AirAsia :p tanpa kurang apapun, kecuali satu pak rokok yang titipan seorang teman yang koleksi :(.
Amankan bagasi Anda dengan wrapping jika bagasi tersebut bukan berupa koper yg bisa di gembok

------------------
Keep the light of travelling spirit alive .....

Friday, March 30, 2007

Kebun Raya Purwodadi & Situs Purbakala Singosari

Penat dengan rutinitas dan kehidupan kota, akhirnya kami memutuskan mencari udara segar, menggerakkan kaki sejenak dan menikmati hijaunya alam.


Perjalanan kali ini kami mulai pagi pagi sekali demi menghindari aksi demo yang akan dilakukan di daerah Raya Porong yang masih saja belum ada pemecahannya. Sampai di Pandaan kami menyempatkan diri mengisi perut di Depot AFF yg mempunyai menu andalan Rawon Empal (mohon maap sementara belum ada dokumentasinya) hehehe. Dengan harga Rp 8.000,- empal yang empuk dan sambal yang lezat menjadi sarapan kami.
Lalu kami langsung menuju Kawasan Peninggalan Purbakala Singosari. Ternyata tidak seperti yang kami bayangkan, kawasan ini sudah cukup berpenghuni, jadi peninggalan2 kerajaan Singosari tersebut sudah dikelilingi rumah2 penduduk dan di batasi pagar. Ketika kita memasuki kawasan ini, ada 2 raksasa yang mengapit jalan. Raksasa yang bertampang seram ini dinamakan Dwarapala yang dibuat dari batu monolitik dengan ketinggian 3,70 m.
Keberadaan dua arca dwarapala itu menunjukkan bahwa lokasi itu pada masa lalu merupakan pintu gerbang dari kerajaan Singosari, sebab fungsi arca dwarapala di masa lalu memang sebagai simbol dari penjaga pintu atau pintu gerbang namun hinga saat ini belum dilakukan rekonstruksi untuk mengetahui dimanakah letak istana Singosari secara tepat apakah disebelah barat atau timur Dwarapala karena situs bangunan istana Singosari sampai sekarang belum diketahui letaknya.

Letak kedua arca tersebut berada disisi kiri dan kanan jalan utama desa Candirenggo yang membujur dari timur ke barat.Arca raksasa yang sebelah kiri (selatan) berada diatas pedestal buatan yang dibuat sekitar tahun 1982 sewaktu arca tersebut diangkat dari kondisinya yang tenggelam sebatas perut menghadap utara. Terdapat cerita unik seputar proses pengangkatan arca yang tersebut, dua buah traktor yang diperkirakan mampu mengangkatnya ternyata "kewalahan" ditandai dengan melengkungnya tuas besi pengangkatnya. Akhirnya dari "wangsit" yang diterima oleh salah seorang pekerja, bahwa arca tersebut baru bisa diangkat bila kedua matanya ditutup dengan kain hitam dan menggunakan tiga batang pohon kelapa sebagai tiang penyangganya. Setelah dilakukan upacara ritual dan sesuai dengan petunjuk wangsit tersebut, barulah arca tersebut bisa diangkat dan dipindahkan. (sumber)


Atas petunjuk dari penjaga situs Dwarapala, kami melanjutkan perjalanan ke situs candi Sumberawan. Stupa ini sering disebut “Candi Rawan” yang berasal dari Sumber + Irawan, karena putra Arjuna konon pernah mandi sore di tempat ini. Candi ini tidak bisa di jangkau dengan kendaraan, jadi kami harus memarkir kendaraan di sebuah warung milik warga dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 400 M. Pemandangan yang kami lalui sungguh menyegarkan mata. Selain hamparan padi yang luas dan hijau, beningnya mata air di sepanjang perjalanan kami benar2 menyejukkan. Banyak kegiatan masyarakat di sepanjang mata air itu termasuk mandi dan mencuci baju, namun airnya tetap jernih dan dingin.


Kita diharapkan mengisi buku tamu di setiap situs di kawasan ini, dan memberikan sumbangan sukarela demi pemeliharaannya.

Puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan menuju Kebun Raya Purwodadi. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3.500,- / orang dan retribusi mobil, kami segera di persilakan menikmati hijaunya kebun ini dengan menggunakan mobil. Mobil bisa kami bawa sampai ke suatu tempat tertentu yang ingin kita gunakan sebagai tempat rekreasi. Suasana berawan dan angin semilir menemani kami disana. Pepohonan yang tinggi menjulang dan entah berusia brapa tahun menaungi jalanan beraspal yang kami lewati.


Jika kita tidak membawa minum ato snack sebagai camilan waktu piknik, jangan khawatir, begitu kita berhenti di suatu tempat, segeralah muncul (entah dari mana) ibu2 penjaja snack dan minuman (dingin).
Seperti wisata alam pada umumnya, nyamuk hutan juga banyak berkeliaran menikmati redupnya suasana pepohonan. Bawalah obat oles anti nyamuk
Sepulang dari Purwodadi, kami menyempatkan mengisi perut di warung penjual Lontong Kupang di Tretes (tepatnya diseberang Ayam Goreng Sri). Kenikmatan lontong kupang ini terletak pada baunya yang harum dan juga kupang yang segar. Apalagi kalau dimakan bersama bumbunya yang pedas. Bumbunya langsung diracik sesuai pesanan, terdiri dari bawang putih,gula pasir,gula merah, dan cabe merah. hummm.... di hari biasa kita masih bisa mendapatkannya di sore hari. Tapi kalau weekend, jangan berharap banyak deh. Warung ini buka sktr jam 11-12 setiap harinya. Dengan harga Rp 4.000,- per porsi kita bisa menikmati kupang yang dipadukan dengan lento dan lontong ini. (foto menyusul ya :p ) Daripada penasaran,lebih baik dibuktikan sendiri deh.

Friday, September 29, 2006

Amazing Thailand 2 - Bangkok

Part 1 : Phuket

I'am so lucky to experience the new Bangkok International airport yang baru diresmikan berjalan hari ini pada pkl 20.00, dan Suvarnabhumi Airport ini bener2 designnya modern punya deh!

Aku di sambut hujan deras, setelah diberi informasi oleh orang2 yang sengaja di siapkan untuk membantu pengunjung (karena baru dan besarnya airport ini), maka aku tahu bahwa untuk mencapai public transport kita harus naik free shuttle bus menuju stationnya sejauh 20 menit. Lalu sesuai dengan petunjuk aku naik bus 551 yang seharusnya berhenti di Victory Monument, namun setelah hampir 2 jam perjalanan menuju tengah kota, bus itu malah menepi di halte di jalan yang cukup gelap dan sepi untuk ukuran tengah kota. Seorang backpacker lain dari Swedia ikut turun bersama ku, alhasil kami bingung karena menurut pendengaran kami pak kondektur bilang kami harus ganti bus nomor 70 tapi ternyata yang dimaksud adalah 17 yang pengucapannya dalam bahasa Inggris adalah mirip.
Teman perjalanan ku turun di Siam Square daerah pusat perbelanjaan di Bangkok. Aku masih harus ganti bus no 15 untuk menuju daerah Kaosan Road daerah pusatnya backpacker berkumpul. Gerimis menyertai ketibaan ku di sana, dengan perut kosong dan lumayan kedinginan aku langsung menuju Kaosan Palace Hotel yang kudapat infonya melalui net. Hum... saking lamanya sampe lupa harganya..... kalo nga salah about THB 500. Hotel ini tidak mewah malah sangat susah mau dikatakan hotel, tapi memang kamarnya banyak.

Day 5
Kaosan Road, juga dikenal sebagai surganya backpacker. Kalau mau membayangkan persis dah sama Legian-nya Bali. Jalan ini tidak dibuka untuk kendaraan di sore hari. Yang ada disana hanyalah lautan manusia yang menikmati suasana hidup di sepanjang jalan itu. Di kiri kanan jalan penuh dengan bar-bar dan cafe, moneychanger, toko segala macam souvenir, foot massage, bookstore, cd bajakan, dannnnn makanan.......

Pagi ini cerah, aku putuskan untuk berkeliling ke temple2 yang sangat terkenal keberadaannya di Bangkok. Sebelum membuat kaki ku bekerja keras hari ini aku menanyakan beberapa informasi ke resepsionis. Dan yang sangat di tekankan olehnya ... (yg jg telah di peringatkan oleh seorang ibu2 penjual kelapa bakar di Phuket) " DON'T TRUST THAI MAN"

Dengan menggunakan tuk2 yang menawarkan THB 10 untuk keliling 4 temple aku akhirnya mencoba kendaraan khas Thailand itu. Satu lagi yang harus diwaspadai di Bangkok ini "JANGAN BERURUSAN DENGAN JEWELRY JIKA ANDA BUKAN AHLI" peringatan ini bahkan ada di box Tourist Information Centre. Ini dikarenakan banyak sekali penipuan berhubungan dengan perhiasan di kota besar ini apalagi terhadap single women traveller.
Find the Tourist Information Center to find the right information. Don't trust a thai man you find somewhere on the street. If you really need to ask, ask many people. And this message from the Information Center booth : DON'T TRUST IF SOMEONE TOLD YOU : TODAY IS A HOLIDAY AND PALACE AND MANY TOURIST ATTRACTION IS CLOSED UNTIL NOON. They will lead you to many other place (where they'll got a commission if you buy something there)
So, aku keliling berbagai tempat yang di kenal sebagai icon Bangkok sampe kaki ku lecet. Tapi asik juga sih...hehe....matahari masih mau menyertai perjalananku. Ada Golden Temple yang merupakan kuil tertinggi di Bangkok, sehingga kita bisa liat pemandangan kota Bangkok dari atapnya. Lalu ada Wat Po, sebuah kuil tertua di Bangkok yang dulunya merupakan pusat belajar raja2 Thailand. Di dalam kuil ini ada patung Budha Tidur yang sangat terkenal berwarna kuning emas hehe ..pokonya panjang banget.



Oh iya ada peringatan lain buat temen2.Dalam perjalanan pulang ada taman besar banget dengan merpati memenuhi jalanan. Karena menarik aku berhenti sebentar menonton kumpulan besar merpati itu jalan2 di trotoar yang ramai dengan penjual es, orang duduk2 di kursi taman, dsb. Tak lama datang seorang cowok Thai yang lumayan lusuh menawarkan sebungkus kecil biji2an jagung ama beras mungkin buat kasih makan merpati2 itu. Aku bilang tidak dan mulai melanjutkan perjalanan, dia masih mengikutiku dan memaksa memberikan sampe jatuh2 segala tuh biji2an. Alhasil dia minta duit untuk jagung2 itu. Dengan nada marah aku bilang NO! sambil trus berjalan.

Malam hari aku habiskan waktu menikmati Kaosan Road, keinginan hati sih mau lihat daerah Siam Square yang terkenal tapi gerimis mengurungkan niatku. Aku mencicipi Pad Thai (semacam kwetiau) dan sekali lagi aku jatuh cinta pada makanan Thai dengan acar cabe yagn gede2 n enak ini. Hummm .. lalu aku pesan minibus untuk ke airport di travel agent di Kaosan Road. Harga yg ditawarkan macam2 tapi harga termurah yagn aku dapat adalah THB 120 dari Kaosan ke Suvarnabhumi Airport.

Day 6
Dimulailah lagi kencanku dengan Airasia. Jam 4 pagi aku sudah bangun karena aku dijemput jam 5. Setelah menanti hampir 2 jam di airport akhirnya gate check-in penerbangan Bangkok - Malaysia dibuka, segera setelah check-in bagasi (walaupun kecil tapi uda nga kuat bawa :p) aku bayar international airport tax sebesar THB 500. Airport ini bener2 keren deh dalamnya, keren abis dah! Di pesawat kembali aku punya temen baru, anak Bangkok namanya Amy, penerbangan kali ini nga terlalu terasa lama karena kami banyak ngobrol tentang berbagai hal.
Sesampai di KLLCC (airport khusus AirAsia) aku melanjutkan perjalanan ke Surabaya, nah ini deh udah penyakit yang namanya penumpang dari Malaysia ke Indo yang rata2 orang Indo ini nga tau yang namanya "antri" aduhhh uda gate check-in penerbangan jurusan ini slalu kayak pasar, main serobot! Jadi harus balapan di sini yang nga punya malu slalu lebih menang.

Sukur akhirnya sore hari aku menginjak Surabaya dengan selamat.

Sunday, September 24, 2006

Amazing Thailand 1 - Phuket

Now everyone can fly... and today I'll fly to a beautiful and ethnic country ... Thailand.

Day 1 ( Airport Day )
Kali ini I'm going alone, karena pada susah mau nyocokin jadwal ama teman2 (tahun lalu maksudnya ) ;p So, jam 10 p.m aku dianter ma Pei ke Juanda, soalnya penerbangan ku di delay ampe jam 00.00. So, aku nunggu sekitar 1 jam di Juanda,stlh byr airport tax domestic (Rp 30.000,-) lalu terbang ke Cengkareng. Sampe sana, nunggu lagi ama tiduran di airport +- 2 jam. Setelah check in n bayar fiskal (Rp 1 juta ....grrrrr) n bayar airport tax internasional (Rp 100.000,-) tunggu lagi 2 jam .....grokkk...grokkk.... akirnya brangkat ke Kuala Lumpur. Sampe KL masuk di terminal KLLCC,terminalnya budget airlines. Tunggu lagi 2 jam, dengerin mp 3 ku n baca buku n makan McD. Akirnya brangkat ke Phuket, fieuh.....dikit banget isi pesawatnya. Aku bisa bobo pake 3 kursi ....nyenyak deh...

Day 2 ( Phuket )
Akirnya setelah sktr 2 jam perjalanan, aku tiba di Phuket. Di airport ini tersedia berbagai macam penawaran jasa travel untuk booking hotel/tour/car, dsb. Jangan tertipu dengan tulisan loket Pusat Infomasi Pariwisata Thailand Selatan karena ternyata ini juga hanyalah sama juga travel2 yang lain, malah lebih mahal lagi. Ada layanan minibus ke daerah Patong Beach seharga THB 150. Jadi kita langsung di antar ke hotel/tempat tujuan kita di daerah Patong yang berjarak sktr 45 menit dari airport. Sebagai first timer di negara ini akirnya aku putuskan booking hotel dari airport ini. Ternyata di jalanan di dekat airport banyak travel yang menawarkan harga hotel lebih rendah. Wah... ya uda ikhlas deh :( pengalaman emang mahal. Hahaha... Ternyata mudah sekali cari hotel di Patong Beach, karna sejauh mata memandang, bisa kita temukan hotel dari kelas melati ampe bintang 5.

Recomended Hotel : Aloha Villa @ Rat - U - Thit Road, Patong Beach - I'm staying here
The Nice Hotel - 205/14-15 Rat-U-Thit Rd, Patong Beach (THB 500)
(Ini 2 hotel yang aku masuk bener2 liat roomnya. Ada TV, air panas, balkon, double bed,lemari es) O ya, harga di atas berlaku pas low season.

Aloha letaknya lebih strategis, cuman 5 menit jalan kaki ke pantai. Yang Nice 10 menit lah. Tapi tak usah bingung masalah transportasi di Phuket bagi Anda yang biasa berkendara. Sepanjang mata memandang pula, bisa terlihat tulisan FOR RENT diatas spd motor or mobil dipinggir jalan.

Sambil mencicipi bbrp makanan yang menggiurkan di pinggiran jalan di sktr hotel, aku juga survery harga sewa motor. Untunglah hujan gerimis tidak terlalu mengganggu kegiatan explorasiku. Malam menjelang, lampu lampu bertebaran di kiri kanan BANGLA ROAD. Jalan itu ditutup untuk kendaraan dimalam hari, sebagai gantinya lautan manusia memenuhi jalan yang penuh dengan bar, diskotik, Kickboxing Gym, and segala macam toko. Pramusaji n ladyboys mempromosikan bar nya masing2 dalam bahasa Thai yang bersahut - sahutan. Alhasil Heineken pun laris kayak kacang goreng, itu kayak minuman kebangsaan disono kali ya. Yah disinilah pusat kehidupan malam di Phuket. Walau sarat dengan kehidupan malam, orang Thai sangat kental kehidupan beragamanya. Bahkan di depan bar - bar itu bisa ditemui tempat sembahyang yang sangat terawat. Tempat sembayang ini bisa ditemui hampir disemua sudut kota Phuket.

Setelah puas berkeliling, capek mulai menghajarku, maklum dari kemarin blum tidur dengan benar. So, aku balik ke hotel yang cuma bbrp meter dari Bangla Road n langsung menghilang dalam mimpi.

Day 3 (Beach Day)
Setelah re-charge batere kakiku, pagi2 jam 8 aku sudah kluar hotel. Cuaca mendung masih sama kayak kemarin. Hum... tapi tak lama aku sudah tau pola hujan disana yang aneh banget. Kalo hujan nga perlu bingung, karena nga akan lama turunnya. Kita tidak akan pernah bisa menebak kapan ujannya datang, karna hujan bisa sangat deras tapi menit kemudian panas datang.Begitu pula kalo lagi panas, menit berikutnya tiba2 hujan.

So, akirnya aku memutuskan sewa sepeda motor di dekat hotel. Aku memilih tempat persewaan yang cukup terlihat bisa dipercaya (orangnya punya toko disitu) karena kita harus meninggalkan passport ke dia sebagai jaminan. Sebagai gantinya kita dapat surat tanda trima. Aku dapat harga THB 200 soalnya bensinya masih lumayan full. Kalo nga ada bensinya bisa dapet THB 150. Ada pilihan automatic n manual motor di sana, tapi ... aku kan nga pernah naik yang automatic, so ...ya aku pake yang biasa aja. Bapak yang menyewakan motor cukup baik, aku di bonusi ama dia dibawain jas hujan plastik gitu, jadi krasa aman deh.

Berbekal petunjuk arah dari resepsionis hotel n juga beberapa peta wisata Phuket, akhirnya aku menuju ke Karon Beach dulu. Humm...udaranya dingin segar, sepanjang perjalanan kesana aku melalui tebing yang di kiri kanan nya pepohonan. Jadi inget lagu anak2, naik2 ke puncak gunung ....tinggi2 sekali ....hahaha.... Untung aku pake sweater deh. Papan petunjuk jalan di Phuket sangat tourist friendly, tidak perlu takut nyasar deh. Akirnya sekitar 15 menit aku sampe. Disana masih sepi, anginnya bener2 keras, ombak bergulung2. Santai n tenang,hanya terlihat beberapa orang berjalan di tepi pantai.

Dari Karon , pantai selanjutnya adalah Kata Beach, tapi bolak balik aku cari tuh pantai nga ketemu yang ketemu malah pecahan kecilnya yaitu Small Kata (Kata Noi). Tapi Small Kata ini sepertinya sudah tertutup untuk umum, yang boleh masuk hanya tamu hotel bintang 5 yang letaknya tepat di seberang pantai itu.

Aku lanjutkan perjalanan ke KATA View Point, ini tempat ke dua tertinggi di Phuket Island. Dari View Point ini bisa kita saksikan Patong, Karon dan Kata Beach. Di atas, aku rada sulit bernafas, selain karena pemandangannya, juga karena angin yang seakan mau menerbangkan kita.

Aku ingin berlama - lama di sana,tapi uda nga kuat kena anginnya jadi aku lanjutin perjalanan ke Promthep Cape. Sempat di hajar hujan deras selama 1 menit waktu aku menyempatkan mampir di Unknown Beach (lupa namanya) yang cukup keren, tapi masih bisa aku lihat sisa2 tsunami disana.Sampai di tempat tertinggi di Phuket ini, hujan 1 menit datang lagi,lalu panas menyengat menggantikannya dimenit berikutnya.Benar2 menakjubkan, kita lihat Phuket di kanan kita, kita lihat Samudra lepas di depan kita. Dan yang namanya angin, benar2 uda seperti mengajak kita terbang. Pijakan kakiku sempat goyah diterpanya. Di sini kita juga bisa temui banyak toko souvenir dan restaurant. Tatkala dulunya tempat ini di pergunakan oleh para marinir untuk mengawasi lautan karena merupakan tempat tertinggi di Phuket. Namun skrg dipergunakan sebagai tempat wisata, tempat terbaik melihat sunset.




Turun dari Cape itu, perut ku berteriak2 minta diisi. Aku berhenti di jalan menuju Phuket Town,di sebuah depot mie soup. Makanan Thai bener2 membuat lidah nga mau diam, mie kuah itu kaya akan rempah and sambal yang dihidangkan ada beberapa jenis yang nikmat banget pokoknya. slurpp.... Puas mengisi perut, lanjut aku ke Phuket Town. Kondisinya padat, n juga banyak debu karena sedang ada perbaikan jalan dimana2. Tak lama aku berputar-putar di kota itu, segera aku kembali meneruskan perjalanan ke arah utara, kulewati Kalim Beach yang tidak terlalu indah namun cukup besar. Lalu kutemukan Laem Sing Beach yang menurut buku panduan adalah pantai indah yang terpencil, namun pantai ini memerlukan sedikit tracking di jalan setapak yang menurun dan sedikit licin saat itu karena air hujan serta pengunjung di tarik biaya masuk serta biaya parkir kendaraan. Dengan berbagai pertimbangan akirnya aku memutuskan lanjut saja ke Surin Beach.

Nah, pantai terakhir ini yang paling sesuai dengan seleraku. Dari pintu masuk terlihat sekali bekas2 tsunami masih mengotori beberapa tempat khususnya di bagian ujung2 pantai. Tapi bagian tengah nya sudah cukup bersih dan ada beberapa tempat makan seafood disana. Kesan dai Surin ini santai, dan tidak seperti Patong yang sudah komersial (Bahkan kursi pantainya di tarip seharga kalo nga salah 100 THB). Ada beberapa bule asik berjemur (tidak sampai 5 menit yang lalu hujan sudah datang), aku juga memutuskan menikmati dan istirahat di pantai ini sambil membaca buku setelah menyusuri pantai itu dari ujung ke ujung sambil berharap-harap cemas akankah kusaksikan sunset di Thailand ini? Ternyata jawabannya adalah tidak. Semakin sore,sang awan kelabu kembali datang,lalu tak lama dalam perjalanan pulang hujan datang cukup deras. Dengan menggunakan jas hujan yang kubawa aku melanjutkan perjalanan plg ke hotel yang memakan waktu sekitar 1 jam karena cukup susah mengemudi dlm hujan deras dan di jalan yang basah serta berkelok2 dan naik turun.

Sehabis mandi dan hujan uda pergi jam uda menunjukkan jam 5 sore , aku keluar dan memulangkan motor yang uda menemaniku satu hari ini. Dengan kelaparan, aku memasuki sebuah area seafood centre di depan hotel ku. Wah.... aku nga pernah wisata kuliner tapi di sini rasanya pingin makannnnnn trussss. Aku pesan Tom Yum Seafood & Kerang BBQ disertai sambal rempah yang rasanya waaaahhhh crita aja uda buat aku kepingin lagi nih. Alhasil aku keluar dengan kekenyangan hehehe... setelah jalan2 di Bangla dan Patong, aku membeli makanan seperti rujak pencit dengan ikan teri dan kacang serta banyak cabe yang banyak dijual di pinggiran jalan. Makanan di Phuket ini tidak mahal, berkisar antara 20-50 ribu tergantung apa yang kita pesan yang penting puas. So, bagi kalian yang suka makanan pedas jangan terlewat mampir di Thailand dijamin nga rugi deh.

Day 4 (Phuket to Bangkok)
Waktu ku di Phuket tinggal setengah hari, kusempatkan diri mencoba mencicipi makanan di depot bernama Number 6 diseberang Aloha hotel yang selalu penuh dengan orang, khususnya turis bule. Untuk mengobati penasaranku, aku sarapan disana. Dengan 100 THB aku mendapat 1 paket roti toast 2 helai, 1 kopi/teh, 1 es jeruk, 2 ptg sosis, dan 1 omelete. Kenyang banget deh, sayang tidak ada yang istimewa dengan menu yang ini, mgkn bukan menu pilihan ya.

Ku habiskan waktu untuk bersantai di Patong sampai di jemput minibus ke airport dengan harga 200 THB yang kupesan dari hotel. Untung bagiku, sepertinya karena hanya aku penumpangnya aku di oper naik semacam sedan taxi gitu.
Akhirnya aku bertemu airport lagi, di airport yang ini Air Asia membagi check-in penumpang dengan bagasi dan yang tanpa bagasi so aku bisa langsung masuk tanpa antri.

Here I come Bangkok!